Sejarah Peradaban Arab Pra-Islam

0
1072
sejarah pra islam

Memperlajari sejarah peradaban Arab pra-Islam menjadi penting untuk melihat sejauhmana Islam menempatkan diri sebagai pemikat hati bangsa Arab.


Negara Arab yang dikenal sebagai negara yang identik dengan peradaban Islam tidaklah terjadi secara tiba-tiba. Justru sebaliknya, terdapat peradaban pra-Islam, yang penting diketahui dan disadari, sehingga muncul kesadaran kolektif, bahwa Islam yang memiliki misi dakwah berjalan efektif, merubah wajah peradaban sebuah bangsa.

Untuk memotret peradaban pra-Islam, perlu ditinjau dari berbagai aspek. Pertama, bidang agama. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab telah menganut bermacam-macam agama, seperti paganisme, Kristen, Yahudi, dan Majusi. Menurut Nurcholis Madjid (1990), masyarakat Arab mengenal agama tauhid sejak kehadiran Nabi Ibrahim as. Bekas yang masih tersisa adalah penyebutan Allah sebagai Tuhan mereka. Ada pula peninggalan fisik berupa Baitullah dan Ka’bah yang berada di pusat kota Mekkah

Dalam perkembangannya, masyarakat Arab yang semula percaya kepada Allah, mengalami banyak penyimpangan terhadap ajaran tauhid. Pada umumnya mereka menjadikan berhala sebagai sesuatu yang sangat dekat yang menentukan kehidupan mereka.

Penyembahan berhala pada mulanya  terjadi ketika orang-orang Arab pergi ke luar kota Mekkah. Mereka selalu membawa batu yang diambil dari sekitar Ka’bah. Mereka menyucikan batu dan menyembahnya di manapun mereka berada, lalu dibuatlah patung yang terbuat dari batu untuk disembah dan orang-orang mengelilinginya (thawaf). Kemudian mereka memindahkan patung-patung itu yang jumlahnya mencapai 360 buah dan diletakkannya di sekitar Ka’bah.

Beberapa nama patung yang terkenal masa pra-Islam adalah Manah atau Manata di dekat Yasrib atau Madinah; al-Latta di Thaif (patung tertua); al-Uzza di Hijaz; Hubal atau patung terbesar yang terbuat dari batu akik yang berbentuk manusia dan di letakkan di dalam Ka’bah.

Meski begitu, di kalangan bangsa Arab masih ada yang tidak menyukai menyembah berhala, seperti Waraqah bin Naufal dan Usman bin Huwairis, yang menganut agama Kristen; Abdullah bin Jahsy, menganut agama Masehi; Zaid bin Umar, Umayah bin Abi as-Salt dan Quss bin As’idah al-Iyadi, yang tidak tertarik kepada agama Masehi, tetapi juga enggan menyembah berhala, sehingga mendirikan agama sendiri, dan lain sebagainya.

Kedua, bidang politik. Bangsa Arab di sekitar Mekkah, khususnya suku Quraisy, mengembangkan sistem pemerintahan oligarki yang membagi-bagi kekuasaan berdasarkan bidang-bidang tertentu. Ada kabilah tertentu yang bertugas menangani masalah peribadatan, pertahanan, dan perekonomian.

Ketiga, bidang ekonomi. Bangsa Arab telah mencapai perkembangan ekonomi yang pesat. Mekkah bukan saja merupakan pusat perdagangan lokal melainkan sudah menjadi jalur perdagangan dunia yang penting saat itu, yang menghubungkan antara utara (Syam), selatan (Yaman), timur (Persia), dan barat (Mesir dan Abbessinia).

Keempat, bidang seni-budaya. Sastra mempunyai arti penting dalam kehidupan bangsa Arab. Mereka mengabdikan peristiwa-peristiwa dalam syair yang diperlombakan setiap tahun di pasar seni Ukaz, Majinnah, dan Zu Majaz. Bangsa Arab juga memiliki kemampuan menghafal sangat tinggi, terutama menghafal syair-syair.

Penyimpangan masyarakat Arab terhadap prinsip-prinsip kebenaran dalam ajaran tauhid, Nabi Muhammad Saw. memutuskan untuk banyak melakukan kontemplasi di Gua Hira. Nabi Muhammad Saw., yang sejak muda telah memperoleh gelar al-amin (terpercaya) diamanahi Allah Swt. untuk menjadi Nabi dan rasul-Nya yang ditandai dengan turunnya wahyu, di usia 40 tahun. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. adalah Q.S al-’Alaq; “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan…”.

Wahyu kedua turun ketika Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan berselimut karena menggigil setelah mendengar suara gemerincing yang keras, yang tidak pernah didengar sebelumnya. Pada saat itu Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu Q.S al-Mudatsir; “Hai orang yang berselimut! Bangun dan sampaikanlah peringatan. Dan agungkanlah Tuhanmu. Pakaianmu pun bersihkan. Dan hindari perbuatan dosa…”.

Pada akhirnya, dalam sejarah, disebutkan bahwa orang-orang pertama yang mempercayai kenabian Muhammad Saw. adalah Khadijah (istrinya), Ali bin Abi Thalib (keponakan), Zaid bin Haritsah (mantan hamba sahaya).