puasa perjalanan
perjalanan

Fikih Puasa untuk Milenial (4) : Perjalanan Sudah Enak Koq Buka Puasa, Emang Boleh?

Puasa berarti menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, ada beberapa orang dan kelompok yang akan keberatan dengan ibadah ini seperti orang sakit, musafir, orang tua dan lainnya. Islam adalah agama mudah yang tidak memberatkan hambanya menjalankan ajaran agamanya, termasuk ibadah puasa. Jika merasa berat, Islam memberikan keringanan atau rukhsah. Itulah indahnya Islam.

Keharusan menahan lapar dan haus pada umumnya akan memberatkan bagi para musafir atau orang yang menempuh perjalanan dalam jarak jauh yang membutuhkan tenaga berlebih. Jauhnya jarak dan sulitnya medan di perjalanan membuat seseorang sulit berkonsentrasi dalam kondisi lapar. Karena alasan inilah Allah memberi kemudahan bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan di bulan Ramadan.

Kemudahan ini secara eksplisit ditegaskan dalam al-Quran Allah berfirman, “Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS al-Baqarah: 184).

Nah, persoalan muncul bagaimana jika perjalanannya tidak seperti perjalanan masa lalu yang membutuhkan effort berlebih. Tidak harus naik unta dan kuda di tengah terik matahari. Sekarang perjalanan bisa melakukan transportasi tidak hanya cepat, tetapi nyaman.

Lalu, seorang musafir dengan berbuka dan berpuasa dihadapkan pada suatu pilihan? Pertanyaannya, mana yang paling utama ? Ketika Rasulullah dihadapkan pada dua pilihan, beliau akan memilih pilihan yang termudah di antara keduanya? Namun, mudah bukan berarti mengentengkan diri lo.

Perdebatan ini sejatinya, sudah menjadi perdebatan klasik para ulama yang terbagi dengan dalil yang juga sama-sama kuat. Pilihan berbuka dan tetap berpuasa sama-sama memiliki dasar yang kuat dengan madhzab yang berbeda-beda.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Faktor Kesengajaan Menjadi Tolok Ukur

Imam Syafii, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik tetap pada keutamaan berpuasa jika kondisi perjalanan tidak melelahkan dan mempersulit karena sejatinya rukhshah diberikan karena adanya kesulitan. Jika memang tidak kuat maka rukhshah harus segera dilakukan.

Berbeda dengan pendapat tersebut, Imam Ahmad bin Hanbal lebih utama memilih berbuka meski transportasi saat ini sudah lebih nyaman dan mudah. Kondisi itu tidak menggugurkan rukhshah yang diberikan oleh Allah. Alasannya karena rukhshah merupakan salah satu sedekah yang diberikan Allah kepada umatnya, maka tidak pantas bagi umatnya jika menolak sedekah yang diberikan oleh Allah.

Ibnu Taimiyah dalam kumpulan fatwanya mengatakan, “Boleh berbuka bagi musafir berdasarkan ijma ulama, baik dia mampu berpuasa maupun tidak; mengalami kesulitan dalam perjalanan mau pun tidak. Selama dia musafir, dia boleh berbuka puasa dan mengqashar shalat.”

Artinya, memang tergantung pada pilihan diri sendiri dengan dua pendapat tersebut mau memilih berbuka atau tetap melanjutkan puasa. Namun, ada pertimbangan menarik dari Syekh Yusuf Qadhawi. Sejatinya pilihan berbuka dalam perjalanan adalah pilihan utama karena bagian dari menjalankan keringanan. Namun, jika dikhawatirkan tidak akan membayar utang puasa karena berbagai kesibukan, pilihan melanjutkan puasa dengan kondisi perjalanan yang sudah nyaman seperti saat ini.

Memang, terkadang ketetapan agama bukan hanya ditentukan berdasarkan logika saja, karena rukhshah berbuka sebenarnya tidak dikaitkan dengan seberapa sulit perjalanan yang dilalui, namun seberapa jauh perjalanan yang ditempuh, yakni, kurang lebih 81 km. Jarak ini tentu akan berbeda antara orang apakah sudah merasa berat atau tidak. Tetapi, bagi musafir yang tidak memenuhi syarat tetap mendapat kewajiban untuk berpuasa, walaupun dalam kondisi yang sulit.

Baca Juga:  Mengenal Puasa Daud : Puasa Sunnah Paling Utama, Begini Tata Caranya

Namun, perlu diingat bahwa seorang yang sedang bepergian boleh tidak berpuasa, tetapi seseorang tetap harus berniat puasa lalu membatalkannya karena ia melakukan satu perjalanan dan menyebut dirinya sebagai musafir. Bukan malah meniatkan untuk tidak berpuasa sejak malam harinya karena menyadari hari esok ia akan melakukan perjalanan jauh. Selain meniatkan puasa, seseorang bisa disebut musafir jika dalam perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan yang mubah, bukan perjalanan untuk melakukan suatu kemaksiatan.

Meski diberikan keringanan untuk tidak berpuasa, namun musafir diwajibkan untuk membayar puasa sejumlah hari selama ia dalam perjalanan. Plus catat, jika memang dalam kondisi yang nyaman dan tidak terlalu sulit sebaiknya memilih puasa jika dikhawatirkan tidak bisa mengganti di lain hari.

Intinya, beragama adalah tentang hubunganmu dengan Yang Maha Suci. Dan dirimu yang menentukan mana yang terbaik untuk lebih intim bersama Tuhan.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

utang puasa

Usai Ramadan Masih Ada Utang Puasa, Jangan Tunda-tunda!

Bulan Ramadan memang telah usai. Bulan di mana seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa seharian penuh …

dakwah rasulullah

Pelajaran Ramadan dari Dakwah Rasulullah yang Selalu Memberikan Solusi

Ketika datang bulan Ramadan, Rasulullah memiliki kebiasaan berkumpul bersama jamaahnya di masjid Nabawi, kala itu, …