Sebagai dogma, kewajiban puasa Ramadhan tak layak diusik lagi. Apalagi diingkari. Namun, dalam rangka edukasi, ibadah ini perlu dikuak, agar mendalam dipahami dan juga dijalankan. Termasuk juga historisitasnya.

Di Indonesia, Ramadhan serempak dijalankan. Bahkan, penentangnya dianggap ‘Pendosa’. Bukan hanya itu saja, yang tak berpuasa bakal mendapatkan sanksi sosial. Termarginalkan secara natural. lalu Bagaimana potret ibadah Puasa di Era Rasul?

Usut punya usut, di era Rasulullah, para  sahabat rupa-rupanya tak serempak menjalankan ibadah ini. Kok begitu?! Berawal dari firman Allah yang multi tafsir :

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya : Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin (QS: Al-Baqarah:184).

Al-Alusi, al-Baidhawi, dan Abu Sa’ud sejalan menafsirnya dengan orang-orang yang mampu berpuasa walaupun agak memaksa, namun tidak melakukannya, maka orang seperti ini wajib membayar fidyah berupa makanan pokok seberat satu mud (600 gram) (Ruh al-Ma’ani, 2/58).

Saat ayat ini diturunkan Allah kepada Rasulullah, dan disampaikan kepada sahabat terdapat beragam reaksi pemahaman ekspresi keberagamaan muncul di kalangan Sahabat. Ada yang berpuasa, ada yang tidak, namun memilih membayar fidyah.

Potret ketidakserempakan ini jelas tercover dalam hadits nabi :

عن سلمة بن الأكوع رضي الله عنه ، قال : ” لما نزلت هذه الآية : وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين كان من أراد أن يفطر ويفتدي ، حتى نزلت الآية التي بعدها فنسختها

Dari Salamah Ibn al-Akwa’ ra. Berkata: ketika ayat QS: al-Baqarah:184 ini turun, maka ada orang (Sahabat) yang tidak berpuasa, namun membayar fidyah. Hingga turun ayat berikut yang menganulir (menasakh) ayat al-Baqarah 184. (HR: Muslim:1996).

Ayat berikutnya yang dimaksud adalah :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya : Barangsiapa di antara kamu hadir menyaksikan terbitnya bulan(di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah (wajib baginya) ia berpuasa pada bulan itu (QS al-Baqarah:185).

Ayat 185 menghapus ambiguitas kewajiban puasa Ramadhan. Tak ayal, Sahabat tak memiliki alasan untuk tidak berpuasa. Di kalangan para cendekia muslim, ini disebut nasakh al-Qur’an dengan al-Quran. Apakah boleh? Mereka sepakat membolehkan (Rawai’ al-bayan, 1/105).

Ketika Rasulullah menginjakkan kaki pertama kali di Kota Madinah. Puasa yang rutin dilakukan-Nya adalah Puasa Asyura’ dan Ayyam a-Bidh. Baru, pasca turunnya ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS: al-Baqarah:183).

Rasul melakukan Puasa Ramadhan. Itupun dengan potret ketidakserempakan dari sahabat dengan pemahaman yang masih ambigu itu (Jami’ al-Bayan, Ibnu Jarir al-Thabari, 2/132).

Ramadhan kali ini sangat istimewa, pas dengan pandemi, itu artinya, akan ada banyak soal yang harus dijawab umat sebagai ujian tahun ini, dalam menunaikan ibadah puasa. Kalkulasinya, semakin banyak soal yang dijawab, makin banyak pula nilai yang didapat. Nabi bersabda:

أجرك على قدر عملك

Pahalamu sesuai dengan kadar perbuatanmu (HR: Ibnu Hajar al-Asqalani:3043).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.