tafsir 10 dzulhijjah
tafsir al baqarah 8 10

Tafsir Surat Al Fajr Ayat 1-2 : Kemuliaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Seperti bulan Hijriah yang lain, bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan sendiri. Satu keistimewaan bulan kedua belas dalam kalender Hijriah ini yang paling tampak adalah ritual ibadah haji, ritual yang merupakan rukun Islam kelima sebagai penyempurna agama.

Keutamaan lainnya, seperti disebut oleh al Qur’an adalah sejak memasuki  sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Melakukan amal-amal shaleh pada hari-hari ini lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari yang lain. Oleh karena itu, dari tanggal 1 sampai tanggal 9 Dzulhijjah umat Islam dianjurkan untuk berpuasa sunnah.

Allah berfirman, “Demi waktu Subuh, dan sepuluh malam”. (Al Fajr: 1-2).

Dalam tafsir al Wasith li Thanthawi dijelaskan yang dimaksud sepuluh hari dalam ayat ini adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Demikian pula menurut Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan ulama-ulama ahli tafsir yang lain.

Imam al Baghawi dalam tafsirnya mengutip riwayat Ibnu Abbas menulis bahwa yang dimaksud sepuluh malam pada ayat di atas adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Imam Mujahid, Qatadah, Dhahhak, al Sadi, dan al Kalabi.

Penafsiran yang sama juga ditulis oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menurutnya yang dimaksud sepuluh malam pada ayat di atas seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan ulama-ulama salaf dan khalaf adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Penjelasan ini dikuatkan oleh satu hadist seperti dimuat dalam Shahih Bukhari.

Dari Ibnu Abbas dengan kulaitas hadis marfu’, “Tidak ada hari-hari dimana amal shaleh lebih disukai oleh Allah pada hari itu dari pada hari-hari ini, yang dimaksud adalah sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Kemudian para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad, wahai Rasulullah”? Nabi menjawab, “Dan tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang laki-laki yang keluar membawa diri dan hartanya kemudia ia pulang dengan tidak membawa apa-apa”. (HR. Bukhari).

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah: 183-187 (10) : Qadha’ Puasa Wajib Berturut-turut?

Hadis ini secara jelas memberitahukan keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan menganjurkan untuk mengerjakan amal-amal shaleh, apapun bentuknya. Terutama puasa sunnah selama sembilan hari dari tanggal 1 sampai tanggal 9, karena pada saat hari raya Idul Adha haram berpuasa.

Untuk itu, pada saat kondisi gawat karena Covid-19 semakin menjadi dan diberlakukan PPKM, alangkah baiknya kita selaku umat Islam memanfaatkan momen di rumah saja dengan puasa sunnah tersebut. Disamping merupakan amal shaleh juga karena secara medis terbukti puasa dapat menyehatkan tubuh.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha …

sullam al munajah

Fikih Nusantara (29): Kitab Sullam al Munajah Karya Sywikh Nawawi al Bantani

Pada bagian terdahulu telah dimuat satu karya Imam Nawawi al Bantani yang memiliki nama lengkap …