saksi dan sumpah
saksi dan sumpah

Kaidah Fikih: Fungsi Saksi dan Sumpah dalam Sebuah Sengketa

Seseorang yang memiliki prinsip terkategorikan sebagai orang yang kuat dan berkarakter. Prinsip menentukan sikap dan keteguhan seseorang. Dengan prinsip, seseorang akan mudah mendapatkan trusty di mata orang lain. Orang yang tak berpendirian atau yang dikenal dengan sebutan plinplan mempunyai karakter yang lemah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki karakter. Prinsip adalah nilai-nilai yang mendasar, sehingga berposisi kuat dan mengakar.

Islam telah menetapkan beberapa prinsip dasar dalam banyak hal. Terutama terkait dengan persoalan-persoalan yang membutuhkan solusi hukum. Misalnya, pada prinsipnya manusia mana pun terbebas dari tanggungan. Pada prinsipnya sifat yang baru terjadi, bukan bawaan suatu benda, adalah tidak ada. Pada prinsipnya suatu kejadian dihubungkan dengan jarak waktu yang terdekat. Pada prinsipnya segala model transaksi itu diperbolehkan, hingga ditemukan hal-hal yang menabrak aturan syariat. Dan masih banyak lagi kaidah-kaidah seputar prinsip dasar.

Oleh karena itu, seseorang yang berada di jalur prinsip dasar, maka ia menempati posisi yang kuat. Sebaliknya, seseorang yang mencoba menyalahi hal-hal yang prinsip, maka ia di posisi yang lemah. Dengan demikian seseorang yang berada di posisi yang kuat tidak membutuhkan faktor pendukung yang kuat, begitu pula seseorang yang berada di posisi yang lemah, maka dibutuhkan pendukung yang kuat, sebagaimana kaidah berikut ini:

اَلْبَيِّنَةُ لِاِثْباَتِ خِلاَفِ الظَّاهِرِ وَاْلَيِميْنُ لِاِبْقَاءِ اْلاَصْلِ.

 (al-bayyinatu li-itsbati khilafi al-dzahir, wa al-yaminu li-ibqai al-ashli)

Artinya: “Bukti/saksi berfungsi untuk menetapkan persoalan yang menyalahi kondisi lahir, sedangkan sumpah berfungsi untuk mengokohkan hukum asal.”

Maksud kaidah ini bahwa saksi dan bukti-bukti kuat yang lain dibutuhkan dan berfungsi untuk menguatkan tuduhan-tuduhan yang berbeda dengan yang tampak. Sementara sumpah digunakan untuk menetapkan keberadaan hukum asal, yang prinsip dan mendasar.

Baca Juga:  Kaidah Fikih : Tulisan Sepadan dengan Ucapan

Kaidah ini sebenarnya mempertegas kaidah sebelumnya, bahwa orang yang menuduh orang lain melakukan hal-hal yang merugikan harus mendatangkan bukti dan menghadirkan saksi. Sementara pihak yang tertuduh hanya dibebani bersumpah saja. Kaidah ini menggunakan redaksi yang lebih umum dan menyatakan fungsi dari masing-masing bukti dan sumpah. Dalam arti, dua pihak yang terlibat sengketa, jika salah satu di antara keduanya berpegang pada hukum asal, sementara pihak yang lain tidak dapat menghadirkan bukti-bukti, maka yang dimenangkan dan dibenarkan adalah pihak yang berpegang pada hukum asal. Selama tidak ada bukti-bukti kuat yang diajukan pihak lawan, maka kebenaran berpihak pada orang tersebut.

Aplikasi kaidah: pihak keluarga yang mengklaim bahwa peristiwa talak terhadap isteri almarhum terjadi sebelum mendiang sakit menjelang mati, lebih kuat pengakuan isteri almarhum yang menyatakan bahwa talak terjadi ketika almarhum sedang sakit. Karena hukum asal menyatakan bahwa sebuah peristiwa, dalam hal ini kematian suami, harus dihubungkan dengan waktu yang terdekat, yakni terjadinya talak ketika sakit menjelang mati.

Dalam kasus ini pihak keluarga harus menunjukkan bukti-bukti bahwa talak benar-benar terjadi sebelum mendiang sakit menjelang mati, sebab tuduhan tersebut lemah karena menyalahi hukum asal. Selama belum bisa menghadirkan bukti, maka pihak isteri yang dimenangkan, sehingga isteri tetap berhak mendapatkan warisan dari almarhum suaminya. Karena talak yang dijatuhkan almarhum suaminya dicurigai hanya bertujuan untuk menghalangi isterinya dari hak warisan.

Klaim cacat pada obyek transaksi jual beli merupakan sifat yang baru ada belakangan (‘aridlah), karena hukum asal dari barang yang baru, bukan secound, adalah aman dari cacat. Oleh karena itu, jika pembeli barang online mengklaim ada cacat pada barang belanjaannya, maka harus menunjukkan bukti bahwa cacat tersebut terjadi sejak di tangan pengirim, bukan di tangan pembeli. Bukti dapat berupa rekaman video proses pembukaan kemasan paket hingga terlihat cacat yang dimaksud. Jika tidak ada bukti, maka pihak pengirim tetap dimenangkan, karena klaim cacat menyalahi hukum asal.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Kesetiaan Seorang Pengikut

Hikmah kaidah dalam kehidupan: Jikatak mempunyai kekuatan dan pendukung setia, jangan coba-coba melawan arus, maka dirimu yang akan tergerus. []

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi Utama:

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. II, tt.), 391-392.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr, Cet. III, 2009), 586-587.

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, hal. 159-160.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

harus berdoa

Mengapa Harus Berdoa, Jika Takdir Telah Ditetapkan?

Pada tahun 1998 jagat pertelevisian Indonesia dihebohkan dengan lirik sebuah lagu yang dilantunkan oleh aktris …

kaidah ungkapan

Kaidah Fikih: Keterbatasan Sebuah Pengakuan

Kodrat alam menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dunia adalah pertarungan dua kutub yang berlawanan, min-plus. Kehidupan …