Musa Al-Samiri adalah salah satu pengikut Nabi Musa dari suku Samirah yang memilih murtad di akhir hidupnya. Bahkan ia menjadi penyebab kemusyrikan Bani Israil.

Dalam satu hikayat, konon, Musa As-Samiri adalah anak zina. Ibundanya melahirkannya dan bahkan membiarkannya di sebuah gunung sebatangkara. Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril untuk merawatnya. Ajaib, Musa as-Samiri mendapatkan asupan ASI dari jari jemarinya sendiri.

Saat Jibril turun ke Bumi untuk menenggelamkan Fir’aun di lautan merah. Jibril datang dengan menunggangi seekor kuda jantan yang gagah yang diambilnya di surga.

Setiap jejak tapak kakinya selalu meninggalkan keanehan. Setiap tanah yang diinjaknya, maka tanah tersebut menjadi hitam pekat warnanya dan anehnya lagi. Tanah itu menjadi mengembang seperti adonan roti.

Lama diasuh JIbril, tak butuh waktu lama bagi Musa as-Samiri untuk memahami bahwa tanah ini adalah bekas malaikat Jibril. Kemudian, Musa as-Samiri mengambil tanah bekas injakan kuda Jibril dan menyimpannya.

Tatkala nabi Musa dipanggil Allah ke Gunung Tursinai untuk munajat menerima wahyu. Musa as-Samiri mulai membuat onar, bikin patung anak sapi dari tanah liat dan yang menjadi salah satu campurannya adalah tanah bekas injakan kuda Jibril.

Ajaib ! Ketika patung anak sapi sudah rampung dibuat, patung itu hidup seperti hewan aslinya. Bisa bergerak dan bersuara layaknya gerakan dan suara anak sapi. Maka mulailah Musa as-samiri membuat sebuah propaganda kepada kaum Nabi Musa. “inilah Tuhan kalian dan Tuhan Nabi Musa” kata Musa as-Samiri.

Propaganda Musa as-Samiri ini terekam jelas dalam surat Thaha ayat 88

هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى

inilah Tuhan kalian dan Tuhan Nabi Musa

Coba kita renungkan, musa as-samiri yang diasuh oleh Jibril dan Nabi Musa yang diasuh oleh Firaun keduanya menjadi sosok yang berbeda, berkarakter hitam putih. Musa as-Samiri menjadi seorang munafik dan penginkar, sementara Musa putra Imran menjadi seorang Nabi.

Ini menjadi bukti bahwa asuhan itu tidak menjamin kebaikan. Seseorang yang lahir dalam keluarga baik belum tentu menjadi baik. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang besar dalam keluarga buruk belum tentun menjadi buruk pula.

Namun kebaikan dan keburukan berada dalam kekuasaan dan kehendak Allah semata. Sejalan dengan firman Allah dalam surat al-Fath ayat 10

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Kekuasaan Allah melebihi segala kekuasaan manusia

Namun, tentu saja kebaikan di dalam keluarga harus terus dirawat untuk mencetak generasi yang baik. Namun, pada akhirnya kita serahkan segala urusan itu kepada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.