tafsir Dzulhijjah

Alhamdulillah wa syukru lillah, kita semua dipertemukan lagi oleh Allah pada bulan Dzulhijjah. Bulan Dzulhijjah merupakan bulan terakhir dalam penanggalan Islam dan pada bulan tersebut dilaksanakan ibadah Haji.

Sebagian umat Islam akan melaksanakan ibadah haji, meskipun pemerintah Arab Saudi membatasi jama’ah haji untuk tahun ini dikarenakan masih tinggi penularan COVID-19. Di sisi lain, ada banyak keutamaan-keutamaan yang bisa kita amalkan pada bulan dzulhijjah ini.

Pada tulisan ini akan mengidentifikasi tafsir al-Fajr ayat satu dan dua, serta keutamaan dan amalan yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah.

Dalam kitab Kanzu an-Najāḥ Wa as-Surūr yang dikarang oleh Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali (w. 1334 H). Kitab tersebut menyebutkan bahwa bulan Dzulhijjah adalah bulan suci yang dimuliakan. Pada bulan ini juga ada ibadah Haji, yang mana sebagai salah satu dari rukun Islam.  Kemudian bulan Dzulhijjah ini suatu bulan yang diagungkan larangan-larangannya — karena orang dahulu melarang perang pada bulan ini –, bulan yang banyak kebaikannya, serta di dalam bulan Dzulhijjah juga, hajat-hajat akan dikabulkan oleh Allah Swt.

Betapa agungnya bulan Dzulhijjah ini sampai-sampai Allah berfirman:

وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh,” (Q.S. al-Fajr: 1-2)

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud al-Fajr dengan al-‘Asyr. Analisis pertama Imam Jalaluddin as-Suyuṭi dalam kitab tafsir karangannya, ad-Durr al-Manṯur,menganggap al-Fajr di ayat tersebut merupakan fajar setiap hari (tidak ada yang berbeda dengan fajar-fajar bulan lain).

Analisis kedua, ia berpendapat yang dimaksud pada ayat diatas adalah fajar di hari pertama bulan Muharram. Karena darinya (setahun) itu memancarkan awal fajar atau permulaan tahun. Analisis yang ketiga, adalah fajar di hari Idul Adha. Karena di dalamnya umat Islam ada yang manasik haji dan ibadah-ibadah yang lain.

Kemudian ada pendapat dari mayoritas Ulama. Maksud ayat diatas adalah fajar hari pertama pada bulan Dzulhijjah. Karena Allah menyandingkannya dengan sepuluh malam.

Lalu pendapat terakhir yaitu takwil fajar di hari Arafah.

Pada ayat yang kedua, Analisis ringkas Imam as-Suyuṭi yang dimaksud dengan layālin ʿasyr (sepuluh malam) adalah ʿasyr dzu al-hijjah (sepuluh hari dzulhijjah). Dan ada pendapat lain yang dimaksud dengan layālin ʿasyr adalah sepuluh malam terakhir  bulan ramadhan. Dan dikatakan juga bahwa layālin ʿasyr merupakan sepuluh malam pertama dari bulan muharram.

Pendapat lagi dari Abu Utsman mengatakan: “Mereka (para ulama) mengutamakan sepuluh malam dari tiga berikut yaitu: sepuluh malam dari bulan dzulhijjah, sepuluh malam pertama dari bulan muharram, sepuluh terakhir bulan ramadan.” Al-Hafidz Muhammad bin Nasiruddin  ad-Dimasyqi as-Syafi’i menyebutkan di dalam risalahnya, tentang keutamaan-keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Dan pendapat pertama, adalah pendapat mayoritas ulama. Yaitu pendapat bahwa layālin ʿasyr itu sepuluh hari pertama Dzulhijjah . dan itu pendapat yg masyhur.

Kemudian ia menyebutkan rentetan hadits-hadits implikasi hal itu. Hingga beliau menyebutkan: wa al-aktsarūna ʿala anna al-fajra fajri yawma arafaẗ wa al-ʿasyra ʿasyru dzulḥijjaẗ (dan mayoritas ulama berpendapat bahwasanya al-fajr disini adalah fajar hari arafah, dan al-‘asyr adalah sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah).

Sebagai Umat Islam, kita harus memanfaatkan bulan Dzulhijjah ini dengan sebaik-baiknya. Ada riwayat dari Ibnu Abbas R.A. yang dapat membuat kita termotivasi atas kedatangan bulan berkah ini. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas R.A.: “Tidak ada hari yang lebih utama disisi Allah dan tidak juga amalan didalamnya yang disenangi oleh Allah daripada 10 hari Dzulhijjah ini. Maka perbanyaklah bacaan tahlil dan takbir didalamnya. Karena hari itu adalah hari tahlil, takbir dan dzikir kepada Allah SWT. Sesungguhnya puasa satu hari di dalamnya setara dengan puasa setahun , dan amalan didalamnya dilipat gandakan 700 kali lipat.

Pesan utama dalam tulisan ini adalah marilah kita jadikan bulan penuh rahmat ini sebagai sarana instropeksi diri dan momentum beribadah. Perbanyak bacaan tahlil, tahmid, dan takbir. Jangan lupa untuk selalu beramal saleh dan tidak menebarkan kebencian terhadap umat manusia yang lain.

Wallahu a’lam . . .