Diceritakan dalam kitab Hasyiah Tafsir Showi saat menafsirkan surah Maryam ayat 56-57, yang artinya begini, “Dan ceritakanlah tentang kisah Idris di dalam Al-Qur’an. Sungguh dia adalah seorang yang sangat mencintai kebenaran, juga seorang nabi. Kami telah mengangkatnya pada tempat yang sangat tinggi.”
Bermula dari ayat ini, imam Showi mengatakan terdapat perbedaan dari para ulama tafsir terkait dengan maksud dari “tempat tinggi” itu. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tempat secara maknawi, artinya adalah martabat yang sangat tinggi. Ada juga yang berpendapat, yang dimaksud adalah tempat secara inderawi. Yaitu langit keempat. Tetapi ada juga yang berpendapat yang dimaksud adalah surga.
Imam Showi juga menambahkan, adanya perbedaan terkait dengan sebab diangkatnya nabi Idris pada tempat yang sangat tinggi itu. Ada yang berpendapat bahwa nabi Idris diangkat ke tempat yang tinggi itu setiap kali ia melakukan ibadah harian. Dan ini lazim terjadi kepada para penduduk bumi pada saat itu.
Hal demikian itulah yang membuat kagum para malaikat, sehingga malaikat maut merasa rindu dengan nabi Idris. Lalu malaikat maut minta izin kepada Allah untuk mengunjungi nabi Idris, dan Allah pun mengizinkannya. Kemudian malaikat maut itu menjelma wujud manusia dan mendatangi nabi Idris.
Pada saat itu nabi Idris sedang melakukan puasa dahr (puasa selama setahun). Setiap kali saat waktu berbuka tiba, Idris mengajaknya untuk makan, tetapi malaikat itu menolak. Ajakan ini dilakukan Idris sebanyak tiga kali. Sampai pada ajakan yang ketiga, Idris bertanya, “Saya ingin tahu, siapa sebenarnya anda ini?” Lalu ia menjawab, “Aku ini adalah malaikat maut. Aku sudah minta izin kepada Allah untuk menemanimu.”
Nabi Idris lalu berkata, “Kalau demikian, aku punya permintaan untukmu.” “Apa itu?” tanya malaikat maut. “Cabutlah nyawaku,” pinta Idris. Kemudian Allah memberi wahyu kepada malaikat maut agar mencabut nyawa Idris, dan malaikat pun melaksanakan perintah itu.
Setelah nyawanya berhasil dicabut, malaikat maut lalu bertanya, “Apa gunanya kamu minta seperti ini?” Idris menjawab, agar ia merasakan kematian karena sudah mempersiapkannya dengan baik. Lalu ia minta lagi kepada malaikat maut agar diangkat ke langit untuk melihat surga dan neraka.
Allah lalu memberikan wahyu agar permintaan itu dilaksanakan oleh malaikat maut. Setelah sampai pada neraka, Idris minta agar dibukakan pintu neraka. Kemudian ia berkata, “Kamu sudah memperlihatkan neraka kepadaku, sekarang aku minta juga perlihatkan surga kepadaku.” Permintaan itu pun dikabulkan, dan diajak pergi menuju surga.
Begitu sampai surga, Idris minta agar dibukakan pintunya. Lalu Idris minta agar dimasukkan ke dalamnya. Setelah berada di dalam surga, malaikat maut mengajak Idris agar kembali ke tempatnya semula, yaitu di bumi. Tetapi Idris menolak keluar dari surga dengan mengikatkan tangannya di pohon surga, sampai terjadilah adu argumen.
Mengetahui hal itu, Allah mengutus malaikat lain sebagai hakim. Lalu malaikat itu bertanya, “Kenapa kamu tidak mau keluar dari surga?” Idris pun menjawab, “Karena Allah sudah mengatakan bahwa setiap manusia akan merasakan kematian, (kullu nafsin zaiqotul maut), dan aku sudah merasakannya. Allah juga berfirman, semua kalian akan merasakan neraka, (wa in minkum illa wariduha), aku sudah merasakan. Begitu juga berdasarkan firman Allah, meraka tidak akan mau keluar dari dalam surga, (wama hum minha bimukhrajin). Akhirnya, Allah mengizinkannya untuk tetap berada di dalam surga.
Wallahu a’lam bis Showab.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah