Jangan Putus Asa
Jangan Putus Asa

Jangan Putus Asa, Belajarlah pada Burung dan Sapi Liar

Banyak manusia yang mengeluhkan tentang kondisi ekonomi yang mereka rasakan dalam lingkungan keluarganya. Sebagian merasa sedih dan merasa kecewa dengan apa yang menimpa diri mereka. Apalagi akibat pandemi covid 19 membuat sebagian orang kehilangan pekerjaan dan tidak mampu lagi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi yang mendera mereka.

Ekspresi kekecewaan sarat dengan prasangka buruk kepada sesama dan juga amarah yang terkadang tidak tepat sasaran. Perasaan manusia akan terasa memang lebih kuat ketika mereka berada di posisi sebagai objek yang menderita. 

Karena sikap dasar manusia inilah yang membuat Nabi Isa selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu belajar kepada burung dan sapi liar yang tetap dapat hidup meskipun mereka tidak tahu cara bercocok tanam. 

Nabi Isa bersabda, “Wahai anak cucu Adam, ambillah pelajaran rezekimu dengan burung di langit. Mereka tidak pernah menanam dan menuai (memanen). Tuhan langitlah yang memberikan mereka rezeki. Jika kau (anak cucu Adam) beralasan: ‘Mereka (burung) memiliki sayap.’ Maka ambillah pelajaran dari keledai dan sapi liar, (lihatlah) betapa gemuknya mereka, betapa banyaknya makan mereka dan betapa gempalnya tubuh mereka” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi). 

Semua binatang yang disebutkan Nabi Isa di atas sama sekali tidak memiliki keistimewaan dalam bercocok tanam untuk mengolah makanan untuk mereka makan. Namun badan mereka tetap gemuk dan gempal hanya dengan berjalan mencari rejeki yang didapat dari Allah. 

Lalu mengapa manusia yang diberikan akal dan kemampuan merasa lumpuh dan selalu putus asa. Banyak anak muda yang kuat dan memiliki energi cukup hanya berpangku tangan menerima nasib dan menyesali kejamnya hidup. Mereka hanya terus mengeluhkan akan rejekinya yang terus dirasanya kurang.

Baca Juga:  Membaca Kisah Yakjuj dan Makjuj di Balik Narasi Akhir Zaman

Nasihat Nabi Isa memang tidak tentang larangan mengeluhkan untuk manusia, namun tentang bagaimana cara bertahan hidup secara mental dan jiwa spiritualnya. Manusia tetap harus bersandar kepada Allah, tapi manusia juga harus memiliki karakter yang kuat dan tidak mudah berputus asa dalam mencari rejeki yang dapat membuatnya bertahan hidup.

Burung hanya memiliki sayap dan paruh untuk memakan biji-bijian, sama sekali tidak ada tangan apalagi kemampuan untuk menanam. Sapi dan keledai liar berbadan gempal meski mereka mencari makanan dengan cara berjalan menyusuri tempat yang banyak terdapat rumput untuknya makan.

Dengan pesan itu, Nabi Isa mengajarkan kita akan cara pandang yang baik dan wawasan yang luas. Dengan cara itu manusia dapat menemukan berbagai pelajaran dari setiap peristiwa hidup yang pernah dialaminya.

Perasaan kurang akan rejeki yang bersumber dari Allah inilah yang nantinya akan mampu untuk memantik kekufuran, kemarahan dan keputus-asaan manusia. Padahal jika kita dapat melihat lebih jauh, bukan Allah yang tidak mau memberikan kita rejeki, namun kita saja yang tidak mampu menyadari dan mengolah rejaki yang sudah disediakan untuk kita. 

Sayyidina Luqman al-Hakim pernah berkata: “Sesungguhnya emas ditempa dengan api, dan orang beriman ditempa (diuji) dengan kesusahan (musibah).” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi). 

Pesan ini menunjukkan bahwa setiap manusia hendaknya mampu berkembang meski telah diuji dengan kesusahan yang cukup berat. Semakin kita mendapatkan ujian, percayalah Allah sedang menguji kita agar menjadi pribadi yang kuat. Dengan tempaan dan ujian diharapkan manusia dapat menyikapi masalah dengan jiwa besar dan penuh kesabaran, dengan tempaan dan ujian harusnya manusia semakin menjadi kuat seperti emas yang ditempa dengan api.

Bagikan Artikel

About Dodik Triyanto

Avatar