isra' mi'raj

Kenapa Harus Ada Isra’ Mi’raj ? Ini Kisah Asal-Muasalnya

Isra’ mi’raj bermula dari perseteruan tak berkesudahan langit dan bumi. Kisahnya, saat bumi membanggakan diri, bahwa ketimbang langit bumilah yang lebih baik, lantaran memiliki sebuah negeri bersamudera, sungai yang meliuk liuk, pepohonan yang berbaris menghijau, serta gunung yang menjulang angkuh. Namun sayangnya, langitpun mengklaim bahwa langitlah yang lebih baik dari pada bumi, karena secara astronomis, bintang, rembulan, planet lainnya, kursi, arsy dan bahkan surga ada dalam pelukan langit.

Tak ingin kalah, bumipun membeberkan data yang lain bahwa Baitullah Ka’bah yang senantiasa dikunjungi dan di-thawaf-i oleh para Nabi, para Rasul, para Wali, dan orang orang beriman bermukim di perut Bumi.  Langitpun tidak kalah memamerkan : Aku memang tak memiliki Baitullah, tetapi aku memiliki Baitul makmur yang selalu dithawafi oleh para Malaikat suci. Aku juga memiliki surga yang menjadi tempat berpulangnya ruh Para Nabi, Para Rasul, Para Wali, dan orang orang beriman. Langit mencoba yakinkan bumi.

Merasa tersudut, bumipun mengeluarkan jurus pamungkasnya. “Hai langit, kau memang memiliki segala yang berharga. Tapi ingat, aku memiliki Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama, penghulu para Rasul, pamungkas para Nabi, kekasih terkasih Tuhan Semesta (Allah). Makhluk termulia dari segalanya. Syari’atNya tersiar dipermukaanku, Beliau hidup di pangkuanku.

Langit terhenyak tak mampu berkata apa apa. Terbersit kesedihan mendalam. Langit menyerah tak bersyarat dan mengakui bahwa bumilah yang lebih baik dari pada dirinya. Lantaran keagungan Nabi Muhammad. Langitpun memutuskan untuk menemui Tuhan semesta alam (Allah).

Bersimpuh di hadapan Allah sembari berkata: “ Ya Allah, Engkau adalah Dzat mulia yang senantiasa akan mengabulkan setiap permohonan orang yang terdesak. Aku terdesak, tak mampu mengalahkan kemuliaan bumi gara-gara ada manusia mulia yang hidup di Bumi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama. Maka aku memohon kepadaMu ya Allah, mi’rajkan (naikkanlah) Nabi Muhammad agar ia bisa berjalan jalan di punggungku. Agar aku pula bisa merasakan kemuliaanNya seperti Bumi.

Baca Juga:  Para Mawali Pada Masa Dinasti Umayyah

Melihat keseriusan langit ingin bertemu Nabi Muhammad, Allahpun menitahkan Malaikat Jibril pada malam ke dua puluh tujuh  Rajab untuk sementara waktu berhenti bertasbih. Allah juga memerintahkan Malaikat Israil libur semalam untuk mencabut nyawa makhluk.

Mendapatkan perintah mengherankan Jibrilpun bertanya kepada Allah: “ya Allah sudah tibakah hari kiamat itu? Tidak JIbril, tetapi malam ini, ada tugas khusus untukmu, pergilah ke Sorga, bawalah Buraq dan turunlah ke Bumi, bawalah Muhammad.

Bergegaslah Jibril menuju surga, terlihat olehnya kerumunan Buraq sebanyak empat puluh ribu Buraq sedang menikmati segarnya rerumputan Surga dan anehnya di dahi Buraq buraq itu tertulis sebaris nama “Muhammad” yang agung.

Dari sekian banyak Buraq yang sedang asyik bersenda terlihat seekor Buraq yang nampak sedih. Bola matanya sendu dan berlinangan air mata, merasa heran Jibrilpun menghampirinya dan bertanya. Hai Buraq, ada apa denganmu?

“Ketahuilah Jibril, sejak empat puluh tahun lamanya aku mendengar nama Muhammad tapi tak pernah melihat rupaNya. Di hatiku tumbuh bersemi rasa cinta yang mendalam. Perasaan rindu selalu menetak netak jantungku. Selama ini aku tak lagi membutuhkan makanan dan minuman. Jiwaku terbakar api rindu kepada Muhammad”.

Jibril merasa iba dan memutuskan untuk membawa Buraq itu sebagai tunggangan nabi Muhammad. Sekalah air matamu wahai Buraq, karena aku akan mempertemukanmu dengan seseorang yang kau rindukan selama ini, Muhammad. Sapa JIbril mencoba hibur Buraq yang Sedih itu. Dan dari sinilah kisah  isra’ mi’raj dimulai……hingga shalat lima waktu sebagai parselnya. Disadur dari Kitab Durrah al-Nashihin, karya Al-Khaubawi, 117.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo