Manusia, jika ditinjau dari neurosains, merupakan makhluk yang “unik”. Dalam dirinya tersimpan banyak misteri untuk selalu dikaji dan diperbincangkan. Manusia adalah jagat kecil (mikrokosmos), yang menjadi cermin alam semesta (makrokosmos).
Hal ihwal yang membawa perbaikan manusia dapat diartikan sebagai perbaikan alam semesta. Sementara itu, keburukan yang mengejawantah dalam keseharian membawa efek destruktif bagi penguatan sendi-sendi kemanusiaan universal, sebagaimana peribahasa menyebutkan, “setitik nila rusak susu sebelanga”.
Atas dasar itulah, banyak ilmuwan membuktikan bahwa manusia benar-benar makhluk yang memiliki kelebihan (berupa kecerdasan) yang luar biasa hebatnya. Taufiq Pasiak, misalnya, penulis dan peneliti tema pendayagunaan IQ/EQ/SQ menyingkap daya kekuatan otak manusia dalam melakukan tindakan atau perbuatannya sehari-hari. Mengapa mesti otak yang dijadikan tolok ukur?
Menurut Pasiak, otak disusun oleh 100.000.000.000 (100 miliar!) sel-sel otak (neuron) dan 100.000.000.000.000 (100 triliun) sel pendukung (sel gila). Jumlah yang sangat spektakuler ini (mungkin melebihi jumlah galaksi di alam semesta) membentuk gumpalan-gumpalan otak. Hasil interaksi atau sirkuitnya membentuk pikiran, pengalaman, dan pribadi manusia. Walaupun ada faktor-faktor nonfisik atau nonlinear (yang masih misterius hingga kini), kegiatan berpikir dan merasa dalam diri manusia, yang kemudian membentuk kesadaran dan pribadinya, dinisbahkan pada sel-sel saraf ini.
Selain itu, otak merupakan sistem yang dinamis atau sistem yang hidup (living system). Ini bukan saja karena otak tumbuh dan berkembang menurut kaidah embriologis, tetapi juga karena otak selalu terbuka terhadap intervensi dari luar. Artinya, walaupun merupakan sistem terbuka, otak memiliki batas tertentu menerima intervensi, karena ada faktor-faktor genetis yang tidak bisa diubah. Karena dapat diintervensi dari luar, otak setiap orang itu unik. Pengalaman, pendidikan, dan gaya hidup yang berbeda membuat otak menjadi berbeda.
Begitu kuatnya pengaruh otak terhadap tindak-tanduk atau perilaku kita, maka disinilah pentingnya mengolah otak dengan baik untuk menuai kesuksesan hidup. Tak perlu jauh-jauh mencerna realitas yang terjadi soal ukuran sukses atau tidaknya seseorang yang selalu diukur dengan daya otak atau IQ-nya. Di bawah sistem pendidikan dan penilaian yang hanya mementingkan IQ, banyak orang tersisih.
Kecerdasan emosional dan spiritual
Di sekolah bahkan di tengah masyarakat sekalipun, yang dihargai hanyalah mereka yang memiliki kemampuan matematis, logis dan berdaya hafalan. Anak-anak yang menonjol dalam kemampuan-kemampuan ini dianggap “pintar”. Sedangkan anak-anak yang memiliki kelebihan dalam seni, kepemimpinan, olahraga, hubungan sosial, sering diabaikan atau dianggap “tidak pintar”.
Cara pandang seperti itu menurut Pasiak terbukti sudah ketinggalan zaman. Terobosan-terobosan mutakhir dalam bidang neurosains dan studi kecerdasan menunjukkan bahwa IQ bukan jaminan kesuksesan hidup. Manusia memiliki pula EQ (kecerdasan emosional) dan SQ (kecerdasan spiritual), erat hubungannya dengan keimanan atau kedalamannya dalam menjalankan norma agama. Kecerdasan pun tidak berbentuk tunggal, tetapi majemuk—dikenal dengan sebutan multiple intelligence—dan setiap orang memiliki bakat yang khas.
Artinya, setiap manusia dituntut untuk memaksimalkan potensi (akal budi) primordialnya, dengan tanggung jawab moral yang berpendar nurani. Sebab dalam penciptaannya, manusia diberkahi akal budi dan pesan moral sejati, yakni melangsungkan pengabdiannya di dunia kepada sesama makhluk hidup dan yang paling penting juga kepada Sang Esa. Petunjuk ini menuturkan bahwa manusia adalah makhluk moral, yaitu makhluk yang secara logis dapat dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya.
Dalam perspektif multiple intelligence, tidak ada orang yang bodoh. Sebaliknya, justru semua orang pintar berdasarkan bidang dan bakatnya. Ia, mungkin lemah di matematika, tetapi bisa kuat dan pintar di bidang olahraga, misalnya. Kecerdasan seseorang yang ideal justru ketika ia dapat memfungsikan ketiga dimensi IQ, EQ, dan SQ-nya secara berimbang.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah