perjanjian Allah
perjanjian Allah

Menjaga Perjanjian Suci Manusia dengan Allah

Al-Qur’an memberi informasi bahwa ketika ruh ditiupkan ke dalam jabang bayi, ia mengambil perjanjian dengan Allah Swt. yaitu syahadat. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku adalah Tuhan-Mu”, dan dia saat itu telah menjawab: “Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lupa terhadap (persaksian) ini.” (QS. al-A’raf: 172).

Dalam sebuah hadis juga disebutkan, dari Ubay bin Ka’ab mengatakan, “Mereka (ruh tersebut) dikumpulkan, lalu dijadikan berpasang-pasangan, baru kemudian mereka dibentuk. Setelah itu mereka pun diajak berbicara, lalu diambil dari mereka janji dan kesaksian, “Bukankah Aku Tuhanmu?”, mereka menjawab “Benar”.

Merujuk pada informasi di atas, bahwa beragama, sebenarnya adalah fitrah atau sunnatullah, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan sungguh, mereka sebelum itu (sebelum ruh ditiupkan ke dalam janin) telah berjanji kepada Allah tidak akan berbalik kebelakang (mundur). Dan perjanjian dengan Allah itu akan diminta pertanggung jawabannya” (QS. al-Ahzab: 15).

Meski demikian, sumpah primordial yang menyatakan percaya kepada Tuhan itu pada akhirnya akan bermuara pada pilihan agama, ketika ia terlahir ke dunia. Faktor lingkungan turut akan mempengaruhi karakternya. Sebuah hadis populer berbunyi: Kullu mauludin yuladu ala al-fitrah abawahu yuhawidanaihi aw yunashironihi, aw yumajisanihi (Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah berpotensi untuk berbuat baik dan buruk tergantung orang tuanya, mau dijadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi).

Melalui perjanjian itu, umat manusia, dalam perspektif Islam, memiliki amanah sebagai khalifah di muka bumi. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al-Anfal: 27).

Baca Juga:  Pentingnya Ikhlas dalam Ibadah, Inilah Tingkatannya

Menurut sebagian ulama, amanah tersebut dibagi menjadi tiga tipe. Pertama, amanah manusia pada dirinya sendiri, yaitu amanat dalam memilih yang baik bagi dirinya untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kedua, amanah terhadap sesama manusia (hablu min Allah). Ketiga, manusia dari Tuhannya, sebagaimana disinggung dalam firman Allah. “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikulnya dan merasa berat, dan dipikul amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan bodoh” (QS. al-Hasyr: 72).

Menurut Al-Qaffal, QS. al-Hasyr: 72 hanya perumpamaan, yang ditekankan di sini ialah perhatian kita terhadap amanat yang Allah letakkan di atas pundak manusia. Al-Qurtubi menyalin dalam tafsirnya, “Ini adalah kata majaz atau kiasan. Langit, bumi dan gunung-gunung merasa berat memikul (apalagi manusia), sebab itulah manusia hendaknya berhati-hati”.

Ada beberapa pendapat ulama tentang maksud amanah pada ayat tersebut (QS. al-Hasyr: 72), yaitu agama, hal-hal yang difardlukan, batas-batas yang ditentukan oleh Allah, taat kepada Allah, shalat, puasa, dan lain sebagainya.

Memahami kewajiban berupa amanah yang diberikan Allah kepada kita menggiring pada pemahaman tentang tujuan awal penciptaan manusia. Pertama, menjadi khalifah fi al-ard. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. al-Baqarah: 30).

Kedua, beribadah dan menyembah-Nya. “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah/menyembah-Ku” (QS. al-Dzariyat: 56). Aktivitas ibadah tentu tidak sekadar menjalankan ritual yang terjadwal, seperti shalat, puasa, dan lain-lain, tetapi dalam keseluruhan kegiatan dapat diniatkan sebagai bentuk ibadah.  

Bagikan Artikel ini:

About Ali Usman

Avatar of Ali Usman
Pengurus Lakpesdam PWNU DIY

Check Also

kemerdekaan palestina

Gilad Atzmon dan Pandangannya tentang Kemerdekaan Palestina

Gilad mendukung penuh “hak pulang kampung” rakyat Palestina dan “solusi negara tunggal” bagi penyelesaian konflik yang sudah berlangsung lama itu.

asmaul husna

Kearifan Sufi dan Terapi Asmaul Husna

Menjadi seorang sufi, atau menjalankan ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah tantangan. Dikatakan demikian, …