Inspirasi Sukses Berbisnis dalam Islam

0
514
bisnis dalam islam

Dalam sejarah peradaban Islam, banyak ditemukan kisah-kisah sukses Nabi Muhammad Saw. beserta para sahabat dalam menjalankan niaga atau bisnis. Karena alasa inilah, tidak jarang menjadi semacam anjuran bagi umat Islam hingga era sekarang, bahwa untuk menjadi sukses, terutama dalam kehidupan duniawi, perlu menjalankan pula melalui bisnis.

Mencoba ikut arus pemikiran itu, tentu, tidak salah jika setiap orang, termasuk umat muslim untuk memilih bisnis sebagai salah satu pilihan profesi. Namun demikian, praktik bisnis sukses yang dipraktikkan oleh Nabi dan para sahabat memiliki banyak prinsip dan strategi, bukan semata-mata perkara untung rugi, tapi juga membawa misi keislaman.

Berikut ini beberapa prinsip Islam dalam menjalankan bisnis, yang dipraktikkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Pertama, tentang relasi atau jaringan bisnis. Nabi Muhammad Saw., yang mulai berdagang sejak berusia 12 tahun, layak menjadi teladan dan inspirasi.

Jaringan dagang Nabi Muhammad Saw. tak hanya di Mekah dan Madinah, tetapi juga Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya. Nabi Muhammad Saw. juga punya banyak sahabat yang merupakan pedagang dan pengusaha sukses.

Kedua, sikap dermawan. Dalam hal ini, adalah Abdurrahman bin Auf seorang pengusaha dari Mekah yang terkenal sangat dermawan. Dikisahkan, dia tercatat pernah menyumbangkan semua hartanya untuk kepentingan umat Islam. Dia pernah menyumbangkan emas sebanyak 5,9 kilogram, sebidang tanah, dan 700 ekor unta.

Abdurrahman bin Auf bahkan tidak meninggalkan apapun untuk keluarganya. Namun, berdagang memang telah menjadi keahliannya. Ketika memasuki suatu kawasan baru, dia sering menanyakan di mana letak pasar. Dia tahu pasar adalah tempat yang menjadi salah satu keahliannya.

Ketiga, komunikatif. Urwah Al Bariqi adalah salah satu pengusaha yang pandai berkomunikasi, membangun relasi dan negosiasi. Suatu kali dia mendapatkan kesempatan dari Nabi Muhammad Saw. untuk membeli kambing kurban seharga satu dinar.

Kemudian, dia kembali dengan membawa dua kambing. Dalam suatu riwayat, Urwah juga dikisahkan bisa menjual semua barang yang ada di tangannya. Bahkan, ketika tidak ada barang pun, dia bisa menjual segenggam debu.

Keempat, jujur. Dalam hal ini, pribadi Ustman bin Affan bisa menjadi role model. Ustman bin Affan adalah salah seorang dari Khulafaur Rasyidin yang menggantikan Umar bin Khattab. Selain dikenal sebagai pribadi yang shalih, lembut, dan dermawan, juga seorang yang jujur dalam berniaga. Dia bahkan sering membagi-bagikan hartanya untuk kesejahteraan umat Islam.

Beberapa prinsip keislaman yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat di atas jika ditinjau dari paradigma materialisme, mungkin dianggap rugi dan tidak menguntugkan. Prinsip kedermawanan, bahkan, menurut hukum materialisme, tidak memiliki korelasi langsung dengan kesuksesan seseorag dalam menjalankan bisnis.

Begitu pula prinsip kejujuran. Bagi sebagian orang, berniaga dengan cara tidak jujur, diasumsikan akan memperoleh keuntungan. Barang cacat, misalnya diklaim masih bagus dan layak dijual denga harga norma. Cara berbisnis seperti ini jelas salah dan bertentangan dengan ajaran Islam.

Sementara praktik kejujuran, seringkali diabaikan dan diremehkan manfaatnya. Padahal, ada banyak hikmah yang jauh lebih bermafaat memilih cara kebohongan atau perilaku curang. Artinya, kalau kita berniaga dengan cara jujur, seperti menjual barang dengan memberi informasi apa adanya, tidak ada yang ditutupi, maka pembeli, jika ia tidak cocok akan membeli atau pilih yang lain, dan jika ternyata cocok, ia akan siap menerima resiko.

Itulah keutamaan sukses berbisnis dengan cara islami.