bahagia dunia dan akhirat
bahagia

Resep Kebahagiaan Dunia Akhirat

Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam yang bergelar Sultanul Aulia dalam kitabnya Syajaratul Ma’arif memberikan resep kebahagiaan dunia dan akhirat. Beliau yang bernama lengkap ‘Izzuddin Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abul Qasim al Sulami al Syafi’i dengan lugas menggambarkan bagaimana relasi manusia dengan Tuhan dan antar sesama yang dapat membuat hidup seseorang bahagia, tentram dan damai.

Tulisnya, di antara nilai lebih yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah bisa berkata-kata, menjelaskan, memiliki akal dan pengetahuan. Setelah keistimewaan itu diberikan kepada manusia kemudian Allah mendidik mereka dengan al Qur’an. Titah-Nya dalam al Qur’an memerintahkan kepada manusia untuk selalu berbuat kebaikan, berupaya menciptakan kebaikan (Ihsan), melarang perbuatan dosa dan permusuhan.

Al Qur’an menginformasikan bahwa semua perbuatan manusia berkonsekuensi pada dua muara, yaitu surga dan neraka. Semua amal manusia, baik dhahir (perbuatan yang tampak) maupun bathin (amal hati) menghantar manusia pada dua tujuan. Yaitu, keridhaan Allah dan mendapatkan nikmat surga atau menghantar pada kemurkaan Allah serta diganjar dengan neraka dan siksa, kecuali Allah mengampuninya.

Untuk menggapai kebahagian tidak ada jalan lain kecuali mendekati Allah. Sebab kebahagiaan hanya bisa terwujud dengan dua cara. Pertama, mengenali pencipta dan mematuhi segala perintah-Nya baik ketika sendirian maupun disaat bersama orang lain. Kedua, menjauhi larangan-Nya seperti kekufuran dan kefasikan yang dilakukan oleh anggota badan maupun hati.

Maka, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki hati. Karena ia merupakan sumber kebaikan, sumber dosa dan sumber permusuhan. Memperbaiki hati adalah dengan mengenal Tuhan dan mengisinya dengan keimanan yang kuat. Hati seperti ini yang secara otomatis akan membawa pada ketaatan. Sebaliknya, hati yang rusak sebab kebodohan dan kekufuran membawa manusia pada kemaksiatan dan perbuatan dosa.

Baca Juga:  Lapar Karena Berpuasa, Apa Faedahnya? Ini Jawaban Imam al-Ghazali!

Kebaikan dan Keburukan

Kebaikan hati itu ada dua macam. Pertama, kebaikan hati yang sifatnya pribadi, seperti iman. Kedua, bisa dirasakan oleh orang lain, seperti kedermawanan dan berbuat baik terhadap orang lain. Begitu juga kebaikan anggota badan meliputi dua hal. Yaitu, kebaikan yang bersifat individual seperti ruku’ dan sujud dan kebaikan terhadap orang lain seperti memaafkan kesalahan orang lain dan dermawan kepada sesama.

Keburukan hati juga meliputi dua hal, keburukan yang berakibat hanya pada pribadi yang bersangkutan dan keburukan yang bisa menimpa orang lain. Keburukan hati yang yang merusak diri sendiri seperti keraguan dan syirik. Sementara yang membahayakan orang lain seperti permusuhan dan kedzaliman.

Keburukan anggota badan juga demikian. Ada yang hanya berdampak pada pribadi yang bersangkutan seperti meninggalkan ibadah, dan yang berdampak pada orang lain seperti namimah (menyebar hoax, fitnah dan penistaan) dan kedustaan atau kebohongan.

Inilah tuntunan Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam kepada kita untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tujuannya, supaya menjadi manusia (khalifah) yang unggul, dan sukses mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi. Karakteristik manusia sukses di dunia dan akhirat adalah berpikir kritis, objektif dan bersikap terbuka (QS. al Zumar: 18; al Maidah: 100;), taat beribadah (QS. al Zumar: 9), mengetahui hakikat Tuhan, beriman dan bertakwa (QS. Ibrahim: 52; al Thalaq: 10), memiliki kesalehan sosial (QS. al Baqarah: 197), memahami titah Tuhan dalam al Qur’an (QS. al Baqarah: 269, Ali Imran: 7, al Ghafir: 53).

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

dakwah menarik simpati

Dakwah Nabi Menarik Simpati, Bukan Anarki

Sejak dulu, musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Hasrat membunuh manusia-manusia berotak reptil yang menjadi penyebab …

prinsip perdamaian

Melindungi dan Menjamin Keamanan adalah Perintah Agama

Apapun bentuk dan modelnya, radikalisme yang mengarah pada terorisme merupakan tindakan yang tidak sesuai syariat …