berbicara sunnah
berbicara sunnah

Empat Kriteria Orang yang Berbicara Sunnah

Memahami Sunnah Nabi Muhammad Saw membutuhkan sebuah  ilmu yang dinamakan dengan ilmu hadis atau ilmu tentang kaidah-kaidah untuk memahami kondisi sanad dan matan hadis. Dengan ilmu hadis, seorang ulama atau da’i memahami status hadis apakah ditolak atau diterima sebagai dalil amaliah.

Sandaran hadis adalah Rasulullah saw sebagaimana orang yang sibuk dengan Sunnah dijuluki muhaddis. Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, profil fisik maupun akhlak Nabi Saw. Hadis bisa diartikan sinonim dengan Sunnah.

Kedudukan Sunnah adalah sangat mulia sebagaimana disebutkan bahwa akhlak Nabi adalah al-Qur’an. Jika sanad keilmuan Nabi bersambung kepada Allah melalui malaikat Jibril yang membawa al-Qur’an, maka Sunnah menyambungkan ilmu Nabi Muhammad Saw kepada umat. Jika sanad sebuah peradaban masyarakat muslim ditentukan oleh Akhlak umat, maka hubungan sanad itu adalah akhlak Nabi sendiri. Nabi bersabda; “Sungguh aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”.

Akhlak menentukan eksistensi sebuah bangsa. Kehebatan suatu bangsa tidak diukur dengan kehebatan nuklir, melainkan diukur dengan kemuliaan akhlak. Tidak heran jika Imam Nawawi menilai ilmu hadis sebagai salah satu wasilah paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Senada dengan hal ini, Imam Nawawi mensyarahi kitab “Shahih Muslim” dalam rangka menghidupkan tradisi hadis yang ketika itu mulai “mati” di masyarakat.

Disamping itu, Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Irsyad” menyebut ilmu hadis merupakan ilmu akhirat bukan ilmu dunia atau dalam istilah kontemporer merupakan ilmu agama bukan ilmu umum sebagaimana  pandangan dikotomik yang masih berlaku di Indonesia. Pandangan yang lebih kontekstual saat ini adalah pandangan Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din bahwa ilmu hanya ada dua; ilmu fardlu ain dan fardlu kifayah.

Imam Suyuti dalam kitabnya “Tadrib al-Rawi fi Taqrib al-Nawawi” menyampaikan pesan penting tentang kriteria orang yang berbicara Sunnah dengan mengutip perkataan Abu Nashr al-Husein bin Abd al-Wahid al-Syirazi bahwa orang alim adalah orang yang mengerti matan dan sanad “khabar” (berita) secara bersamaan, orang fakih mengerti matan dan tidak mengerti sanad, orang hafidz mengerti sanad tetapi tidak mengerti matan dan orang riwayat tidak mengerti matan dan sanad.

Orang fakih boleh meriwayatkan hadis dengan hanya menyampaikan subtansi (bil ma’na) tanpa menyesuaikan  redaksinya dengan dua syarat; pemahamannya akurat dan redaksi hadisnya bukan kategori hadis ritual atau bacaan-bacaan ibadah. Hal ini berbeda dengan orang alim yang memperhatikan keaslian pesan dua-duanya, baik lafadz maupun makna. Dalam memandang hadis, orang alim memastikan kebersihan sanad atau periwayat baik dalam hal keadilan dan daya ingat, maupun dalam hal kebersihan dari penyimpangan (syadz) dan kejanggalan (illat)-nya.

Seorang hafidz yang mengerti sanad dan tidak mengerti matan sulit membaca dan mengungkap adanya penyimpangan atau kejanggalan yang ada dalam riwayat. Dalam dunia akademik kontemporer, kritik matan menjadi penting seiring perkembangan logika dan sains seperti pembuktian loboratorium untuk lalat yang dalam hadis riwayat Abu Hurairah disebutkan satu sayapnya mengandung racun dan satu lainnya obat, diperkuat dengan perkembangan studi perbandingan. Benih-benih studi perbandingan sudah muncul paska fitnah (konflik politik) di masa sahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibn Sirin yang termaktub di Sunan al-Tirmidzi (Kitab al-Ilal:5/740); “Mereka di zaman awal Islam tidak menanyakan soal sanad, baru kemudian ketika terjadi fitnah, mereka menanyakannya agar mengambil hadis dari Ahlus Sunnah dan meninggalkan hadis dari Ahlul Bid’ah”.

Orang yang tidak memiliki ilmu hadis kemudian membaca hadis, berarti sekedar membaca hadis dan tidak menggolongkan hadis itu  sebagai ilmu. Demikian pula orang riwayat yang hanya membatasi ngajinya hanya dengan mendengar, meskipun belajar selama belasan tahun maka tidak bisa menjadi orang alim. Ini bertentangan dengan nasehat ulama Salaf bahwa semangat ulama adalah mempertaggungjawabkan pesan, sedangkan semangat orang bodoh adalah meriwayatkan pesan. Termasuk tidak dikategorikan orang alim adalah empat kriteria; orang yang mengajak kepada bid’ah, orang bodoh yang mengakui kebodohannya, orang yang berdusta dengan hadis nabi dan orang yang tidak mengerti haliyah (tingkah laku) periwayat.

Pentingnya menjadi orang alim tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad perihal kehadirannya di majelis Imam Syafi’i sampai-sampai meninggalkan majelis Imam Sufyan bin Uyainah (guru Imam Syafi’i). Spontan Imam Ahmad menjawab: “Diam saja kamu !. Sungguh jika dirimu kehilangan hadis yang ali (sanadnya tinggi) kamu masih bisa menemukan yang nazil (sanadnya rendah) dan ini tidak membahayakanmu. Tetapi jika kamu kehilangan nalar pemikiran pemuda ini (Imam Syafi’i) saya khawatir engkau tidak akan lagi menemukan gantinya”.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah …

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

escortescort