batasan mampu kurban

Tradisi yang berlangsung saat penyembilahan hewan kurban, baik di Nusantara maupun negara-negara dibelahan dunia, penyembelihan hewan kurban dilakukan oleh kaum Adam. Jarang, bahkan hampir tidak dijumpai sama sekali wanita bertindak sebagai tukang jagal.

Melihat fenomena ini, terbersit pertanyaan apakah wanita memang tidak diperbolehkan menyembelih hewan kurban atau karena memandang bahwa pekerjaan ini lebih cocok dikerjakan laki-laki?

Dari Sa’ad bin Mu’adz, ia berkata, “Sesungguhnya budak wanita Ka’ab bin Malik menggembalakan kambingnya di daerah Sal’u. Tiba-tiba dia melihat ada kambinya yang akan mati, kemudian dia menyembelihnya dengan batu. Nabi ditanya tentang hal itu, Nabi menjawab, “Makanlah kambing tersebut”. (HR. Bukhari)

Berdasar pada hadis ini, ulama ahli fikih kemudian membangun pendapat masing-masing tentang hukum sembelihan wanita.

Al Mawardi, ulama kalangan madhab Syafi’i, dalam karyanya Al Hawi al Kabir menulis, hukum sembelihan wanita adalah boleh dan tidak makruh sebagaima laki-laki.

Pendapat senada disampaikan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya al Majmu’Syarh al Muhaddzab menyatakan, ulama sepakat akan kebolehan wanita menyembelih hewan.

Menurut Ibnu Qudamah, ulama ahli fikih madhab Hanbali dalam kitabnya al Mughni mengutip pendapat Ibnu Mundzir, kalangan cendekiawan dan ahli fikih bersepakat atas bolehnya sembelihan wanita dan anak-anak. Dengan catatan tidak takut melihat darah, ngeri atau jijik karena khawatir rusaknya proses sembelihan.

Muhammad bin Hasan al Syaibani, murid Imam Abu Hanifah dalam al Syarhu al Kabir menulis, menurut Abu Hanifah sembelihan wanita hukumnya halal. Bahkan wanita Nasrani dan Yahudi sekalipun.

Dengan demikian, seluruh ulama lintas madhab seluruhnya sepakat akan kebolehan atau kehalalan sembelihan wanita. Oleh karena itu, no problem wanita jadi tukang jagal hewan kurban.