batasan mampu kurban

Lumrah diketahui berkurban harus menyembelih hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau dan unta. Namun, di saat masyarakat sedang dikoyak oleh ketidakstabilan ekonomi karena virus Corona yang tak kunjung lenyap, terlontar percakapan seputar mengganti kurban dengan uang.

Sepertinya ini menjadi usulan yang bisa dianggap lebih mashlahah terutama dalam kondisi masyarakat yang tidak hanya membutuhkan daging saja, tetapi lebih pada uang. Lalu, bolehkah membagi uang senilai harga hewan kurban kepada orang-orang yang membutuhkan? Sudahkah cukup dianggap kurban?

Diskursus ini menjadi menarik untuk dicari legalitas hukumnya mengingat ibadah harus bersandar pada dalil.  Lalu, bagaimana sebetulnya pendapat para ulama sehubungan dengan wacana ini? Sebagaimana tabiat fikih, ulama terbagi dalam dua arus besar antara boleh dan tidak.

Pendapat yang Tidak Membolehkan

Imam Nawawi al Bantani, salah seorang ulama Nusantara dalam karyanya Riyadhu al Badi’ah menulis, berkurban harus dengan hewan ternak seperti sapi, kerbau, unta dan kambing. Tidak sah kurban dengan selain hewan ternak tersebut. Alasannya, menurut beliau, karena ibadah kurban terkait dengan penyembelihan hewan ternak. Sama seperti zakat.

Pendapat ini diperkuat oleh keterangan dalam kitab al Mabsuth yang menilai kurban sebagai ibadah yang ta’abbudi (tidak bisa dinalar dengan akal). Akal tidak mampu menjangkau ukuran keutamaan ibadah kurban. Oleh karena itu, tidak ada kontekstualisasi dalam ibadah kurban ini.

Demikian pula penjelasan dalam Bahru al Raiq karya Zain bin Ibrahim menegaskan bahwa hakikat kurban adalah menyembelih hewan ternak. Oleh sebab itu tidak boleh berkurban dengan uang seharga hewan ternak.

Seorang ulama kontemporer, Wahbah al Zuhaili dalam Al Fiqh al Islami menandaskan hal yang sama. Menurutnya, spirit kurban bukan hanya berbagi kesejahteraan dengan fakir miskin. Lebih dari itu kurban adalah ibadah yang aplikasinya harus dengan menyembelih hewan kurban.

Pendapat yang Membolehkan

Dalam kitab al Turuq al Shahihah fi Fahmi al Sunnah, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub menulis sebuah hadis yang dikutip oleh Ibnu Qudamah, salah seorang ulama kalangan madhab Hanbali yang diriwayatkan oleh Aisyah. “Sesungguhnya aku bersedekah dengan cincinku in, lebih aku sukai daripada aku berkurban seribu ekor kepada penduduk Makkah”.

Dalam kitabnya Al Mughni, Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Bilal bin Rabah, “Aku tidak peduli kalau aku hanya berkurban dengan seekor ayam, karena memberikan uang kurban itu untuk anak yatim yang membutuhkan lebih aku sukai dibandingkan menyembelih hewan kurban”.

Tetapi, Ibnu Qudamah sendiri dalam kitabnya Al Mughni lebih memilih dan mengunggulkan pendapat yang menyatakan bahwa ibadah kurban tidak boleh diganti dengan uang senilai hewan kurban. Karena para sahabat pasca Nabi melakukan ritual ibadah kurban dengan menyembelih hewan, tidak dengan membagikan uang kepada fakir miskin.

Menimbang Mashlahah, Memperhatikan Nash

Bila demikian, menurut hemat penulis, pendapat yang paling unggul adalah pendapat pertama. Kurban tidak boleh diganti dengan uang senilai harga hewan yang akan dikurbankan. Bila merujuk pada kaidah ushul fikih, pendapat pertama juga dipandang lebih benar dan lebih unggul.

Teori ushul fikih membuat kaidah, dalam ibadah yang diperhatikan adalah adanya dalil yang memerintah. Beda dengan muamalah, yang penting tidak ada dalil yang melarang maka sudah pasti hukumnya boleh.

Sementara kontekstualisasi ibadah kurban yang dikemukakan oleh Aisyah dan Bilal menjadi pertimbangan bila keadaan betul-betul sampai pada tingkat dharuriyat. Misalnya, fakir miskin di daerah tertentu memang sangat membutuhkan bahan pangan selain daging, seperti beras dan bahan pokok yang lain. Maka boleh melakukan perluasan makna ibadah kurban seperti pendapat Aisyah dan Bilal.