John L. Esposito dikenal sebagai akademisi beragama Katolik yang menjadi “juru bicara” tentang Islam paling otoritatif di Barat. Buku The Future of Islam (2010) karyanya merefleksikan situasi mutaakhir  tentang stereotipe dan perkembangan Islam terutama di Barat pasca tragedi WTC 11 September 2001.

Buku itu, diakui oleh Esposito sebagai puncak karyanya mengenai Islam dan politik muslim. Esposito berupaya menghapuskan stereotipe negatif terhadap Islam. Dia melukiskan gambaran kompleks tentang Islam dalam segala kemajemukannya.

Dalam analisisnya, Esposito memasukkan banyak unsur berdasarkan pengalamannya selama beberapa dekade, yang dimulai saat Islam relatif belum terlihat dalam peta kognitif dan demografis Barat.

Banyak kalangan bingung memahami Islam dan muslim. Pemimpin kaum muslim mengatakan bahwa Islam adalah agama damai dan adil, namun kelompok teroris muslim secara global, dalam banyak kasus membantai non-muslim maupun muslim.

Esposito menolak stereotip negatif berupa teroris kepada kalangan muslim, sebab itu erat hubungannya dengan banyak kepentingan global. Esposito menghendaki tindakan terosis itu tidak dihubungkan dengan agama tertentu, apalagi Islam, tetapi murni sebagai tindakan kriminal yang melanggar hukum kemanusiaan.

Menurut Esposito, andai sekelompok Yahudi atau Kristen bertanggungjawab atas pengeboman gedung WTC, hanya sedikit orang yang akan mengaitkannya dengan keyakinan Yahudi atau Kristen. Pembunuhan PM Israel Yitzak Rabin oleh seorang fundamentalis Yahudi tidak lantas dikaitkan dengan sesuatu di dalam agama Yahudi; tidak pula skandal pelecehan seks pendeta diatributkan ke jantung Katolikisme. Kejahatan paling keji yang dilakukan ekstremis Yahudi atau Kristen tidak dilabeli sebagai cerminan Kristen atau Yahudi militan, radikal, hingga mengarah pada label teroris.

Esposito menambahkan, bahwa Individu yang melakukan kejahatan itu sering disangkal dan dianggap fanatik, ekstremis, atau orang gila ketimbang dicap sebagai fundamentalis Kristen atau Yahudi. Sebaliknya, terlalu sering pernyataan dan tindakan ekstremis dan teroris muslim digambarkan sebagai bagian integral dari Islam. “Bukan berarti saya mengatakan kaum muslim tidak melakukan tindakan kekerasan yang menyakitkan, melainkan saya mempertanyakan pelekatan dan penyamaan tindakan itu dengan keyakinan mayoritas muslim” tulis Esposito.

Islam yang ditampilkan oleh kelompok teroris adalah satu wajah di antara banyak wajah lain yang mempunyai sikap moderat dan toleran. Masyarakat dunia, dan khususnya Barat, harus menyadari realitas ini agar tidak memandang Islam hanya berdasarkan pengamatan sepihak, dari kelompok ekstrimis-radikal teroris.

Agama, di hadapan para teroris dan pelaku kekerasan, bisa menjadi malapetaka bagi orang lain. Misi perdamaian agama tergantikan oleh teror kebencian. Agama, justru menjadi yang oleh Charles Kimball dalam When Religion Becomes Evil, berubah menjadi bencana jika lima sebab berikut menimpa umatnya, yakni klaim kebenaran mutlak (truth claim), ketundukan buta, ingin mengembalikan masa kejayaan/keemasan, membenarkan segala cara, dan menyatakan perang suci.

Esposito juga mengungkapkan perihal tradisi pembaruan yang ditegakkan masyarakat muslim terdahulu dan berlanjut hingga hari ini, sering tersamarkan oleh para ulama garis keras dan teroris yang mendapat liputan tidak proporsional. Hal ini bisa diamati pada beberapa kasus tertentu yang menimbulkan kontroversi, seperti bagaimana Islam menilai tragedi bom bunuh diri.

Syaikh Ahmad Yasin, pendiri Hamas Pelestina dan Mufti Besar Jerussalem, berpendapat bahwa bom bunuh diri perlu dan dibenarkan untuk melawan pendudukan illegal Israel serta kekuatan militernya yang besar. Demikian pula, meskipun Yusuf Qardhawi mengutuk tindakan terorisme dan bom bunuh diri, pada 1995, dia salah satu ulama pertama yang mengeluarkan fatwa membenarkan serangan seperti itu di Israel. Bagi Qardhawi orang Israel bukanlah warga sipil, melainkan peserta perang pendudukan yang dilancarkan terhadap rakyat Palestina. Kontras sekali dengan kedua pendapat ini, Abdulaziz al-Syaikh, Mufti Besar Arab Saudi, mengutuk semua pengeboman bunuh diri tanpa kecuali, sebagai yang tidak Islami dan terlarang dalam Islam.

Esposito mengajak kita untuk melihat kasus terorisme dari berbagai perspektif agar pemahaman tentangnya juga utuh. Di sinilah, benar apa yang diungkap John Horgan dalam The Psychology of Terrorism (2005), tentang drama peristiwa teror bom. Menurutnya, drama peristiwa dapat sedemikian dahsyat sehingga kita berubah dari penonton menjadi pelibat aktif di dalamnya (personalization of event). Horgan mengingatkan agar jangan berhenti pada drama tragedi. Kita perlu beranjak dari drama tragedi ke uraian sistematis untuk memahami terorisme sekaligus mengatasinya.