kaab bin malik

Hukuman Buat Kaab bin Malik yang Absen Berperang Tanpa Halangan

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahanam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.” ( Surat at-Taubah:81).

Dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam diceritakan bahwa perang Tabuk merupakan salah satu perang yang berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh. Kisah berikut disarikan dari keterangan kitab tersebut. 

Perang Tabuk diikuti oleh semua kaum muslim laki-laki kecuali mereka yang udzur dan benar-benar tidak bisa mengikutinya. Tercatat perang ini diikuti oleh 40.000 orang Muslim. 

Pada saat perang Tabuk, para umat muslim yang munafik memilih menolak ikut serta berperang bersama Rasulullah dan umat Islam lainnya. Mereka lebih memilih untuk tinggal di Madinah. Selain itu, mereka tidak suka berjuang dengan harta dan jiwa mereka demi menegakkan agama Allah. 

Karena keengganannya, merekapun mempengaruhi muslim lain agar juga tidak ikut berperang, mereka menjelaskan betapa sengsaranya berperang di musim panas. Dan Allahpun menurunkan wahyu dan berucap kepada Nabi Muhammad “Jika kalian mau berfikir, kalian tentu ingat bahwa api neraka jauh lebih panas dan lebih kejam dari apa yang kalian takuti sekarang.” 

Karena cuaca panas dan jarak yang begitu jauh, Rasulullah mempersiapkan pembekalannya dengan matang. Beliau tidak mau apabila umatnya merasa kelelahan sebelum berperang. 

Kaab bin Malik dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang terpercaya dan termasuk golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan selalu mengikuti perang bersama Nabi. Orang-orang tidak meragukan keimanannya. 

Baca Juga:  Cara Nabi Mengajarkan Metode Dakwah bagi Para Da’I

Sayangnya, pada perang Tabuk ini, Kaab bin Malik ketinggalan rombongan sebab keterlambatannya dalam menyiapkan perbekalan. Saat Kaab masih bingung dalam persiapan menuju medan perang Tabuk, ternyata Nabi dan sahabat lain sudah bergegas menuju medan peperangan. 

Setibanya di Tabuk, Rasulullah bertanya, “Saya tidak melihat Ka’ab. Ada apa dengannya?” 

Salah seorang sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, kebanggaannya kepada harta dan kesenangan hidupnya telah menyebabkan dia tertinggal di belakang.” 

Mu’adz membantah, “Tidak, perkataanmu tidak benar! Setahu kami dia benar-benar seorang mukmin.” Mendengar jawaban itu, Rasulullah hanya terdiam. 

Setibanya Rasulullah di Madinah, orang-orang yang tidak mengikuti perang datang ke rumah Nabi untuk mengemukakan alasan mereka tidak mengikuti peperangngan. Salah satunya adalah Kaab bin Malik. Iapun memilih untuk berkata jujur mengapa ia tidak mengikuti peperangan. 

Iapun berkata, “Tidak ada yang menghalangi saya untuk mengikuti perang. Saya rela mendapat hukuman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Daripada saya mendapat murka Allah atas alasan-alasan yang saya perbuat, lebih baik saya mendapat hukuman darimu.” 

Mendengar pengakuan yang tulus itu, Nabi menerimanya. Namun karena beliau tahu bahwa kesalahan yang diperbuat Kaab bin Malik adalah kesalahan yang besar, maka beliau memutuskan untuk menunggu jawaban dari Allah. 

Sebelum mendapat jawaban atas penyesalan Kaab bin Malik Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk tidak mengajak bicara Kaab bin Malik sebagai bentuk hukuman. Tertulis dalam sebuah riwayat, Kaab bin Malik berusaha bertingkah biasa, namun bagaimanapun ia merasakan tekanan yang berat saat diabaikan oleh sahabat-sahabat lainnya. 

Karena merasa tidak tahan dengan diamnya seluruh sahabatnyaa, iapun memberanikan diri untuk berkata kepada sahabatnya, “Tidak tahukah engkau bahwa aku ini sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya?” 

Baca Juga:  Kaum Perusak Agama Itu Nyata, Ini Indikatornya!

Sahabat itupun menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui tentang hal itu,” mendengar jawaban itu Kaab hanya bisa terdiam dan menangis. 

Tepat hari ke-40 utusan Rasulullah mendatangi Kaab dan menyampaikan pesan dari Rasul supaya Kaab meninggalkan Istrinya, namun bukan utuk diceraikan. Mendengar perintah tersebut, Kaabpun meminta istrinya untuk sementara ia pulang ke rumah orang tuanya sampai Kaab mendapatkan pengampunan dari Allah. 

Dengan ketaatannya kepada perintah Allah, maka di hari ke-50 tepat setelah menjalankan solat subuh Kaab mendapatkan berita gembira, ia mendengar suara yang keras seseorang memanggil, ”Wahai Ka’ab bin Malik, berbahagialah.” 

Betapa harunya ia dan langsung melakukan sujud syukur karena itu merupakan kabar bahwa ampunan Allah SWT telah tiba pada dirinya. Kala itu semua muslim termasuk Rasul sendiri juga memberikan selamat kepada kaab atas diterima taubatnya. 

Kemudian Rasulullah menyebutkan tiga ayat dari surat At Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119 yang menjelaskan tentang ampunan Allah untuknya. Maka dari itu Ka’ab tak henti-hentinya bersyukur bahagia dan betapa pentingnya kejujuran, keteguhan kepada Allah juga Rasulullah. 

Kejujuran memang sering berbuah pahit, namun dengan ketaatan dan rasa bersalah yang Kaab miliki, ia tetap menjalani hukumannya dengan sabar dan penuh ketaatan. Diamnya Rasul atas perbuatannya, telah membuat ia sadar, seberapa lemahnya keimanan yang mereka miliki. 

Bagaimana dengan kita yang tidak harus turun ke medan perang dan perkara paling beras sekarang adalah menjalankan sholat lima waktu saja sering kita tinggalkan. Berapa banyakkah perintah Allah yang telah lalai untuk kita laksanakan?  Padahal Allahpun telah menentukan hukuman yang memerlukan pengorbanan harta atas kelalaian kita terhadap perintah Allah.

Bagikan Artikel

About Eva Novavita

Avatar