Harmonisasi antar Agama di Abad Pertengahan Islam

0
1334
islam abad pertengahan

Di antara potret kehidupan harmonis antar umat beragama yang patut menjadi inspirasi dan layak dicontoh oleh masyarakat modern saat ini adalah Abad Pertengahan Islam. Abad ini dimulai sekitar 1250-1500 M, yaitu rentang waktu masa keemasan peradaban Islam ketika berada di bawah pemerintahan Abbasiyah (750-1258 M), Umayyah Andalusia (929-1031), dan Fathimiyah (909-1171). 

Pada masa itu, hubungan antar agama terjalin secara harmonis. Apabila dipelajari pola hubungan dan kerjasama antar iman ketika itu dapat dilihat dari tiga sektor.

Pertama, di tingkat birokrasi pemerintahan. Sejak pemerintahan Umayyah (661-750), misalnya, Syria merupakan provinsi yang mencerminkan masyarakat urban yang harmonis di mana anggota masyarakatnya terdiri dari berbagai pemeluk agama yang hidup berdampingan secara damai. Hubungan harmonis antar umat beragama tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di tingkat bawah, tetapi juga di kalangan elit pemerintahan.

Sekadar menyebutkan contoh, bahwa perdamaian tersebut terjadi pada masa pemerintahan kekhalifahan al-Makmun (antara tahun 816-818 M), seringkali mengundang pemuka agama dari kalangan Yahudi dan Kristen untuk berdiskusi tentang berbagai masalah yang dihadapi pemerintahan pada saat itu, tenaga administrasi pemerintahan memang tidak hanya berasal dari kalangan umat Islam.

Pada saat itu, banyak dari para sarjana non-muslim direkrut untuk menjadi pejabat birokrasi pemerintahan. Sementara di zaman pemerintahan Abbasiyah, beberapa generasi dari keluarga Kristen Bukthusi bahkan didaulat menjadi tenaga medis dan dokter istana.

Kedua, di tingkat akademisi dan intelektual. Persinggungan dan pergaulan secara terbuka antar sarjana dan tokoh intelektual dari berbagai agama di masa pertengahan peradaban Islam patut kita teladani, karena dalam masalah keilmuan, mereka dapat saling memberikan kontribusi. Misalnya, para advokat dan hakim dari kalangan Yahudi dan Muslim yang sedang menyelesaikan kasus peradilan tidak jarang menjalin kerjasama dan hubungan personal yang erat. Demikian pula halnya dengan dokter yang berasal dari kalangan Muslim, Kristen dan Yahudi, mereka sudah sangat terbiasa menangani masalah kesehatan dan mengobati pasien di rumah sakit umum (bimaristan).

Demikian juga di kalangan para filosof, kerjasama antar-iman dalam bidang filsafat sangat menonjol di masa itu. Ketika pemerintahan Sultan al-Malik al-Afdal di Kairo, terdapat seorang filosof dari kalangan Yahudi bernama Moses Maimonides, ia tidak hanya diberi kemuliaan untuk menjadi qadi al-Fadil (Hakim Agung) istana, akan tetapi juga dipuji oleh kalangan filosof dan para pujangga muslim.

Seorang filosof Muslim terkenal, al-Farabi (w.950), memperoleh training filsafat pertamanya dari seorang Nestorian bernama Yuhanna bin Haylan, yang di kemudian hari ia memiliki banyak murid yang bukan hanya berasal dari kalangan muslim saja.

Ketiga, di tingkat grassroots, masyarakat awam. Hubungan sosial masyarakat antara umat Yahudi, Kristen dan Islam di beberapa kota penting dalam sejarah peradaban Islam terjalin sangat erat dan hangat. Contohnya Baghdad, sebagai ibu kota di masa pemerintahan Abbasiyah, kota ini merupakan prototipe bagi kota urban-metropolitan yang menjunjung nilai egalitarian. Setiap orang memiliki rasa kecintaan dan kepemilikan (sense of belonging) yang tinggi terhadap kota ini. Mereka semua, meskipun berbeda-beda agamanya, dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan dan perawatan kota.

Tempat utama yang menjadi pusat persinggungan harmonis antar umat beragama pada waktu itu adalah di pasar, di mana kepentingan bisnis merupakan media petukaran dan persahabatan antar pemeluk agama. Tempat lain yang menjadi tempat paling kondusif untuk berkumpul dan bercengkrama bersama adalah hammam (tempat mandi publik). Tempat ini memang menjadi tempat favorit sejak zaman Romawi, masyarakat datang ke hammam bukan hanya untuk membersihkan badan namun juga untuk sosialisasi yang lebih akrab.

Selain faktor tersebut, terjadi pula kesetaraan antar individu. Strategi ini dianggap penting mengingat masyarakat yang sangat bervariasi latar belakang suku dan rasnya, maka dengan prinsip ini berubahlah pola pikir masyarakat, dari pola pikir yang simbolik menjadi pola pikir yang berwawasan ukhuwah Islamiah. Makna ukhwah Islamiyah pada masa ini juga mengalami perluasan makna yaitu persaudaraan tidak hanya kepada masyarakat muslim semata tetapi pada masyarakat non-muslim, hingga pada prinsip ini terciptalah egaliterian dalam masyarakat.