Pancasila
Pancasila

Kenapa Menolak dan Mengkafirkan Pancasila?

Salah satu isi wasiat yang ditulis oleh pelaku penyerangan Mabes Polri (31/3/21) ZA berbicara tentang anggapan demokrasi, Pancasila dan pemilu sebagai sistem kufur. Petikan wasiat yang kemudian menjadi viral tersebut sebagai berikut :

Inti pesan Zakiah kepada mama dan keluarga adalah agar tidak mengikuti kegiatan pemilu. Karena orang-orang yang terpilih itu akan membuat hukum tandingan Allah bersumber Alquran-Assunah.

Demokrasi, Pancasila, UUD, pemilu, berasal dari ajaran kafir yang jelas musyrik. Zakiah nasehatkan kepada mama dan keluarga agar semuanya selamat dari fitnah dunia yaitu demokrasi, pemilu dan tidak murtad tanpa sadar.

Argumen ZA untuk menolak dan mengkafirkan Pancasila sejatinya bukanlah hal baru. Dalam penuturan beberapa mantan narapida terorisme penegasan Pancasila sebagai kafir dan thagut merupakan doktrin dan keyakinan. Mereka hanya mematuhi hukum agama sebagai dasar sebuah negara.

Dalam sejarah Indonesia, gerakan untuk menolak Pancasila dan ide mendirikan negara berdasarkan syariat agama sudah ada sejak Republik ini didirikan. Gerakan ideologis hingga percobaan makar dan aksi teror mewarnai perjuangan kelompok yang dikenal dengan sebutan Negara Islam Indonesia (NII). Ideologi ini tidak pernah mati dan terus menjadi cita-cita kelompok.

Mantan aktivis NII, Ken Setiawan pernah berujar sesungguhnya hampir seluruh teroris sebelum kelahiran ISIS berlatarbelakang aktivis NII. Arah perjuangan mereka sangat jelas dan masih bergerak di level bawah tanah dalam melakukan kaderisasi. Menolak Pancasila dan ide untuk menegakkan negara syariat.

Abu Bakar Ba’asyir (ABB) hingga saat pembebasan juga konsisten tidak mengakui kesetiaan pada Pancasila. Pernyataan ABB cukup jelas bahwa “Saya hanya setia kepada Allah, saya hanya patuh pada Allah, dan saya tidak akan patuh pada selain itu,”. Pandangan yang dia bangun selalu menempatkan kesetiaan terhadap Tuhan sebagai hal yang akan bertentangan dengan kesetiaan pada selain Tuhan. Karena itulah, hanya hukum Tuhan yakni Islam yang layak untuk menjadi dasar negara.

Baca Juga:  Rasul Memerangi Pengkhianat Piagam Madinah, Lalu Bagaimana Pengkhianat Pancasila?

Pandangan seperti itu bukan hal yang sangat domestik. Gerakan islamisme sejatinya telah tumbuh di beberapa negara Timur Tengah khususnya Mesir yang mendasarkan ideologi untuk perjuangan Islam sebagai dasar negara. Sayyid Quthb aktivis Ikhwanul Muslimin (IM) berambisi untuk menerapkan Islam secara kaffah dan menganggap seluruh masyarakat muslim berada dalam fase jahiliyyah.

Penolakan terhadap sistem yang ada sebagai sebuah konsensus dan pengkafiran terhadap dasar negara bukan hal baru. Dalam satu titik ideologi ini mampu membawa gerakan kekerasan yang dalam beberapa kasus mengilhami aksi terorisme. Jalan kekerasan adalah pilihan sebagai sarana melakukan perubahan yang fundamental.

Lalu, apakah ideologi ini sudah mati? Tidak! Penolakan dan pengkafiran Pancasila dan keinginan mendirikan negara berdasarkan syariat agama masih menjadi gerakan bawah tanah dengan pendidikan dan pengkaderan yang tersembunyi. Jika melihat hasil survey tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang menolak Pancasila dan memilih agama sebagai ideologi negara mengindikasikan kaderisasi dan rekrutmen itu memanfaatkan lembaga pendidikan.

Survei Mata Air Fondation dan Alvara Research Center pada tahun 2017, misalnya, menyebutkan bahwa ada 18,6 persen pelajar memilih ideologi Islam sebagai ideologi bernegara dibanding Pancasila. Sedangkan dikalangan mahasiswa sebanyak 16,8 persen memilih ideologi Islam dibanding Pancasila sebagai ideologi bernegara. Survey yang dilakukan terhadap 1.800 mahasiswa di 25 perguruan tinggi unggulan di Indonesia, serta 2.400 pelajar SMAN unggulan di Pulau Jawa dan Kota-kota besar di Indonesia ini menunjukkan betapa generasi muda adalah bagian penting dalam kaderisasi penolakan Pancasila dan penumbuhan ideologi

Karena itulah, sesungguhnya tidak mengherankan jika orang seperti ZA menganggap demokrasi dan Pancasila sebagai ajaran kafir karena itu adalah bagian dari doktrin yang ditanamkan dari kaderisasi dan rekrutmen. Indoktrinasi saat ini tidak hanya melalui sel tertutup tetapi ruang terbuka yang bisa diakses mudah di dunia maya.

Baca Juga:  NKRI Bermaqashid Syariah

Masifitas penolakan dan pengkafiran Pancasila sebagai doktrin awal untuk menumbuhkan militansi merupakan ajang kontestasi kelompok ini untuk memberikan identitas bagi generasi muda. Mereka yang keropos tentang wawasan kebangsaan dan mengalami krisis identitas dalam proses pencarian diri akan menemukan ruang nyaman dengan identitas yang lebih militan dan dianggap kaffah.

Tentu, ini akan menjadi PR bersama bagi Pemerintah dan masyarakat. Narasi yang harus dikembangkan adalah Pancasila merupakan perjanjian luhur seluruh umat beragama tentang sebuah pondasi negara. Pancasila bukan penghalang (mani’) terhadap perberlakuan syariat agama. Dan Pancasila sejatinya perasan dari nilai agung agama yang berupa tauhid, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan.

Kesetian terhadap perjanjian seperti Pancasila bukan sesuatu yang melanggar kesetiaan terhadap Tuhan karena sejatinya umat yang beriman adalah umat yang teguh memegang perjanjian dan tidak boleh khianat terhadap perjanjian. Bahkan Tuhan memerintahkan umatnya untuk taat kepada Allah, Rasul dan Taat kepada para Pemimpin. Ketaatan itu bukan sesuatu yang bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan. Bahkan umat yang membangkan terhadap perjanjian sesungguhnya adalah para bughat yang wajib diperangi dalam Islam.

Bagikan Artikel

About Islam Kaffah