Jihad Cinta
Jihad Cinta

Perasaan suka dan ingin memiliki kepada lawan jenis merupakan hal yang tergolong lumrah dirasakan oleh semua manusia. Meskipun demikian, bagi seorang muslim harus mengetahui ada beberapa kaidah yang mesti diperhatikan dalam mengekspresikan cinta.

Serang muslim yang mampu mengabaikan kaidah agama yang tertanam pada dirinya, maka kelalaian ini akan mampu mengarahkan dirinya kepada hal yang mengandung maksiat. Dalam agama Islam, telah diatur, siapa umat yang sudah memenuhi kriteria dalam sebuah pernikahan. 

Apabila ada laki-laki dan perempuan yang sedang mencintai lawan jenisnya, namun dia menyadari bahwa belum waktunya dia untuk menikah, maka Rasulullah menganjurkan supaya mereka memendam sementara perasaannya. Bahkan jika sampai meninggal, orang itu dikategorikan sebagai mati syahid.

Al-Imam al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi,

مَنْ عَشِقَ فَعَفَّ فَكَتَمَ فَمَاتَ مَاتَ شَهِيدًا

Artinya: “Orang yang merindu, namun mengekang diri dan menyembunyikan rasa cinta dan rindunya, itu tergolong sebagai mati syahid.”

Hadist di atas menjelaskan tentang makna sebuah pengorbanan atas nama cinta. Mereka yang mengekang diri dari bermaksiat dan mengumbar rasa cinta kepada lawan jenis adalah lebih baik apabila belum sanggup menikah. 

Tentu perasaan cinta akan menjadi beban batin bagi seseorang. Tetapi, beban itu justru menjadi ujian bagi dia dalam bersabar. Sehingga apabila sampai meninggal, maka Imam Al Baghdadi menyebutnya sebagai syahid.

Mati dalam keadaan syahid banyak diartikan untuk mereka-mereka yang meninggal dalam peperangan. Namun jihad yang sebenar-benarnya adalah berjuang. Bukan hanya berjuang dalam pertempuran, namum berjuang melawan nafsu diri juga termasuk dalam jihad.

Makna dari jihad itu sendiri adalah kepayahan, bertahan dalam kesusahan, atau bersungguh-sungguh. Beberapa jihad yang banyak kita temui tapi tidak banyak kita sadari bahwa kita sedang berjihad, seorang murid yang sedang  menuntut ilmu, manusia yang mampu bertahan di situasi kemiskinan, bahkan manusia yang mampu menahan diri karena rasa cintanya terhadap lawan jenis juga termasuk jihad.

Memendam perasaan kepada lawan jenis akan lebih baik di lakukan ketika diri merasa belum mampu untuk menikahinya. Meski berat yang akan dirasa dan semakin lama akan semakin tersiksa, namun perlu diingat tentang kesungguhan hati dalam menjaga kesucian diri akan lebih baik dirasa. Karena mencintai dalam sepi, tersiksa karena rindu, juga membutuhkan nyali.