Kerja di tengah pandemi

Konsultasi Syari’ah : Hukum Bekerja kepada Non-Muslim

Assalamu’alaikum wr wb

Apa hukum bekerja di perusahaan atau tempat kerja yg punya atau pemimpinnya non muslim??

Walaikum salam wr wb

Novi, Karawang

———————————

Assalamu’alaikum Wr Wb

Kehadiran pandemi Covid-19 membuat jumlah pengangguran semakin meningkat secara drastis. Hal tersebut juga dirasakan di Kota kota metropolis. Para pembuat kebijakan gusar. Para Dewan Panik.

Program pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan menjadi program prioritas. Pantang melihat siapa ‘Bos’nya?   Apakah muslim atau non muslim? Yang penting, mendapatkan pekerjaan yang layak. Lalu bagaimana fikih menjawab fenomena ini?

Menurut pendapat yang paling shahih (Ashah) di kalangan  madzhab Syafi’iyyah dan Madzhab Hanabilah bekerja pada Non Muslim hukumnya  boleh.

1. Madzhab Syafi’i

Imam al-Nawawi memaparkan pendapatnya bahwa non muslim diperkenankan menyewa orang muslim untuk mengerjakan sesuatu yang masih ada dalam tanggungan (masih akan dikerjakan kemudian) sebagaimana orang muslim juga diperkenankan membeli sesuatu dari orang non muslim dengan bayaran yang masih ada dalam tanggungan (hutang), dan diperbolehkan orang muslim boleh menyewakan dirinya (bekerja) kepada orang non muslim menurut pendapat yang paling shahih baik ia merdeka atau sahaya”.  Raudhah al-Thalibin 1/403 .

Bahkan Imam Al-Nawawi memastikan Tentang kebolehan sewa menyewa ini, tidak ada seorang ulama’ Syafiiyahpun yang berbeda pendapat. Lalu, apakah orang muslim boleh menyewakan dirinya (bekerja) kepada orang non muslim? Dalam permasalah ini ada dua pendapat yang masyhur. Kedua pendapat itu disebutkan oleh Imam al-Nawawi di awal kitab atau bab Ijârah (sewa-menyewa). Akan tetapi, pendapat yang paling shahih adalah pendapat yang mengatakan boleh. Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzdzab 9/359.

Menurut Muhammad Syatha al-Bikri,  dan al-Qalyubi Makruh hukumnya kerja sama dengan kafir. Namun bila menjadi pelayannya hukumnya haram karena dianggap merendahkan Islam. I’anah al-Thalibin, 3/129, Hasyiyah Qalyubi 455 :

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Peran Seorang Penerjemah

2. Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah berkata, Seandainya orang muslim mempekerjakan dirinya pada kafir dzimmi untuk mengerjakan sesuatu, maka akad sewa menyewa tersebut sah. Karena sayyidina Ali ra. pernah menyewakan dirinya pada orang Yahudi untuk menyiram ladang milik Yahudi dengan upah setiap satu timba air digaji dengan sebuah kurma. Kemudian sayyidina Ali memberikan kurma tersebut pada Nabi dan dimakan oleh Nabi. Perbuatan sayyidina Ali tersebut ditiru oleh seorang laki-laki dari golongan  Anshar dan memberikan kurma yang didapatnya pada Nabi. Nabipun tidak pernah mengingkari perbuatan tersebut. Inilah yang dikenal dengan Hadits Taqririy

Alasan selanjutnya adalah karena tidak ada unsur penghinaan pada orang muslim dalam akad ijarah tersebut. Akan tetapi, bila orang non muslim menyewa orang muslim untuk suatu masa tertentu, misalnya satu hari atau sebulan, maka dalam hal ini ada dua pendapat.

Pertama, mengatakan bahwa akad tersebut tidak sah karena mengandung unsur penguasaan dan penghinaan terhadap orang muslim. Ketentuan ini sama dengan menjual budak muslim pada non muslim. Kedua mengatakan akad tersebut sah.

Kedua pendapat hukum  inilah yang paling shahih karena ijârah merupakan suatu pekerjaan yang diimbangi dengan bayaran (upah) sehingga menyerupai perjanjian untuk bekerja, tidak sama dengan kepemilikan (dalam budak yang diperjualbelikan), karena kepemilikan mengakibatkan adanya penguasaan, kepemilikan untuk selamanya, serta pemanfaatan secara bebas. Hal ini berbeda dengan ijârah”. Al-Mughni ala al-Quddamah 8/495.

Semoga ulasan ini dapat membantu pertanyaan saudara.

Wallahu a’lam

Wassalamua’alaikum awarhamatullahi wabarakatuh

Pengampu Konsultasi Syariah,

Ust. Abdul Walid, M.H.I, Alumni Ma’had Aly Li al-Qism al-Fiqh Wa Ushulih, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo

Bagikan Artikel

About Islam Kaffah

Islam Kaffah