anak korban cerai
anak korban cerai

Sering Menjadi Sengketa, Bagaimana Hak Asuh Anak dalam Islam Pasca Perceraian?

Talak atau cerai sebagai perbuatan halal namun sangat dibenci oleh Allah. Ini berarti, suami yang menjatuhkan talak tanpa alasan yang direstui oleh syariat menjadi manusia yang dibenci oleh Allah. Hal ini meniscayakan adanya usaha untuk mempertahankan hubungan rumah tangga sebisa mungkin. Tidak boleh menuruti hawa nafsu sehingga mahligai rumah tangga terkoyak.

Kebencian Allah kepada orang yang menjatuhkan talak ini karena berefek sangat buruk. Anak menjadi korban. Apalagi kalau suami sampai melalaikan nafkah anaknya pasca perceraian. Tak jarang anak yang jadi korban talak ini jatuh pada kehidupan hitam sebab tidak ada yang menyayangi, mengasihi dan mencukupi kebutuhannya. Kalau sudah begini, maka suami telah berinvestasi dalam kedzaliman. Investasi jangka panjang dalam hal dosa dan keburukan.

Untuk itu, Islam kemudian membuat aturan pasca perceraian tentang hak asuh anak. Siap yang lebih berhak mengasuh anak, istri atau suami?

Imam Taqiyuddin Abu Bakar memilih, hak asuh (hadhanah) ada pada istri. Seorang ibu lebih berhak mengasuh anaknya sampai tujuh tahun. Pendapatnya ini beliau tulis dalam kitabnya Kifayatu al Akhyar. Setelah usia anak lewat dari tujuh tahun, penentunya adalah pilihan anak tersebut apakah ikut bapak atau tetap bersama ibu.

Akan tetapi, lanjut Imam Taqiyuddin, sejatinya ibu lebih layak mengasuh anaknya meskipun telah lewat tujuh tahun. Kenapa? Ibu lebih memiliki kasih sayang dibanding bapak, lebih paham cara mendidiknya, lebih sabar dan lebih telaten. Pendapat yang sama ada dalam kitab Mughni al Muhtaj.

Muhammad bin Qashim dalam Fathul Qaribnya juga menguatkan pendapat ini. Beliau juga menambah syarat yang harus dipenuhi dalam konteks hadhanah atau hak asuh anak. Yaitu, berakal, merdeka, beragama Islam, pengayom, amanah, domisilinya jelas, dan belum menikah dengan laki-laki lain yang bukan mahram atau keluarga anak yang diasuhnya tersebut. Jika menikah dengan laki-laki yang menjadi mahram anaknya. Seperti pamannya, sepupu, dan seterusnya, maka hak asuh tetap pada ibu.

Baca Juga:  Bercinta dengan Istri di Bulan Suci

Bila ibu tidak memenuhi syarat di atas apakah hak asuh otomatis menjadi hak suami? Tidak. Hak asuh menjadi hak neneknya.

Bagaimana soal biaya atau nafkah anak yang diasuh ibunya tersebut? Apakah menjadi kewajiban istri karena ia yang mengasuh atau tetap kewajiban suami meskipun tidak mengasuhnya?

Tegas, Muhammad bin Qashim dalam kitab yang sama mengatakan, seluruh biaya yang terkait dengan pengasuhan anak adalah kewajiban suami.

Suami yang telah menceraikan istrinya seringkali lupa atau pura-pura lupa tentang kewajiban nafkah anak yang diasuh oleh ibunya. Padahal, kalau sampai istrinya yang mengeluarkan biaya untuk kebutuhan mengasuh anaknya, agama Islam jelas mengatakan itu adalah dosa karena tidak menunaikan kewajibannya.

Dosa ini sifatnya “haqqun adamiyun”. Yaitu dosa manusia kepada manusia lain yang tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang yang bersangkutan memaafkannya. Sebab, bapak yang yang tidak memberi nafkah atau kebutuhan anaknya yang diasuh oleh mantan istrinya, sama saja ia mengambil harta orang lain dengan cara dzalim. Maka, bagi mantan suami yang melakukan hal ini segera mengganti keseluruhan biaya tersebut sebelum meninggal dunia. Kalau tidak? Tentu akibatnya sangat berat karena berhutang kepada istri yang telah diceraikannya.

Bagikan Artikel

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo