puasa 10 hari pertama bulan dzulhijjah
puasa sunnah

Menjelang Idul Adha, Puasa 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah, Apakah Ada Dalilnya?

Kadang masih saja ada yang bertanya legalitas dalil puasa 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Padahal ulama-ulama sedari dulu telah melakukannya dan menyatakan hukumnya adalah sunnah.

Perlu dipahami lebih dulu, penyebutan puasa 10 hari ini karena mengikuti istilah yang dipakai oleh al Qur’an (Al Fajr:2) yang menyebut sepuluh malam. Dalam beberapa kitab tafsir yang mu’tabarah, sepuluh malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.

Harus dipahami pula, penyebutan malam juga berarti dengan siangnya. Sehingga para ulama menyatakan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan luar biasa. Semua amal shaleh berbentuk apa saja yang dikerjakan pada hari-hari tersebut sangat dicintai oleh Allah dibandingkan hari-hari yang lain.

Khusus puasa sunnah, hanya sembilan hari saja, yakni dari tanggal satu sampai tanggal sembilan. Sebab, pada hari raya Idul Adha haram berpuasa.

Adakah dalil puasa sunnah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah?

Dalil Puasa 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Nabi bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal-amal shaleh lebih dicintai oleh Allah seperti sepuluh hari ini”. (HR. Turmudzi).

Yang dimaksud sepuluh hari pada hadis ini adalah “sepuluh malam” pada surat Al Fajr ayat 2. Dalam beberapa kitab tafsir, seperti dalam tafsir Ibnu Katsir, al Baghawi, al Wasith li Thanthawi, yang dimaksud adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.

Dari Ibnu Abbas dengan kualitas hadis marfu’, “Tidak ada hari-hari dimana amal shaleh lebih disukai oleh Allah pada hari itu dari pada hari-hari ini, yang dimaksud adalah sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Kemudian para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad, wahai Rasulullah”? Nabi menjawab, “Dan tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang laki-laki yang keluar membawa diri dan hartanya kemudia ia pulang dengan tidak membawa apa-apa”. (HR. Bukhari).

Baca Juga:  Fikih Gender (11) : Perempuan Menunaikan Ibadah Haji Tanpa Suami

Oleh karena itu, berdasarkan dua hadis di atas pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan untuk mengerjakan amal shaleh apapun bentuknya. Termasuk puasa sunnah.

Dengan demikian, dalil kesunnahan puasa 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah keumuman makna dua hadis di atas. Bahkan para ulama berani menyatakan bahwa dua hadis tersebut sebagai dalil puasa sunnah pada hari-hari tersebut.

Ibnu Hajar dalam Fathu al Bari menyatakan, hadis ini menjadi dalil keutamaan puasa sunnah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Inilah dalil keutamaan berpuasa sunnah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, rugi kalau kita tidak memanfaatkan momentum sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan berpuasa sunnah. Apalagi dimasa berlakunya PPKM Darurat seperti sekarang ini.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

menjaga kebersihan masjid

Anjuran Menjaga Kebersihan Masjid dan Memberinya Pengharum

Bukan suatu alasan dengan mengatakan terpenting adalah menjaga banyaknya jamaah di masjid sementara menjaga kebersihan …

surat yasin

Tafsir Yasin Ayat 7 (5): Hidayah adalah Hak Prerogatif Allah

“Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman”. (Yasin:7) Ayat ini, …