Di Balik Kealiman Imam Malik bin Anas

0
192

Siapa yang tidak kenal dengan Malik bin Anas? salah satu founding father imam Mazhab yang terkenal sampai saat ini. Kealimannya sangat menonjol di berbagai bidang keilmuan agama Islam. Dalam salah satu kitab Manaqib Imam Malik, diceritakan bahwa ulama kelahiran Madinah tahun 93 Hijriyah ini masih tergolong sebagai tabi’ut tabi’in, sedangkan ayahnya seorang tabi’in, yang setiap hari selalu membacakan hadits kepada keluarganya, termasuk Malik kecil. Hadits-hadits itu sebagai warisan dari kakek imam Malik yang semasa hidupnya pernah dekat dengan Khalifah Usman bin Affan. Dalam Tarikh at-Thabari diceritakan, kakek imam Malik ini yang membaringkan jenazah Usman di liang lahat.

Imam Malik, kecil dan dibesarkan oleh keluarga yang cinta dengan ilmu, ternyata membuatnya berkeputusan untuk serius dalam belajar. Hari-hari yang sebelumnya ia gunakan untuk bermain burung merpati, selanjutnya ia penuhi waktunya dengan belajar. Tiada hari tanpa belajar. Bahkan ketika hari raya pun ia tetap menggunakannya untuk belajar. Diceritakan pada suatu hari raya, ia bergegas melakukan shalat id yang dekat dengan Ibnu Shihab az-Zuhri. Selesai melaksanakan shalat, ia tidak pulang ke rumah, melainkan ikut pulang Ibnu Shihab dengan tujuan dapat mendengarkan beberapa hadits dari Ibnu Shihab. Sampai Malik berhasil menghafal sekaligus hadist-hadits dari Ibnu Shihab.

Namun ada sosok penting yang sangat berpengaruh dalam diri Imam Malik. Yaitu  Ibunda Imam Malik yang bernama Aliyah binti Syuraikh bin Abdirrahman bin Syuraik Al-Zadiyyah, dikenal sebagai perempuan yang terampil dalam dunia tarik suara dan memainkan alat musik. Ibundanya itu yang mengantarkan Malik pertama kali untuk menimba ilmu di Masjid Nabawi. Selain mendadani Malik dengan rapi dan wangi, pada saat itu ibunda Malik juga memilihkan guru yang tepat untuk anaknya.

Selanjutnya menjadi kebiasaan imam Malik berbusana rapi, dengan menggunakan pakaian yang indah, parfum yang wangi dan surban yang pada saat itu layaknya digunakan oleh para syaikh saja, tetapi Malik, atas ajaran ibundanya selalu menggunakan pakaian yang anggun sehingga membuat dirinya tampil sebagai seorang murid yang rupawan.

Sang ibunda mengantarkan Malik untuk berguru kepada Rabi’ah bin Abdirrahman, yang juga dikenal dengan Rabi’ah ar-Ra’yu. Seorang ulama Madinah yang sangat terkenal dengan kealimannya di bidang ijtihad hukum Fiqh. Wajar saja, kalau pertama kali yang dituju oleh ibundanya adalah Rabi’ah ini pada saat itu. Karena sejak awal, ibunda Malik selalu menganjurkannya agar belajar ilmu Fiqh, dan usulan itu disebabkan pada sebelumnya Malik yang berkeinginan agar menjadi penyanyi saja, yang lebih bisa menjanjikan keuntungan finansial. Namun sang ibunda melarangnya dengan mengatakan kalau profesi sebagai penyanyi diperlukan wajah tampan sedangkan menurut ibundanya, Malik tidak setampan itu sehingga tidak cocok jika menyanyi. Meskipun sebenarnya Malik adalah seorang yang tampan.

Dari berbagai dorongan itulah, membuat Malik ketika menginjak dewasa sudah merasakan nikmatnya mencari ilmu. Sehingga ia merasa tidak puas dengan ilmu-ilmu yang hanya didapatkan di beberapa halaqah yang ada di Masjid Nabawi. Lalu ia memutuskan untuk menimba ilmu dari para syaikh, bahkan ia rela harus berjalan kaki di bawah terik matahari untuk mendatangi rumah para syaikh guna belajar ilmu. Sampai beragam ilmu ia dapat kuasai di usianya yang masih muda.

Untuk memuluskan hajatnya itu, ia tidak segan mengisikan bajunya dengan kurma-kurma kering yang hendak menjadi hadiah untuk para pelayan syaikh yang berhasil mempertemukan dirinya dengan syaikh. Selain usahanya yang keras itu, Malik juga dikenal tabah menghadapi guru-gurunya yang terkadang mengajarinya dengan ketat. Namun usaha itu tidak sia-sia, yang kemudian dapat mengantarkan Imam Malik bin Anas memberikan warisan pemikiran intelektual kepada dunia yang kontribusi keilmuannya masih bisa dirasakan hingga saat ini.