ekonomi islam
ekonomi islam

Islam Ajarkan Cerdas Berekonomi

Suatu ketika, al-Hajjaj bertanya kepada seorang laki-laki Arab; “manakah keluargamu yang paling cerdas ?” dia pun menjawab; “orang yang memperbaiki (tata kelola) hartanya dan sederhana hidupnya”. Memperbaiki harta maksudnya menjaga dan mengembangkan harta dengan tata kelola dan belanja yang baik. Menurut Imam al-Ghazali, memperbaiki harta berarti mengelola atau memproduksi sesuatu seperti merubah biji-bijian menjadi serbuk sehingga menambah nilainya. Dalam konteks saat ini, harta bukan hanya aset dalam bentuk barang, bisa dalam bentuk digital bahkan sumber daya manusia yang bisa menghasilkan uang atau manfaat yang jauh lebih berharga dari sekedar materi  sebagaimana dikatakan bahwa pendidikan merupakan aset terbesar suatu bangsa.

Kata ekonomi yang dalam bahasa al-Qur’an disebut iqtishad mengandung arti pertengahan dan seimbang dalam segala urusan, termasuk pertengahan antara kikir dan boros. Dalam urusan ibadah, seimbang berarti tidak menggunakan air thaharah (bersuci) berlebihan sebagaimana Rasulullah Saw menghemat air ketika berwudlu dan mandi meskipun dengan air sungai yang mengalir.

Al-Qur’an telah menyampaikan prinsip-prinsip ekonomi dalam berinfak, beribadah, memberi nasehat bahkan dalam hal makan dan  minum yang dianjurkan tidak sampai kenyang atau dalam pemberian ta’zir (hukuman pendidikan) dengan memilih hukuman atau sanksi paling ringan asal bisa memberikan pelajaran dan menjerahkan.

Makna bahasa kata ekonomi ini tidak jauh dari makna istilahnya, terutama terkait penggunaan air, makan, minum dan infaq. Makna ekonomi atau iqtishad secara istilah tidak terkait langsung dengan sanksi dan ta’zir sebagaimana definisinya adalah prilaku manusia dalam menata sumber daya langka dan mengembangkannya untuk memenuhi kebutuhanMeskipun tidak berkaitan secara langsung dengan sanksi atau ta’zir, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan bagian dari sumber daya langka yang harus diberikan perhatian sebagaimana manusia menjadi bagian paling penting dari Maqoshid Syariah (tujuan-tujuan Syariah).

Pada prinsipnya, tidak ada pertentangan antara tujuan syariah dan tujuan ekonomi. Ketika Nabi Saw memberi nasehat kepada sahabat yang fakir dan kebingungan karena hampir kehabisan harta,   Nabi menyarankan agar sisa hartanya digunakan untuk membeli kapak sebagai alat mengumpulkan kayu dari hutan dan dijual ke pasar. Beberapa hari kemudian, sahabat tersebut menyampaikan ucapan terima kasih kepada Nabi karena bisa mencari nafkah lantaran nasehat  Nabi. Kecerdasan ekonomi dalam hal ini, Nabi tidak memberikan modal atau alat apapun sebagaimana peribahasa “berikan pancingnya, jangan beri ikannya”, melainkan memberikan nasehat atau ilmu ekonomi yang sesuai dengan keadaan sahabat dimaksud.

Dalam konteks saat ini, hutan sebagaimana sungai dan laut merupakan milik umum yang tidak boleh dikelola oleh pemerintah maupun individu agar tidak ada potensi penguasaan oleh pihak-pihak tertentu yang akhirnya justru merugikan rakyat dan negara. Sebagai upaya membatasi potensi atau kecenderungan serakah dari manusia, pemerintah harus melindungi kepemilikan umum dimaksud agar tidak bertentangan dengan prinsip pemerataan ekonomi kerakyatan yang secara otomatis menumbuhkan ekonomi negara. Kaidah agama bahwa dalam harta orang kaya ada hak orang miskin membawa konsekuensi bahwa sumber daya yang masuk proses produksi oleh pihak manapun seperti perhutanan, pertambangan, pertanian, perindustrian dan perdagangan harus mempertimbangkan feedback untuk orang-orang miskin sehingga harta tidak berputar di lingkaran orang-orang kaya.

