bidayatul hidayah
bidayatul hidayah

Ngaji Kitab Bidayatul Hidayah: Menasihati Diri

Banyak yang bisa menasihati tapi enggan untuk menerima nasihat. Mulutnya dipakai untuk mengoreksi apa yang kurang pada diri orang lain sedang telinganya tertutup rasa sombong dalam diri untuk menerima koreksian dari orang lain. Dalam konteks ini, Imam al-Ghazali memberikan pandangan bahwa menasihati diri itu ibarat zakat. Tidak akan bisa mengeluarkan zakat seseorang apabila belum mencapai nishabnya.

Seperti yang kita ketahui, kemampuan untuk mendengar nasihat orang lain tidaklah mudah. Sebab banyak faktor yang menjadikan seseorang itu sulit menerima nasehat orang lain. Faktor seperti usia, kedudukan, kekayaan dan bahkan ilmu bisa menjadi penghambat seseorang dapat menerima nasihat dari orang lain.

Orang kaya cenderung mengabaikan nasihat orang miskin. Orang berilmu cenderung mengabaikan nasihat orang awam. Orang penting cenderung mengabaikan nasihat rakyat biasa. Kecenderungan itu timbul karena dalam diri manusia tidak muncul sikap menerima dan mendengar.

Mari belajar dari Imam al-Ghazali. Meskipun ia memiliki keluasan ilmu, tidak lantas merasa menjadi orang yang pantas menasihati orang lain. Bahkan, ia pernah menerima nasihat yang keluar dari mulut orang yang merampoknya di jalan. Tapi Imam al-Ghazali tidak menganggap remeh nasihat itu. Dari kisah itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa selama sesuatu mengandung kebaikan, jangan pernah meremehkan hal tersebut. Pepatah mengatakan, ambillah pelajaran walau keluar dari pantat ayam.

Seperti yang telah disebutkan, Imam al-Ghazali memiliki pandangan bahwa menasihati itu layaknya zakat. Nishabnya adalah mampu mengambil nasihat atau pelajaran dari nasihat itu sendiri. Selama itu belum terpenuhi, berarti belum layak menasihati orang lain. Sebagai contoh ketika seseorang merasa sudah ahli dalam ibadah, lantas ia menasihati orang lain untuk giat beribadah. Maka ia juga mesti mengambil pelajaran dengan mencari tahu apa yang menjadi sebab orang yang ia nasihati tidak bisa beribadah dengan giat. Setelah itu lakukan evaluasi dan benturkan dengan keadaan diri. Bisa saja, diri sendiri giat beribadah karena ada faktor pendukung seperti sudah terjamin makan/minum, banyak waktu luang, tidak bekerja, dsb.

Baca Juga:  Tips dan Cara Sukses Berdagang ala Rasulullah

Di dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali menerangkan tentang pemberi nasihat yang berbicara dan yang diam. Pemberi nasihat yang berbicara adalah al-Qur’an dan yang diam adalah kematian. Kedua nasihat itu menjadi penerang bagi proses kehidupan manusia. Seperti spirit yang ada di dalam surat al-‘Asr, tentang memberi nasihat (wasiat) dalam kebaikan dan sabar.

al-Qur’an sebagai pemberi nasihat yang berbicara, memiliki makna bahwa Allah berbicara atau menasihati manusia melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an tidaklah memiliki suatu kebatilan sedikitpun. Maka siapa saja yang mengambil al-Qur’an sebagai nasihat, maka cukup baginya hidup baik di dunia dan akhirat.

Di dalam al-Qur’an, nasihat juga sering diartikan dengan mauizah, yaitu suatu upaya penyampaian yang baik ketika berdakwah, berjihad, dll. Mauizah di dalam al-Qur’an sering di gabungkan dengan kalimat hasanah. Ketika dua kata itu menjadi sattu, maka akan tersusun kalimat yang memiliki pengertian nasihat yang baik. Uniknya, tidak pernah kalimat mauizah itu di sandingkan dengan kata sayyi’ah atau mazmumah. Ini menandakan bahwa al-Qur’an itu berisi kumpulan-kumpulan nasihat yang baik yang tidak akan pernah ada unsur keburukan atau kebatilan di dalamnya.

Kemudian, orang yang tidak mengambil al-Qur’an sebagai nasihat, bagaimana mungkin ia bisa menasihati orang lain. Sedangkan sumber dari segala sumber nasihat adalah al-Qur’an. Cara untuk mendapat atau mengambil nasihat dari al-Qur’an adalah dengan cara membacanya. Tidak cukup dengan membaca, tapi harus sampai pada tahap memahami isi dan makna al-Qur’an. Barulah ia dapat mengambil atau mendapat nasihat dari al-Qur’an dengan benar. Lalu ia dapat menyampaikannya kepada orang lain dengan benar pula.

Kematian menjadi pemberi nasihat yang kedua. Pemberi nasihat yang diam. Dulu, Islam melarang muslim untuk ziarah kubur. Kemudian ziarah diperbolehkan. Sebab ziarah adalah salah satu upaya untuk mengingat kematian. Menasihati manusia bahwa semua pasti akan mati. Semua pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini.

Baca Juga:  Puasa Sebentar Lagi, Inilah Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan 1441 H

Kematian bukan hanya suatu kepastian. Namun ia juga adalah awal suatu perjalanan yang panjang. Selayaknya sebuah perjalanan, maka diperlukan bekal yang cukup untuk sampai pada tujuan. Bekal setelah kematian adalah amal-amal selama hidup di dunia. Tidak lagi yang dapat menjadi bekal di akhirat kecuali amal. Bekal seharusnya tidak memberatkan. Begitupun dengan amal, semakin besar amalnya maka akan semakin ringan perjalanannya.

Nasihat dari kematian memberikan kita gambaran tentang perjalanan panjang yang harus di tempuh. Maka kehidupan dunia menjadi sangat penting sekali untuk dilakoni. Tidak lantas mengabaikan dunia dengan terfokus terhadap tujuan akhirat. Bekal itu mesti dibayar dengan keringat yang tidak sedikit. Susahnya berbuat baik, beribadah, dan beramal di dunia sesungguhnya sepadan dengan apa yang akan di dapatkan di akhirat kelak.

Menasihati adalah perilaku yang terpuji. Siapa saja bisa menasihati orang lain. Akan tetapi berbeda dengan menasihati diri. Tidak semua orang bisa menasihati dirinya sendiri. Menurut Imam al-Ghazali, penasihat yang baik adalah ia yang dapat mengambil pelajaran dari nasihat itu. Menjadi baik itu penting. Tapi ketika merasa diri lebih baik dari orang lain, itu salah. Begitupun dengan menasihati orang lain, itu penting, tapi ketika tidak dapat menerima nasihat dari orang lain, itu salah. Maka nasihatilah diri sendiri dengan sering membaca dan memaknai al-Qur’an serta teruslah ingat akan kematian. Itulah sebaik-baik nasihat untuk diri sendiri. Wallahu a’lamu bi al-shawwab

Bagikan Artikel ini:

About Alwi Husein Al Habib

Avatar of Alwi Husein Al Habib
Mahasiswa Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di UIN Walisongo Semarang dan Presiden Monash Institute Semarang