shalat jenazah di atas kuburan
shalat jenazah di atas kuburan

Bolehkah Shalat Jenazah di atas Kuburan?

Tema ini mungkin agak asing karena jarang terjadi seseorang shalat jenazah di atas kuburan. Namun, di sebagian tempat hal ini lazim dilakukan. Mereka yang tidak sempat shalat jenazah sebelum jasad dikebumikan, kemudian melakukannya setelah dikuburkan.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana hukumnya shalat jenazah di atas kuburan? Apakah disebut shalat ghaib atau shalat hadir? Kalau boleh, batasnya sampai kapan?

Syaikh Zakaria al Anshari dalam kitabnya Asnal Mathalib (1/322) menjelaskan, shalat janazah boleh dilakukan di atas kuburan seseorang (selain nabi), baik telah dishalatkan atau belum. Karena Nabi Muhammad pernah melakukan hal ini di atas kuburan seorang perempuan atau laki-laki yang rajin membersihkan masjid. Selain ini, beliau juga pernah shalat janazah di atas kuburan seorang perempuan miskin bernama Ummu Mahjan. Ia telah dimakamkan pada malam harinya. Hadis pertama diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sedang hadis yang kedua diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dengan sanad yang shahih.

Masih dalam kitab dan halaman yang sama, kecuali kalau yang meninggal adalah Nabi maka tidak boleh shalat janazah di atas kuburnya. Hujjah pendapat ini adalah hadis shahih Bukhari dan Muslim, “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid”. Alasan lainnya, sebab kita tidak termasuk orang-orang yang diwajibkan menshalati para Nabi.

Keterangan lebih lanjut ditulis oleh Syaikh Abu Bakar Syatha al Dimyathi dalam kitabnya I’anatu al Thalibin(1/133). Sah melakukan shalat janzah hadir (bukan shalat ghaib) meskipun telah lama dimakamkan, atau telah hancur jasadnya. Ini berlaku bagi selain Nabi. Kalau yang meninggal adalah seorang utusan Allah maka tidak boleh shalat janazah di atas kuburan mereka. Sebagaimana keterangan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Baca Juga:  Aturan Shaf Shalat Berjamaah yang Perlu Diperhatikan

Lanjutnya, sahnya shalat janazah di atas kuburan ini apabila yang bersangkutan termasuk orang yang layak dan memenuhi syarat untuk shalat janazah waktu mayit meninggalkan. Maka tidak sah seorang yang saat mayit meninggal masih non muslim dan masuk Islam setelah mayit dikebumikan. Demikian pula perempuan yang haid saat orang tersebut meninggal, belum baligh, atau mereka yang gila saat mayit meninggal dan sembuh setelah mayit tersebut dimandikan. Pendapat ini disampaikan oleh Imam Nawawi dan Imam Rafi’i.

Sampai disini telah jelas, shalat janazah di atas kuburan selain nabi hukumnya sah meskipun jasad orang yang meninggal telah hancur. Praktik ibadah seperti ini perlu terus dilestarikan. Disamping memberi manfaat kepada orang yang telah meninggal, juga sebagai pembelajaran generasi berikutnya sehingga praktek demikian tidak menjadi sesuatu yang aneh.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hari santri NKRI

Maulid Nabi, Hari Santri dan NKRI

Sederhana menjadi tanda khas kaum santri. Memakai sarung, songkok miring, dan sandal jepit. Busana yang …

toleransi sunnah nabi

Ulama Salaf Semangat Merayakan Maulid, Generasi Kini Semangat Berdebat Hujjah Maulid

Menurut pendapat yang masyhur, Rasulullah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal, Tahun Gajah. Bertepatan …