Diantara cobaan agama seorang muslim, ketika individu atau negara semakin kuat dan semakin memenuhi faktor-faktor produksi maka cenderung lebih banyak memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber daya lepas yang menjadi milik umum. Sebaliknya, orang yang lemah sedikit mengambil manfaat, bahkan kehilangan kesempatan sama sekali. Islam mengajarkan penyaluran hasil kelola produksi sumber daya lepas kepada kaum fakir sebagai hak mereka sebagaimana dasar rasional pelaksanaan zakat. Ulama Fikih mengatakan bahwa orang-orang Fakir adalah sekutu. Allah Swt tidak menetapkan seluruh hasil produksi untuk orang-orang kaya dan kuat kecuali dalam prosentase kecil. Tentu ini semua berbeda dengan pandangan ekonomi positivistik yang tidak mengenal prinsip “pemilik adalah Allah”  sehingga tidak ada seorang pun, terutama orang fakir yang bisa dan akan menuntut haknya.

Namun demikian, orang fakir tidak boleh mengandalkan pemberian haknya oleh orang lain, apalagi bersikap malas untuk bertahan pada kefakirannya. Islam mengajarkan rusydu yang diartikan oleh mayoritas ahli ushul dan fikih dengan kelayakan harta (taraf hidup). Al-Qur’an mengajarkan umat Islam bisa mendidik anak  agar rusydu tidak sebaliknya; menghambur-hamburkan harta. Jika kelak menjadi orang kaya, bisa bertanggung jawab mengelola dan mendistribusikan aset dengan baik, baik untuk keperluan pribadi, keluarga serta modal produksi hingga zakat hasil produksinya. Tetapi jika nasibnya menjadi  orang fakir, anak tersebut mampu membuat skala prioritas kebutuhan-kebutuhannya. Dengan kata lain, sang anak memiliki kesadaran bahwa dunia ini merupakan rumah kelangkaan dan akhirat rumah ketersediaan. Di Surga semua aset sifatnya bebas dan bisa didapatkan dengan tanpa lelah. Keterbatasan di dunia ini mengkondisikan setiap orang saling berebut sehingga yang kuat dapat banyak, sebaliknya yang lemah dapat sedikit. Namun demikian, orang kaya dan miskin sama-sama diuji bagaimana dia bersikap.

Aset bisa dikembangkan dengan kerja cerdas yang mengandalkan energi otak, kerja keras yang mengandalkan energi otot, juga bisa dengan pengembangan kuantitas atau kualitas. Pihak yang kuat bisa menambah aset kuantitasnya dengan menambah keturunan, atau  kualitasnya dengan meningkatkan pendidikan, atau dengan menambah sarana secara kuantitas sekaligus kualitas dengan penelitian sehingga apa yang tersembunyi di bumi bisa digali dan dimanfaatkan.

Cerdas berekonomi membutuhkan cara yang tidak selalu dalam mendapatkan sesuatu atau manfaat yang lebih sebagaimana kalkulasi ekonomi; biaya kecil hasil maksimal. Jika ulama ushul fikih mengatakan teks terbatas dan realitas tidak terbatas, maka pakar ekonomi menyatakan sumber daya terbatas dan kebutuhan tidak terbatas. Sumber daya bisa dikembangkan dan kebutuhan bisa dibatasi. Kenyataan hidup yang begitu keras, terlebih di masa pandemi yang belum berakhir, mendorong agar setiap orang meningkatkan kecerdasannya dalam berekonomi sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw di tengah masyarakatnya yang arogan, primitif, mundur dan terbelakang.

 

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah …

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

escortescort