anak mengaji
anak mengaji (doc pacwiradesa)

Kenangan Kampung, Ibu dan Sedekah Malam Jumat

Hari itu menjelang malam, ketika shalawat di masjid mulai menggema menjemput waktu maghrib. Aktifitas bermain anak-anak serentak berhenti menuju kamar mandi untuk bersesuci. Dengan sedikit rasa malas dan berat hati, sarung diangkat, peci dipakai dan bersiaplah mengaji.

Di kampung aktifitas pendidikan keagamaan memang selalu tersaji setiap waktu. Tidak hanya siang hari menimba pendidikan di madrasah diniyah, sore hingga malam pun harus pergi ke surau untuk mengaji. Bahkan di pagi hari, setelah shalat subuh dengan mata terkantuk kembali mengasah lisan dengan bacaan al-Quran. Betapa asahan ilmu agama dan aktifitas relijius sangat terasa dan ditempa setiap waktu sebagai bagian dari rutinitas anak kampung.

Sore itu tidak seperti biasanya. Sebelum berangkat ke surau ibu memanggil dan menitipkan sesuatu. Ah ternyata ini malam Jumat. Panggilan itu seperti mengingatkan jika hari itu adalah malam Jumat. Setiap malam Jumat Ibu selalu menitipkan satu paket makanan ringan yang cukup untuk 20 hingga 30 anak yang mengaji. Seingat Saya, itu tidak pernah gugur sebagai amalan Ibu di malam Jumat.

Jangan dipikir itu makanan yang mewah. Tidak! Itu hanya kerupuk, kadang kue, kadang juga makanan yang hanya cukup membasahi lidah setelah lama mengaji. Tetapi dengan pemberian itu, semuanya menjadi sangat ceria. Lepas shalat Isya berjamaah dan membaca tahlil atau ratibul haddad, anak-anak mulai gelisah. Melirik ke belakang dengan satu saja pertanyaan : sudah tersediakah bungkusan untuk diperebutkan sebagai penutup bacaan.

Itu hanya makanan kecil tetapi membuat anak-anak yang mengaji mengantri, terkadang juga rebutan dengan sedikit sikutan merobohkan lawan. Padahal makanan itu tidak sampai semenit sudah lepas di tangan dan berdiam diri di dalam perut. Begitu sederhana dan sedikitnya. Namun, itulah pemberian kecil rutin yang selalu dinanti di setiap malam Jumat.

Baca Juga:  Budaya Tadarus Ramadan : Ekspresi Islam Nusantara yang Penuh Berkah

Saya menyadari di situlah arti sebuah pemberian sedekah. Tidak perlu mewah asal memberi berkah.  Hal kecil tetapi menyenangkan dan sangat bermanfaat. Apalah artinya pemberian hanya sekedar pamer diri dan apalagi hanya sekali. Sedekah adalah proses terus menerus untuk memberi dampak kebaikan, kemanfaatan dan terpenting adalah kebahagiaan dalam hati.

Kala itu saya tidak terpikir untuk mencari dalil tentang kebaikan sedekah yang rutin di malam jumat. Mungkin saja Ibu juga tidak mempunyai kitab untuk menjustifikasi amaliyahnya. Sederhana saja, malam Jumat di kampung melebihi malam-malam lainnya dengan aktifitas keagamaan yang berlebih. Dan menyumbangkan hal kecil untuk kemanfaatan aktifitas keagamaan mungkin adalah ladang kebaikan yang diharapkan Ibu.

Saya kira itu saja pertimbangannya. Mungkin Ibu pun tidak pernah berpikir mencari dalil yang shahih untuk membenarkan sedekahnya. Namun, menjadi orang baik sebenarnya cukup sederhana. Memberikan kemanfaatan kepada yang lain adalah perilaku orang yang terbaik. Apalagi kebaikan itu dilakukan di malam hari yang sangat baik.

Lalu, atas istiqamah kebaikan kecil yang dilakukan Ibu saya terbesit untuk melihat dalil. Sebenarnya bagi Saya tidak terlalu penting untuk mencarikan dalil hal yang baik dan bermanfaat. Namun, paling tidak kebaikan kecil itu bisa menular dalam perilaku anaknya. Jika kebaikan itu diajarkan secara tidak langsung kepada Saya, Insyallah pahala kebaikan yang dilakukan juga terkirim pahala bagi Almarhumah di alam kubur.

Di dalam kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i meriwayatkan hadist : “Telah sampai kepadaku dari Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya shalawat itu tersampaikan dan aku dengar’. Nabi bersabda, ‘Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipatgandakan’.” (Imam al-Syafi’i, al-Umm, juz 1, hal. 239).  

Baca Juga:  Zaid bin Tsabit: Sang Sekretaris Muda Nabi

Saya ingin menggaris bawahi bahwa kapanpun seseorang dianjurkan membaca shalawat dan bersedekah. Namun, ada waktu-waktu mulia yang menjadikan bacaan dan sedekah menjadi mulia dengan lipatan pahala dan keberkahan. Salah satunya malam jumat.

Pengkhususan hari-hari mulia dan bulan-bulan mulia bukan menjadi hambatan untuk melakukan kebaikan di hari-hari dan bulan-bulan biasa. Namun, waktu khusus itu setidaknya bisa menjadi pengingat manusia tentang pentingnya kebaikan. Setidaknya dalam pengalaman Saya ketika malam Jumat saya terasa diingatkan oleh Ibu untuk selalu bersedekah sebagaimana itu menjadi amalan istiqamah almarhumah. Allahumma firlaha warhamha wa’fu anha.

Bagikan Artikel

About redaksi