dakwah rasulullah
dakwah rasulullah

Pelajaran Ramadan dari Dakwah Rasulullah yang Selalu Memberikan Solusi

Ketika datang bulan Ramadan, Rasulullah memiliki kebiasaan berkumpul bersama jamaahnya di masjid Nabawi, kala itu, bertepatan di awal bulan Ramadan. Sebagaimana kita tahu bahwa bulan ramadan merupakan bulan berkah di mana segala amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Rasululah dan para sahabat juga tak mau kehilangan momen berharga tersebut.

Di bulan Ramadan ini perkumpulan dalam sebuah majlis tersebut dimulai setelah shalat subuh. Saat itu para jamaah tengah asyik mendengarkan tausiyah dari beliau. Tiba-tiba muncul dengan wajah yang bingung dan sedih seorang sahabat di hadapan Rasulullah. Dengan mengucap salam, pria itu berkata kepada Rasul dengan sangat pelan.

“Celaka aku wahai Rasulullah!” ucap pria tersebut, dengan penuh heran Rasulullah menanyakan kepadanya apa yang sedang terjadi kepadanya. Ia pun menjawab dengan wajah yang memerah “Aku bersetubuh dengan istriku pada siang hari wahai Rasul! Padahal, aku dan istriku sedang berpuasa.”  Rasulpun berkata, “Sahabatku! Bagaimana engkau ini?  bukankah aku telah mengatakan, apabila sedang berpuasa, seseorang janganlah berkata keji, bersetubuh, dan jangan menghina orang lain.”

Kemudian Rasulullah pun memberikan solusi atas tindakan pria tersebut seraya bertanya kepadanya, “Mampukah engkau memerdekakan seorang budak sebagai kafarat atas tindakanmu itu?”  Pria tersebut pun menjawab, “Itu di luar kemampuanku wahai Rasulullah?”

Kemudian Beliau memberikan alternatif kedua, dan berkata, “Baiklah, kalau begitu, mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” . “Bagaimana aku mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut, wahai Rasulullah. Baru beberapa hari berpuasa saja sudah terjadi kejadian seperti ini.” jawab pria.

“Jika tidak bisa berpuasa selama dua bulan berturut-turut maka, mampuhkan engkau memberi makan 60 orang miskin?” tanya Rasulullah. “Tidak, wahai Rasulullah!” jawab pria itu. Mendengar jawaban terakhir pria itu Rasulullah lantas memerintahkan seorang sahabat dari kalangan Anshar untuk mengambil sekaranjang kurma. Rasulullahpun meminta untuk pria yang melakukan kesalahan tersebut untuk mensedekahkan sekeranjang kurma tersebut orang yang kehidupannya lebih miskin daripada kehidupan pria tersebut.

Baca Juga:  Amalan Rasul Bernama Istighfar

Dan pria tersebut menjawab lembut kepada Rasulullah, “Maafkanlah kami, wahai Rasulullah, demi zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, nampaknya di antara dua gunung Madinah tak ada keluarga yang lebih memerlukan kurma ini ketimbang keluargaku.”

Mendengar jawaban dari pria tersebut, Rasulullahpun kemudian berkata kepada pria tersebut seraya tersenyum. “Sahabatku, pergilah dan berikanlah kurma ini kepada keluargamu”. Dengan rasa kaget pria tersebut memohon diri kepada Rasulullah dan kembali kepada keluarganya dengan memanggul sekaranjang buah kurma.

Kisah ini sebenarnya bisa menjadi tauladan bagi kita semua tentang dakwah dan ajaran agama yang selalu memberikan solusi. Agama memang tidak boleh dientengkan, tetapi ajaran agama sepenuhnya tidak memberatkan. Lihatlah bagaimana Rasulullah berdakwah dengan selalu memberikan solusi. Fatwa keagamaan bukan menakuti, tetapi mencari alternatif solusi.

Ketidakbisaan dan ketidakmampuan dalam Islam selalu diletakkan sebagai syarat dalam mengerjakan ibadah dan kewajiban. Karena itulah, ketidakmampuan menjadi pertimbangan dalam menjalankan hukum. Jika agama tidak bisa dipaksakan, begitu pun ajaran agama tidak bisa dipaksakan kepada pemeluknya sendiri yang merasa tidak mampu.

Pelajaran berikutnya adalah tentang dakwah yang tidak mencerca kesalahan. Rasulullah selalu menampakkan senyum atas semua kesalahan keagamaan yang dilakukan para sahabatnya. Tidak mencerca apalagi memaki. Rasulullah justru selalu memberi dakwah yang memberikan solusi.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

ridha orang tua

5 Kunci dalam Al-Qur’an untuk Mendapatkan Ridha Orang Tua

Setiap orang tua mengidamkan untuk memiliki anak yang berbakti. Begitu pula seorang anak juga mempunyai …

rebo wekasan

Rebo Wekasan : Tradisi, Kepercayaan dan Amalan

Dalam masyarakat Madura, Jawa, dan sunda pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah rebo wekasan …