aswaja
aswaja

Hukum Bermadzhab bagi Umat Islam Saat Ini

Jargon “Kembali kepada al Qur’an dan al Hadits”  sebagaimana yang sering digembar gemborkan Salafi Wahabi hanya mampu membodohi orang-orang awam saja. Orang cerdas akan sadar bahwa jargon itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh kebanyakan umat Islam. Sebab, sekalipun al Qur’an dan al Hadits berbahasa Arab, karakter kedua dalil ini tdak sama dengan bahasa Arab yang ada sekarang. Ini dapat dibuktikan dengan terjadinya perbedaan pemahaman kata perkata dari al Qur’an maupun al Hadits.

Jika kita amati, jargon tersebut sesungguhnya ingin mengharamkan sistem bermadzhab. Menurut Salafi Wahabi, orang Islam saat ini lebih percaya kepada pendapat para imam dibanding al Qur’an dan al Hadits. Al Qanuji berkata: “mereka lebih mengunggulkan terhadap pendapatnya para imam dibanding firman Allah swt dan Rasul_Nya”[1].

Akan tetapi, apakah mungkin pada saat ini umat Islam tidak perlu bermadzhab dengan setiap amal perbuatan langsung dikembalikan kepada pemahaman al Qur’an dan al Hadits… ???

Pada muqaddimah kitab Ushul Fiqh, ketika membahas epistemologi Ushul Fiqh, Syaikh Abdul Wahab Khallaf menjelaskan, kira-kira pada abad ke 2 Hijriyah Islam memperluas wilayah kekuasaannya, orang-orang asing mulai masuk dan berbaur dengan bangsa Arab dengan membawa budaya masing-masing. Konsekwensi dari ini, bahasa Arab tidak lagi murni karena sudah bercampung dengan bahasa asing lainnya. Begitu juga karakter linguistiknya juga sudah mulai luntur satu persatu. Hal ini mengakibatkan para cendekiawan muslim saat itu harus berijtihad untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang tidak ada pada abad sebelumnya, yaitu masa Rasulullah saw dan para sahabat[2]. Maka dibentuklah rumus-rumus untuk membantu memahami teks-teks al Qur’an dan al Hadits yang tidak sama karakter bahasa Arabnya dengan bahasa Arab yang berlaku pada abad ke 2 itu.

Baca Juga:  Agama Tidak Memusuhi Akal Budi dan Kemajuan

Melihat dari apa yang dipaparkan oleh Syaikh Abdul Wahab Khallaf, maka tidak mungkin jika pada abad sekarang setiap orang  harus memahami al Qur’an dan al Hadits. Di samping karakter bahasa yang pastinya sudah jauh tidak sama, lebih-lebih dalam memahami al Qur’an dan al Hadits tidak cukup hanya dengan bisa mengartikan bahasa Arab saja, tetapi butuh bantuan ilmu-ilmu lain seperti asbabun nuzul, balaghah, mantik, ulumuttafsir dan sebagainya agar dapat memahami secara utuh. Tidak semua orang dapat dengan mudah memahami ilmu-ilmu tersebut. Hanya orang-orang yang benar-benar konsentrasi dengan serius belajar yang mampu memahaminya. Lalu, apakah tukang becak, pedagang sayur dan pekerja-pekerja keras lainnya masih mau dipaksa memahami al Qur’an dan al Hadits, sementara untuk makan keluarganya saja mereka begitu kesulitan ?

Sebab itu, ulama’-ulama’ tidak sepakat jika seluruh umat Islam harus merujuk kepada al Qur’an dan al Hadits dalam setiap amaliyahnya. Cukuplah bagi mereka yang mampu melakukan ijtihad karena kapasitas kemampuannya sangat tinggi dalam melakukan ijtihad. Sementara orang-orang awam cukup ittiba’ (ikut) hasil dari ijtihad ulama’ tersebut.

Ketika sayyid Ali Khawash ditanya tentang hukum bermadzhab, ia berkata:

يَجِبُ عَلَيْكَ التَّقْلِيْدُ بِمَذْهَبٍ صَادَمْتَ لَمْ تَصِلْ إِلَى الشُّهُوْدِ عَيْنُ الشَّرِيْعَةِ الْأُوْلَى خَوْفَ الْوُقُوْعِ فِي الضَّلَالِ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ اَلْيَوْمَ

Artinya: “Wajib kepadamu bertaqlid kepada satu madzhab, karena saat ini tidak ada yang sampai memahami dzat syariat yang pertama. hal itu dilakukan karena khawatir terjerumus kepada kesesatan. Itu yang dilakukan orang-orang pada saat ini” [3]

Pernyataan kewajiban ittiba’ atau bertaqlid kepada ulama’ sebagaimana yang ditegaskan sayyid Ali Khawash di atas bukan tanpa dalil. Kewajiban bertaqlid ini sudah diperintahkan oleh Allah swt dalam ayat 43 surat an Nahl:

Baca Juga:  Hadis Sebaik-Baik Manusia ala Didi Kempot

فَاسْأَلُوْا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Bertanyalah kepada yang ahli, jika kalian tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43)

Dari keterangan di atas, maka jelas bahwa hukum bertaqlid kepada para imam Madzhab sudah pada tingkatan wajib. Bahkan jika tidak bertaqlid ini yang bisa-bisa hukumnya haram.

Wallahu a’lam

[1] Muhammad Shiddiq al Qanuji, al Din al Khalish, Juz 1, Hal 140

[2] Abdul Wahab Khallaf, Ushul al Fiqh, Hal 15

[3] As Sya’roni, al Mizan al Kubro, Hal 36

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …

syirik

Syirik Menurut Aswaja Dan Wahabi (2) : Syirik Dan Penyebabnya Dalam Perspektif Wahabi

Secara umum, pemahaman syirik dalam perspektif Wahabi dengan Ahlussunnah wal Jama’ah sama. Begitu juga konsekwensi …