Pemikiran Keislaman Fazlur Rahman

0
3052
fazlur rahman

Fazlur Rahman dikenal luas sebagai tokoh intelektual muslim kontemporer. Ia lahir di Pakistan, dan menjadi guru besar dalam kajian Islam di pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago.

Pemikirannya turut mempengaruhi terhadap wacana keislaman di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Ahmad Syafi’i Ma’arif termasuk di antara muridnya saat menempuh studi di Amerika.

Setidaknya, ada dua aspek yang menjadi pokok pemikiran Rahman. Pertama, tentang metodologi tafsir al-Qur’an. Di dalam buku Islamic Methodology in History (1965), Rahman menjelaskan evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Alquran, Sunnah, Ijtihad dan Ijma’). Dalam kajian historisnya ini, Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi Muhammad dan aktifitas ijtihad-ijma’.

Bagi Rahman, sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal, yakni melalui instrumen qiyas terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau “sunnah yang hidup”. Di sini, secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi, dengan “sunnah hidup” kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. Dengan demikian, ijma’ pada asalnya tidaklah statis, melainkan berkembang secara demokratis, kreatif dan berorientasi ke depan.

Rahman secara terus terang menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad. Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah. Pertama, menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim. Kedua, menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad. Dan ketiga, memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. Hasilnya, kesimpulan Rahman, ”ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup”.

Metodologi yang ditawarkan Fazlur Rahman adalah “gerakan ganda” (double movement), dengan pendekatan sosio-historis dan sintetis-logis. Pendekatan historis disertai dengan pendekatan sosiologis, yang khusus memotret kondisi sosial yang terjadi pada masa al-Qur’an diturunkan. Gerakan ganda adalah masuk ke akar sejarah untuk menemukan ideal moral suatu ayat dan membawa ideal moral itu ke dalam konteks kekinian.

Baca Juga:  Mengenal Fatimah Al-Nishaburiyah: Seorang Sufi Perempuan

Pendekatan itu digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat hukum. Sedangkan sintetis-logis adalah pendekatan yang membahas suatu tema dengan cara mengevaluasi ayat-ayat yang berhubungan dengan tema yang dibahas. Pendekatan ini digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat metafisis-teologis. Jelas, di sini ditekankan keterpaduan wahyu. Dengan ijtihadnya tersebut sesungguhnya Fazlur Rahman telah berjasa besar dalam merumuskan sebuah pemikiran Islam yang sistematis dan komprehensif.

Konsep Negara Islam

Kedua, tentang negara Islam. Banyak opini yang berkembang dalam masyarakat Islam, bahwa tidak ada satupun negara di dunia sekarang ini sebagai negara Islam. Alasan meraka adalah tidak ada negara yang telah menanamkan dirinya sebagai negara Islam yang mampu menerapkan seluruh ajaran Islam. Rahman tidak menjadikan negara-negara yang sebagian besar pendudukya umat Islam atau paling tidak warganya sendiri mengakui negaranya sebagai Negara Islam, sebagai model Negara Islam yang dirumuskanya, tidak pula membuat syarat-syarat yang ketat sebagi difinisi negara Islam.

Menurut Rahman, negara Islam adalah organisasi yang dibentuk masyarakat muslim itu dalam rangka memenuhi keinginan mereka dan tidak untuk kepentingan lain. Dari rumusan ini terlihat ide Rahman mengenai difinisi negara Islam ada hubungannya dengan sejarah terbentuknya negara Pakistan atas dasar keinginan umat Islam yang ingin mendirikan negara sendiri yang terpisah dari India yang mayoritas Hindu.

Definisi negara Islam yang dibuat oleh Rahman tampak rumusannya agak fleksibel, tidak begitu ketat dengan syarat-syarat tertentu. Hal ini barangkali sengaja dirumuskan oleh Rahman agar umat Islam tidak terlampau kaku dalam merumuskan negara Islam dan tidak terlampau sulit dalam memenuhi cita-cita mereka untuk membangun sebuah negara yang mereka inginkan.

Negara Islam menurut Rahman adalah suatu negara yang didirikan atau dihuni oleh umat Islam dalam rangka memenuhi keinginan mereka untuk melaksanakan perintah melalui Wahyu-Nya. Rahman menekankan masyarakat Islam adalah masyarakat yang tidak terjebak pada ekstrimitas, dan ulil al-amri-nya (para pemegang kekuasaan) adalah mereka yang tidak menerima konsep elitisisme ekstrim. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang egaliter dan terbuka atau inklusif, saling berbuat baik dan kerjasama, dan tidak melakukan diskriminasi berdasarkan gender atau kulit.

Baca Juga:  Sahabat Abu Hurairah: Gudangnya Hadist Nabi

Selanjutnya Fazlur Rahman menjelaskan konsep syura (musyawarah). Syura bukan berarti bahwa seseorang meminta nasehat kepada orang lain, seperti yang terjadi dahulu antara khalifah dan ahl halli wa al–‘alqd, tetapi nasehat timbal balik melalui diskusi bersama.

Tentu saja konsep demokrasi yang dipilih  Rahman ini dengan, katanya lebih lanjut, berorientasi pada etika dan nilai spiritual Islam, tidak semata-mata bersifat material seperti di Barat. Karena pilihannya pada sistem demokrasi itulah, ia mengkritik para tokoh Islam yang menentang demokrasi, seperti terhadap al- Maududi.

Tinggalkan Balasan