Wali Nikah

Menikah di Bulan Syawal, Mengikuti Sunnah Nabi, Benarkah?

Bulan Syawal menjadi bulan istimewa bagi umat Islam. Setelah melewati rangkaian ibadah di bulan Ramadan, umat Islam diharapkan lebih meningkat kualitas ibadahnya. Pada bulan Syawal pun terdapat ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan. Selain berpuasa 6 hari, menikah juga menjadi di antara sunnah di bulan Syawal.

Islam menganjurkan bagi siapa saja yang mampu untuk segera menikah dan tidak menundanya. Yang dimaksud mampu ialah dalam hal kesiapan mental dan materi. Jika sudah terpenuhi, maka hukum nikah menjadi wajib baginya. Juga sebagai jalan agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat. Bahkan, dengan menikah, seseorang berarti telah menyempurnakan separuh agamanya. Manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan, dan  dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing, diharapkan bisa saling melengkapi.

Dalam Surah an-Nur ayat 32 yang berbunyi:


وَاَنۡكِحُوا الۡاَيَامٰى مِنۡكُمۡ وَالصّٰلِحِيۡنَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَاِمَآٮِٕكُمۡ‌ ؕ اِنۡ يَّكُوۡنُوۡا فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ‌ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ

”Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

Memantaskan diri merupakan bagian dari ikhtiar kita. Pasalnya, hidup babak baru akan dijalani oleh pasangan suami-istri setelah menikah. Apalagi ketika hidup di zaman sekarang, teknologi sudah semakin canggih. Maka, untuk melahirkan generasi yang unggul dan berkualitas, orang tua lah yang menjadi penentunya. Serta siap untuk mempersiapkan anak-anak menjadi generasi yang lebih baik.

Namun, terkadang menikah seolah menjadi beban tersendiri. Sebab, tak sedikit yang mempersulitnya, mulai dari perayaan yang harus besar-besaran, mewah, dan meriah. Pernikahan itu hendaknya tidak dipersulit karena merupakan kebaikan, namun bukan berarti dipermudah juga. Tapi tetap perlu dipersiapkan dengan baik.

Baca Juga:  Menghormati Tokoh Non-Muslim adalah Sunnah Nabi Saw

Ketika menentukan hari pernikahan misalnya, dalam tradisi masyarakat kita, masih banyak yang mempercayainya. Masih adanya kepercayaan bahwa disaat menikah di hari yang dianggap kurang baik, maka dari pernikahan itu mendatangkan hal buruk, malapetaka, dan lain sebagainya. Tentu ini tidaklah dibenarkan dalam Islam. Akan tetapi, selama kita berikhtiar, berdoa, dan meminta pertolongan kepada Allah, maka In sya’aAllah semua akan baik-baik saja.

Nah, mengenai menikah di bulan Syawal, nampaknya sudah menjadi trend berlangsungnya pernikahan di kalangan masyarakat. Benar. Sebab memang dianjurkan untuk menikah pada bulan Syawal. Anjuran ini sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Aisyah:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawwal dan berkumpul denganku pada bulan Syawwal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR Muslim 2551, At-Tirmidzi 1013, An-Nasai 3184, Ahmad  23137)

Hadits tersebutlah yang menjadi pedoman ataupun anjuran untuk menikah pada bulan Syawal. Untuk itu, bagi yang sudah dipertemukan dengan jodohnya, dan memang telah siap, menikahlah di Bulan Syawal. Namun, tidak diperbolehkan juga menikah hanya karena ingin mengamalkan sunnah ini tanpa persiapan yang baik. Siap lahir batin benar-benar menjadi sesuatu hal yang penting sebelum menikah.

Pilihan yang terbaik dan berkualitas akan didapatkan setelah kita berupaya memantaskan diri, sebab, jodoh merupakan cerminan diri seseorang. Dan agar menjadi pasangan yang sakinah mawaddah wa rahmah. Semoga keberkahan akan didapatkan bagi orang yang menikah dan pastinya sesuai dengan yang dianjurkan Nabi. Aamiin.


Bagikan Artikel

About Muhammad Ikhsan Hidayat

Peneliti di Pon-pes Dar al-Qolam Semarang