demonstrasi

Ragam Demonstrasi Menurut Imam Al Ghazali

Demo anti Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja isunya masih akan berlanjut. Entah kapan dan sampai kapan. Demokrasi memang telah memberikan justifikasi terhadap penyampaian ide, gagasan, dan penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang dipandang gagal memberikan manfaat besar kepada rakyat.

Terlepas apakah Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja tidak berpihak pada buruh, pekerja dan masyarakat tingkat bawah, atau justru salah memahami undang-undang ini, yang jelas sebagian masyarakat Indonesia telah turun ke jalan sebagai bentuk protes dan penolakan.

Namun perlu diketahui, khususnya bagi umat Islam, bahwa menyampaikan pendapat dengan cara unjuk rasa harus tidak menyimpang dari aturan agama. Dengan kata lain, ketika melakukan demo harus tetap mematuhi adab atau etikanya sesuai dengan aturan main dalam ajaran Islam.

Ada beberapa ragam bentuk dan adab Unjuk rasa atau berdemo salah satunya ditulis oleh Imam Ghazali dalam karya besarnya Ihya’ Ulumuddin. Tulisnya, amar ma’ruf itu memiliki tingkatan-tingkatan.

Pertama, Al Ta’rif, yakni, menyampaikan penjelasan, memberikan koreksi dan menawarkan solusi.

Kedua, Al Wa’dzu bi al Kalam al Latif atau memberi nasehat cara yang lemah lembut.

Ketiga, al Sabbu wa al Ta’nif, mencela dan mencaci maki dengan kata-kata yang keji, kotor, kasar, tidak senonoh, tidak sopan dan seterusnya.

Keempat, al Man’u bi al Qahr, yaitu mencegah kemungkaran dengan cara langsung.

Dan, kelima dengan cara al Takhwif wa al Tahdid bi al Dharbu, dengan cara menakut-nakuti dan ancaman dengan dipukul.

Inilah adab atau etika menyampaikan aspirasi dengan cara turun ke jalan atau lebih ngetren dengan istilah demo. Untuk itu, penting memperhatikan apa yang disampaikan oleh Imam Ghazali di atas. Sebab, berdasarkan alasan apapun, merusak pepohonan, menghancurkan fasilitas, dan cara anarkis yang lain bertentangan dengan spirit ajaran Islam.

Baca Juga:  Islam Kaffah Yes, Khilafah No!

Demonstrasi harus mampu menyampaikan koreksi dan solusi, bukan sekedar mengumbar emosi apalagi mencaci maki. Jika itu yang terjadi sebenarnya aspek subtansial dari demonstrasi menjadi hilang dan hukumnya menjadi berbeda. Demonstrasi dalam arti menyampaikan pendapat dan membela kemashlahatan adalah hal baik. Dan akan berubah menjadi hal dilarang jika dengan menggunakan pendekatan yang berbeda.

Kita diberikan pilihan apakah demonstrasi untuk menjelaskan dan menyampaikan korkesi dan solusi dengan kata-kata santun. Ataukah pilihan kita jatuh pada demonstrasi yang mengumbar emosi, mencaci bahkan mengintimidasi.

Bagikan Artikel

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo