kotoran kuku
kotoran kuku

Perdebatan Ulama: Apakah Kotoran dalam Kuku Membatalkan Wudhu?

Di antara syarat sahnya shalat adalah suci dari najis dan hadas. Otomatis shalat menjadi batal bila dua syarat tersebut tidak terpenuhi. Dalam kitab-kitab fikih bahasan ini menjadi kajian serius, mengingat keduanya menentukan sah atau batalnya shalat sebagai ibadah yang paling vital dalam agama Islam.

Bagaimana cara mensucikan najis dibahas tersendiri dan sedikit panjang penjelasannya. Sementara disini penulis hanya fokus pada perdebatan ulama soal kotoran yang melekat di dalam kuku, apakah membatalkan wudhu atau tidak? Sebab diantara syarat sahnya wudhu harus tidak ada benda yang melekat pada kulit anggota wudhu yang menghalangi sampainya air terhadap kulit tersebut.

Poin ini penting dibahas karena sebagian orang, terutama mereka yang bekerja bertani, berkebun, kerja bangunan, menyadap karet dan pekerjaan kasar lainnya sering berhadapan dengan problem ini. Ada kalanya karena lupa membersihkan kotoran yang yang ada di dalam kuku dan ada pula karena sebab sulit menghilangkannya.

Untuk itu perlu mengetahui pendapat ulama tentang hal ini, apakah membatalkan wudhu atau tidak? Syukur-syukur kalau ada pendapat yang mengatakan tidak batal sehingga tidak menyulitkan terhadap para pekerja yang selalu bersentuhan dengan kotoran.

Zainuddin al Malibari, dalam kitabnya Fathul Mu’in menulis, mayoritas ulama berpendapat bahwa kotoran yang ada dalam kuku jika menjadi penghalang sampainya air ke kulit adalah membatalkan wudhu.

Akan tetapi Hujjatul Islam, Imam al Ghazali seorang fakih dan ushuli menentang pendapat mayoritas ulama tersebut. Penulis kitab ushul fikih Al Mustashfa ini berpendapat kebalikannya. Yakni, kotoran yang ada dalam kuku tidak membatalkan wudhu.

Pendapat Imam Ghazali ini didukung oleh Imam al Zarkasyi dan ulama-ulama ahli fikih yang lain. Para ulama yang ada di barisan ini memberikan argumen yang panjang lebar untuk menguatkan pendapat mereka bahwa kotoran yang ada di dalam kuku adalah ditolerir, kecuali kotoran tersebut berupa adonan roti.

Baca Juga:  Berzina Dosa Besar, Menuduh Orang Berzina juga Dosa Besar

Satu lagi ulama yang mendukung pendapat Imam Ghazali adalah Imam al Kurdi seperti termaktub dalam kitab Hawasyi Al Syirwani, mengutip pendapat Imam al Zayyadi dalam kitab Syarah Al Muharrar. Menurut al Kurdi masalah kotoran kuku, baik kuku kaki ataupun kuku tangan, menjadi fenomena yang umum terjadi dan sulit untuk dihindari. Karenanya semestinya memang tidak membatalkan wudhu.

Senada dengan pendapat ini bisa dijumpai dalam kitab Hasyiyah al Tuhfah dan Ziyadatu Al ‘Ubadi. Kotoran kuku tidak menghalangi sahnya wudhu sebab sulit untuk dihilangkan (ma’fu). Bedanya halnya dengan adonan roti wajib untuk dihilangkan karena jarang terjadi dan mudah menghilangkannya.

Kembali lagi pada paparan Syaikh Zainuddin al Malibari dalam Fathul Mu’innya, Imam al Adzra’i mensinyalir lemahnya pendapat yang dikemukakan oleh al Ghazali dan kawan-kawan. Menurutnya, penjelasan dalam kitab Al Tatimmah dan kitab Al Raudhah dan beberapa kitab fikih yang lain menyatakan bahwa kotoran di bawah kuku tidak ditolerir (tidak dima’fu) jika menjadi penyebab air tidak sampai kepada kulit di ujung kuku.

Dipihak lain, Imam al Baghawi, fakih sekaligus mufassir ternama, pengarang tafsir yang kitabnya populer dengan Tafsir al Baghawi justru membuat klasifikasi. Menurutnya, jika kotoran yang ada di bawah kuku berasal dari debu maka membatalkan wudhu. Tetapi jika kotoran tersebut akibat keringat sendiri yang kemudian mengeras maka wudhunya tidak batal.

Ikut pendapat yang mana? Hal pertama yang harus kita perhatikan bahwa dalam ibadah kita harus hati-hati, tidak boleh mengambil yang paling ringan bila mampu mengerjakan pendapat yang lebih berat. Maka dalam menyikapi beda pendapat para ulama seperti telah ditulis di depan, kita harus bersikap proporsional.

Baca Juga:  Shalat Nisfu Sya’ban Bid’ah Menurut Sebagian Ulama, Ini Solusinya !

Bagi Meraka yang tangannya jarang bersentuhan dengan kotoran, seperti pekerja kantoran, alangkah baiknya mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa kotoran di dalam kuku membatalkan wudhu. Sementara untuk pekerja kasar yang selalu bersentuhan dengan benda kotor lebih baik mengikuti pendapat yang tidak membatalkan.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam …

salah kiblat

Setelah Shalat Baru Menyadari Ternyata Salah Arah Kiblat?

Titah-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram” (al Baqarah: 145) Yang dimaksud adalah menghadap …