mendidik anak
mendidik anak

Seni Menyayangi Anak Ala Nabi Muhammad

Salah satu hadits Nabi Muhammad tentang peran penting orang tua bagi anak anaknya yang sering kita dengar adalah:

Dari Abdullah bin Amr radliallahu `anhuma dari Nabi shallallaahu `alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Ridha Allah terdapat pada ridha orang tua, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua.” (HR. Tirmidzi) [No. 1899 Maktabatu Al Ma`arif Riyadh]

Hadits di atas menyimpan pesan kepada anak dan kepada orang tua. Kepada anak, Rasulullah mengajarkan untuk selalu taat dan memuliakan ayah dan ibunya. Kepada orang tua, Rasulullah menegaskan bahwa orang tua merupakan kunci kesuksesan anak anaknya. Yang dimaksud sukses adalah anak anak mendapatkan hidup yang berkah dan diridhai Allah Swt di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, hadits ini memberikan panduan dalam membangun hubungan antara anak dan orang tua, agar baik anak maupun orang tua dapat memahami peran dan kewajiban masing – masing. Anak wajib memuliakan dan berbuat baik kepada orang tua. Orang tua wajib meridhai dan mendukung anak anaknya dalam kebaikan agar tiap langkah hidupnya mendapatkan kucuran ridha dan pertolongan Allah Swt.

Hubungan anak dan orang tua kadang tidak berjalan mulus seperti yang diinginkan. Terkadang orang tua memiliki harapan harapan khusus yang disandarkan kepada anak. Hal itu bersifat wajar dan manusiawi karena siapapun orang tua pasti mendambakan yang terbaik bagi anak anaknya. Namun demikian, sebagai orang tua, tidak diperkenankan untuk memaksakan kehendak karena yang demikian dapat membebani, melukai hati dan perasaan sang anak.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (1865 – 1935), ahli tafsir terkemuka dari mesir menyatakan bahwa memaksakan kehendak kepada anak seperti memilihkan sekolah tanpa persetujuan, memaksakan perjodohan atau bahkan memaksa anak berpisah dari pasangan hidupnya yang sah dan dicintai adalah hal yang tidak direstui agama. Mengikuti kemauan orang tua dalam keadaan terpaksa bukanlah bagian dari kewajiban berbuat baik kepada orang tua.

Baca Juga:  Lapar Karena Berpuasa, Apa Faedahnya? Ini Jawaban Imam al-Ghazali!

Nabi Muhammad saw mengajarkan agar orang tua menyayangi dan memperlakukan anak dengan akhlak yang baik dan sikap lemah lembut. Nabi selalu memperlakukan anak anak dengan penuh kasih sayang. Yang demikian adalah dalam rangka melindungi hati anak dari pengalaman traumatis yang bisa membekaskan luka yang sukar sembuh bahkan hingga dewasa.

Suatu kali Ummu Qais binti Mihshan datang menemui Rasulullah dengan membawa bayi. Beliau menggendong bayi itu lalu memangkunya. Tetapi tidak lama kemudian bayi itu buang air hingga membasahi baju Nabi. Maka Ummu Qais pun merenggut bayi itu dari gendongan Nabi dengan keras. Nabi Muhammad pun bersabda, “ kencing ini dapat hilang hanya dengan mengguyurkan air. Tetapi betapa sulit menghilangkan renggutanmu yang kasar itu dari benaknya”.

Teladan Nabi Muhammad itu mengajarkan kepada kita untuk menjaga anak anak dari pengalaman traumatis yang dapat mengganggu pertumbuhan sisi emosi dan spiritual sang anak. Dalam teori psikologi modern, pengalaman traumatis di masa kecil dapat membekas dan memengaruhi corak kepribadian sang anak.

Kasih sayang bagi anak adalah kebutuhan dasar. Namun dalam pemenuhannya, orang tua harus memahami rambu rambunya, agar kasih sayang yang diberikan dapat terserap dalam proporsi yang pas. Kasih sayang berlebihan dapat menjerumuskan anak dalam jurang kerusakan, begitu pula anak anak yang kekurangan kasih sayang rentan menjadi pribadi yang bermasalah ketika dewasa.

Memberikan kasih sayang secara proporsional artinya kita membimbing anak anak dengan pendekatan yang memanusiakan dan sesuai dengan fitrah. Anak anak memiliki potensi dan kecerdasan luar biasa. Kasih sayang yang membangun dapat menjadi stimulus yang membantu mereka tumbuh dengan optimal mengasah diri menuju versi yang terbaik.

Baca Juga:  Lakukan 2 Cara Ini agar Menang Melawan Nafsu

Nabi Muhammad memberikan teladan salah satunya adalah dengan memanggil mereka dengan panggilan yang baik. Demikian agar anak anak memiliki citra diri yang bagus tentang diri mereka. Bila kebetulan berpapasan dengan anak anak di jalan, beliau membelai kepala mereka. Kadang kadang beliau pun turut bermain dengan mereka. Bilamana Kembali dari suatu perjalana, Nabi biasa membonceng dua atau lebih anak anak untuk bersama sama mengendarai untanya. Beliau menyapa anak anak dan berbicara dengan bahasa yang santun. Nabi juga kerap membagikan makanan kepada anak anak bila ada yang mengirimkannya ke rumah nabi. Bila ada anak yang menangis di tengah shalat berjamaah, Nabi memperpendek shalat agar anak yang menangis tersebut segera terpenuhi kebutuhannya.

Perilaku yang sama dapat kita teladani dari Almarhum KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU 1998 – 2014. Dalam buku Belajar dari Kiai Sahal halaman 20 diceritakan bagaimana Kiai Sahal memberikan kasih sayang kepada cucu cucunya dengan takaran yang pas, yakni dengan cara memberikan pujian yang membangun. Cucu Kiai Sahal kerap menunjukkan hasil karya berupa gambar ataupun tulisan kepada “mbahkung”nya. Kiai Sahal tiada bosan memberikan apresiasi berupa tanda tangan dengan ungkapan yang tulus, “semua karya itu bagus. Yang tidak bagus adalah yang tidak berkarya”. Pujian yang demikian membuat anak anak menjadi semangat untuk menyempurnakan karya dan menggali potensi dalam dirinya.

Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang menggembirakan hati anaknya, maka dia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau untu menyenangkan hatinya, maka dia bagaikan menangis karena takut pada Allah”.

Bagikan Artikel ini:

About Nuroniyah Afif

Avatar of Nuroniyah Afif

Check Also

anak terkonfirmasi covid-19

Anak Terkonfirmasi Covid-19, Jangan Panik! Berikut Ikhtiar Lahir dan Batin untuk Dilakukan

Grafik kenaikan kasus Covid – 19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan melandai. Covid – …

8 fungsi keluarga

Momentum Menguatkan Kembali 8 Fungsi Keluarga di Masa Pandemi

Meningginya kasus Covid – 19 hingga menyentuh angka 30 ribu kasus baru per hari memaksa …