islamophobia
islamophobia

Pandemi Corona Dimanfaatkan Kelompok Sayap Kanan di Dunia Untuk Gerakkan Islamophobia

Jakarta – Pandemi Corona atau COVID-19 dimanfaatkan kelompok-kelompok sayap kanan di dunia untuk menggerakkkan isu Islamophobia. Mereka melancarkan Islamophobia dengan berbagai cara, terutama melalui hoaks dan fitnah di media sosial. Mereka bahkan tidak segan-segan melakukan serangan secara verbal terhadap umat Muslim.

Di Eropa dan Amerika Serikat paling banyak terjadi Islamophobia. Awal bulan ini, Polisi Inggris menyelidiki kelompok sayap kanan yang menyebar rumor soal Muslim. Tidak hanya di Eropa dan Amerika, di Asia atau tepatnya di India juga terjadi hal yang sama.

Diberitakan The Guardian via laman Kumparan.com, kelompok supremasi kulit putih menggunakan media sosial untuk memfitnah warga Muslim. Di Facebook dan Twitter, mereka menyebar foto dan meme salat berjemaah di masjid Inggris untuk menunjukkan bahwa warga Muslim melanggar physical distancing dan semakin menyebar Corona. 

Salah satu video disebarkan oleh Tommy Robinson, pendiri kelompok radikal Liga Pertahanan Inggris (EDL), dengan klaim adanya “masjid rahasia” di Birmingham. Video itu telah disaksikan 10 ribu kali di Twitter.

Namun klaim itu dibantah oleh kepolisian Inggris dan lembaga advokasi anti-hoaks, Tell Mama. Mereka mengatakan video dan foto itu sudah lama, jauh sebelum wabah virus Corona dan dikeluarkannya larangan keluar rumah di Inggris.

Taktik yang sama digunakan kelompok radikal kulit putih di Amerika Serikat. Diberitakan Huffington Post, kelompok supremasi kulit putih AS mengembuskan rumor bahwa lockdown di kota-kota AS akan dicabut menjelang Ramadhan agar Muslim bisa ibadah di masjid. Padahal, kata mereka, gereja-gereja saja ditutup saat Paskah.

Di India juga demikian. Kelompok Hindu sayap kanan radikal menjadikan Muslim sebagai kambing hitam penyebaran virus Corona. Terutama karena salah satu klaster penyebaran Corona terjadi di markas Jemaah Tablig yang melanggar aturan berkumpul.

Baca Juga:  Prancis Sahkan UU Anti-Separatisme, Aktivis: Legalkan Islamofobia

Meme, foto, dan video soal Muslim di India semakin memicu Islamophobia di negara yang baru saja terjadi konflik agama yang menewaskan 50 orang itu. Salah satu video memperlihatkan pria yang disebut Muslim meludah ke polisi, dituduh sengaja menyebar Corona. Belakangan terbukti video itu tak ada hubungannya dengan Corona, beberapa video ternyata direkam sejak lama.

Sayangnya, sentimen anti-Islam di India bahkan diembuskan juga oleh politikus negara itu. Tokoh senior partai berkuasa, Partai Bharatiya Janata Party, Mukhtar Abbas Naqvi, mengatakan tindakan Jemaah Tablig itu “kejahatan Taliban”.

Kelompok-kelompok sayap kanan di India dan AS bahkan kompak menggunakan tandapagar #Coronajihad untuk mendiskreditkan umat Islam. Mereka menuding Muslim sengaja menyebar Corona untuk membunuh. Menurut lembaga HAM, Equality Labs, tagar ini telah digunakan 300 ribu kali antara 29 Maret dan 3 April.

Berbagai rumor ini telah memakan korban. Di Inggris, dalam sebuah kasus yang dilaporkan ke polisi, seorang wanita berhijab diserang pria tak dikenal. Pria itu batuk ke arah wanita itu, sembari mengatakan bahwa dia menderita Corona. Sayangnya pelaku salah sasaran. Kepada pelaku, korban mengaku telah sembuh dari Corona sehingga kebal virus. Pria itu jengkel dan menyumpahi korban.

Di India, pria Muslim di negara bagian Himachal Pradesh bunuh diri setelah dikucilkan di desanya karena dituduh bawa Corona. Padahal dia negatif virus. Pedagang buah dan toko-toko milik warga Muslim di Haldwani, dilarang berjualan karena rumor yang tersebar.

Menghadapi fenomena ini, berbagai lembaga HAM menyerukan Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya menerapkan filter ketat. Equality Lab juga meluncurkan tagar tandingan #StopCOVIDIslamophobia untuk melawan Islamophobia di tengah wabah. 

“Organisasi seperti Facebook dan Twitter punya kewajiban besar, dan mereka bertanggung jawab atas apa yang terjadi di platform mereka karena orang-orang mati karena apa yang tertulis di Twitter,” kata pernyataan Equality Labs.

Baca Juga:  Rekrutmen NII Kembali Marak Di Masyarakat, Ini Saran LBM Nahdlatul Ulama Untuk Bentengi Masyarakat

Claire Wardle, direktur First Draft News, LSM pemberantas hoaks dan misinformasi di AS, mengatakan lembaga pemberitaan saat ini juga harus memperketat upaya pengecekan informasi agar tidak semakin menyebarkan rumor yang merugikan umat Islam.

“Kami melihat virus Corona jadi alasan munculnya tindakan rasialisme dan xenofobia,” kata Wardle.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

kisah nabi adam

Begini Kisah Wafatnya Nabi Adam dan Permintaan Terakhirnya

Jakarta – Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Nabi Adam …

Paham radikalisme pernah menyaru dengan pariwisata pantai di Garut selatan Salah satunya di Desa Mekarwangi Cibalong Yuk lihat keseharian warga Cibalong Pradita Utamadetikcom

Thogutkan Pancasila, Masuk Surga Cukup Bayar Rp 25 Ribu

Garut – Penyebaran paham radikal sudah seperti virus Covid- 19, menyebar dan menyusup ke berbagai …