Umar Bin Khattab

Inilah Pemimpin ! Belajar dari Kesederhanaan dan Tangisan Khalifah Umar

Umar Ibn Khatab merupakan sahabat terdekat Rasulullah yang memiliki tubuh kekar, watak yang keras, pemberani dan disiplin yang tinggi. Namun dengan sifatnya yang seperti itu, beliau juga dikenal dengan hatinya yang lembut. Dia sangat sangar dan berani di depan musuh, tetapi di depan Allah Umar adalah seorang penakut dengan murka Allah.

Itulah sikap Umar. Barangkali ketakutan Umar juga dilandasi oleh sabda Rasulullah, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di jalan Allah.” (HR Tirmidzi). 

Umar Ibn Khattab salah satu sabahat Rasulullah yang tak segan-segan meneteskan air matanya jika dirasanya telah melakukan kesalahan kepada Allah. Selain terkenal dengan perilakunya yang luhur, kesederhanaan Khilafah Umar sudah banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat Arab kala itu. 

Suatu hari, Hafs kawan dekat dari Umar menanyakan kepadanya, mengapa beliau tidak pernah mau makan bersamanya? Karena rasa penasarannya, Hafs memutuskan untuk datang bertamu ke rumah Umar tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Di situ Hafs mendapati sajian makanan yang setiap hari di makan oleh Khilafah Umar. 

Hafs terbelalak dengan sajian yang dimakan oleh keluarga Umar. Makanan yang sangat sederhana bahkan terlewat sederhana untuk sajian seorang pemimpin. Hafs pun menanyakan mengapa Umar melahap makanan tersebut, padahal ia bisa mendapatkan makanan yang jauh lebih mewah dibanding makanan yang sekarang didepannya. 

Umarpun menjawab perkataan dari kawannya “Kalau aku mau, aku dapat menikmati makanan terbaik dan pakaian terindah. Tetapi aku memilih untuk menyisakan kesenanganku untuk hari akhir kelak.” 

Ia bercerita, apa yang dilakukannya sekarang karena Ia mencontoh perilaku Rasulullah ketika hidupnya. Kala itu Umar Ibn Khatab meminta izin untuk menemui Rasulullah. Ketika ia berkunjung ke rumah Rasululah. Umar melihat Rasulullah sedang berbaring di atas tikar yang lusuh dan kasar. Sehingga ketika Rasulullah terbangun dari tikar tersebut, punggungnya membekas tekstur tikar usang yang telah ditidurinya. 

Baca Juga:  Jurus Jitu Dakwah Sunan Muria di Nusantara

Selain hanya beralaskan tikar, Rasulullahpun hanya menggunakan bantal dari pelepah kurma. Di hadapan Rasulullah, laki-laki yang dijuluki “Singa Padang Pasir” itupun tak tahan untuk tidak menumpahkan air matanya. 

Umar Ibn Khatab berfikir bahwa Nabi Muhammad yang merupakan kekasih Allah, yang memiliki kekayaan dan kedudukan tertinggi saja tidak mau memanjakan dirinya atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, padahal diluaran sana para pemimpin negeri hidup dikastil indah dan tempat tidurnya beralaskan sutera. 

Jika manusia menyegerakan kesenangannya di dunia, tanpa disadari kesenangannya akan cepat berakhir karena manusia tak memiliki umur yang abadi. Rasulullah merupakan manusia yang menangguhkan kesenangannya untuk hari akhir. 

Dunia dapat diibaratkan seperti seseorang yang sedang berteduh di bawah pohon yang rindang, yang nantinya akan ditinggalkan jika waktunya tepat.

Tangisan Umar merupakan tangisan yang lahir dari keimanan yang dilandasi tulusnya cinta kepada Rasulullah. Tangisnya mampu menjadi pelajaran bagi setiap umat yang beriman. Apabila manusia mengukur hidup ini dengan timbangan duniawi, maka terlalu banyak kenyataan hidup yang dapat menyesakkan dada kita.

Bagikan Artikel

About Eva Novavita

Avatar