takut pahala hilang
takut pahala hilang

Fikih Puasa untuk Milenial (6) : Jangan Hanya Takut Batal, Takutlah Pahala Puasa Hilang!

Sabar dan menahan diri begitulah asyiknya puasa. Hari-hari biasa seperti tidak ada kontrol. Sedikit lapar dan haus, makanan dibabat habis. Seolah tanpa aturan. Nah, puasa tidak hanya ibadah, tetapi mengatur pola diri dan badan kita. Ada latihan bagi diri kita untuk menahan diri dari yang membatalkan puasa.

Sudah tahu kan apa saja yang membatalkan puasa? Yap, tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan badan dari terbitnya fajar hingga matahari terbenam itulah pantangan yang bisa membatalkan puasa. Begitu saja puasa?

Ingat! Itu yang membatalkan puasa, tetapi apa hanya cukup itu saja untuk mendapatkan pahala puasa? Terkadang kita puasa, tetapi hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Koq bisa? Inilah yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah :  “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga saja.” (Hadis riwayat Ath-Thabrani).

Bayangkan kita sudah menahan lapar dan minum, ternyata hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Rasanya sia-sia saja tanpa pahala puasa. Lalu, bagaimana agar kita tidak sekedar mendapatkan lapar dan haus saja?

Puasa tidak sebatas menjaga diri dari nafsu dan sahwat saja, namun juga menjaga diri agar tidak melakukan berbagai hal yang di benci Allah, baik yang dilakukan secara lisan, mata, telinga atau bagian tubuh lainnya. Sejatinya orang yang berpuasa hendaknya mampu memperhatikan kesempurnaan dalam puasanya. Karena jika tidak sempurna puasanya, dipastikan kita hanya mendapatkan rasa haus dan lapar saja.

Rasulullah bersabda, “lima hal ini membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadudomba, sumpah palsu, dan melihat dengan sahwat.” Bukan masalah makan dan minum yang dibahas Rasulullah, justru kelima tindakan tersebut berhubungan dengan makna sah itu sendiri, seperti terwujudnya puasa untuk membangun akhlak mulia seseorang yang berpuasa.

Baca Juga:  Dzikir Setelah Shalat, Pentingkah?

Imam al-Ghazali menjelaskan, kesempurnaan puasa yang akan didapat oleh orang yang berpuasa selain menahan diri mereka dari makan, minum, dan jima’ adalah juga dengan menahan seluruh anggota tubuh dari perkara-perkara yang dimurkai oleh Allah. Seperti memelihara pandangan, memelihara telinga, memelihara lidah, memelihara tangan dan kaki, serta memelihara perut dari perkara perkara yang dimurkai oleh Alla SWT.

Adapun cara-cara memelihara anggota badan dari perkara yang bisa mendatangkan murka Allah. dituturkan oleh Imam Al Ghazali dalam kitab yang berjudul Ihya’ Ulumuddin. Pertama, menjaga pandangan, dengan cara menundukkan pandangan terhadap perkara yang tercela dan menahan pandangan yang bisa menyibukkan hati sehingga melalaikan dari berzikir kepada Allah.

Kedua, menjaga Lisan.  Menahan diri dari dusta, ghibah, adu domba, ucapan kotor, perkataan yang tak berguna, dan perseteruan.

Ketiga, menjaga pendengaran. Mampu menahan dari perkara-perkara yang dicela ketika tanpa sengaja kita mendengarnya dengan cara pergi dan mengabaikan apa yang tak sengaja kita dengar.

Keempat, menahan anggota lain seperti tangan menahan untuk mengambil yang bukan haknya, kaki menahan untuk tidak melakukan hal yang yang jahat atau perkara yang diharamkan, perut harus terjaga dari makanan Syubuhat ketika berbuka, selain itu tidak berlebihan ketika berbuka sekalipun yang dimakan adalah makanan yang halal.

Dengan keterangan diatas jilas sudah bahwa berpuasa bukan hanya perkara menahan haus dan lapar saja, namun lebih kepada kemampuan umat untuk menahan diri dan anggota tubuhnya dari hal-hal yang tidak di sukai Allah.

Terakhir barangkali ini penting menjadi pelajaran bagi kita semua apa yang disabdakan Nabi :  “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Persoalan puasa memang menahan dari yang membatalkan. Namun itu tidak cukup! Menjaga dari yang merusak pahala puasa jauh lebih penting agar kita tidak sekedar mendapat lapar dan haus.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

utang puasa

Usai Ramadan Masih Ada Utang Puasa, Jangan Tunda-tunda!

Bulan Ramadan memang telah usai. Bulan di mana seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa seharian penuh …

dakwah rasulullah

Pelajaran Ramadan dari Dakwah Rasulullah yang Selalu Memberikan Solusi

Ketika datang bulan Ramadan, Rasulullah memiliki kebiasaan berkumpul bersama jamaahnya di masjid Nabawi, kala itu, …