shalat tahajud
shalat tahajjud

Fikih Shalat Sunah (5): Shalat Hajat untuk Meraih Harapan

Manusia ideal tentunya memiliki berbagai rencana dan seabrek cita-cita untuk meraih masa depan yang terbaik. Dalam rangka meraih cita-cita tentunya akan diupayakan step by step langkah dan strategi yang harus ditempuh. Segala kalkulasi dan perhitungan matang telah dipersiapkan guna menempuh langkah demi langkah yang menjadi sarana dan perantara menuju harapan besar yang akan diraih.

Namun, manusia tetaplah manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahan yang dimilikinya. Sematang dan secanggih apapun yang direncanakan, manusia religius pada akhirnya tetaplah butuh sandaran dan pertolongan dari Sang Maha Segalanya. Shalat merupakan media satu-satunya yang diajarkan agama untuk menjembatani seorang hamba berkomunikasi dengan penciptanya.

Jika shalat maktubah merupakan panggilan wajib bagi seorang hamba untuk menjalin relasi harmonis bersama rabb-nya, maka shalat sunah merupakan inisiatif pribadi hamba karena merasa butuh untuk terus membangun komunikasi guna menyampaikan keluh-kesah kehidupan dengan segala sifat yang melingkupi kemanusiaannya, bahwa ia membutuhkan perlindungan, pertolongan, kasih sayang, ijabat atau pemenuhan terhadap apa yang ia harapkan yang akan dijadikan tangga dalam penghambaan.

Media shalat yang disediakan syariat untuk menyampaikan harapan-harapan dan keinginan agar terkabul adalah shalat hajat. Shalat hajat salah satu shalat sunnah yang dianjurkan untuk memohon kepada Allah agar hajat terkabul. Abdurrahman al-Jaziri dalam Kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah menjelaskan bahwa dianjurkan bagi siapa saja yang memiliki hajat atau keinginan tertentu yang dilegalkan secara syar’i untuk melakukan shalat dua rakaat. (Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Alamiyah, Cet. II, 2003), I/304., Muhammad Zuhaili, al-Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. III, 2011), I/384).    

Kesunahan Shalat Hajat

Semua ulama mazhab yang empat, Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah menyatakan bahwa shalat hajat hukumnya sunah. Mereka mendasarkan status kesunahan ini kepada sebuah hadis Nabi riwayat Abdullah bin Abi Aufa:

Baca Juga:  Sunnah Memakai Kopiah Ketika Shalat

مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى اللَّهِ أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ فَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لْيَقُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ أَسْأَلُكَ أَلاَّ تَدَعَ لِى ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِىَ لَكَ رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Artinya: ““Barang siapa yang mempunyai hajat (kebutuhan) kepada Allah atau kepada seorang manusia, maka berwudulah dan perbaikilah wudunya, kemudian shalatlah dua raka’at. Lalu hendaklah ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW, dan membaca (doa), ‘Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Penyantun dan Mahamulia, Mahasuci Allah Pengatur arsy yang Mahaagung, segala puji millik Allah pengatur alam semesta. Aku memohon kepada-Mu hal-hal yang menyebabkan datangnya rahmat-Mu, dan yang menyebabkan ampunan-Mu serta keuntungan dari tiap-tiap kebaikan dan keselamatan dari segala dosa. Aku memohon kepada-Mu Janganlah Engkau tinggalkan padaku dosa kecuali Engkau ampuni, dan kegundahan kecuali Engkau berikan jalan keluarnya, tidak pula suatu kebutuhan yang Engkau ridlai kecuali Engkau penuhi, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang’.” (Sunan At-Tirmidzi, No. 481).

Dalam riwayat Ibnu Majah, ditambahkan:

ثُمَّ يَسْأَلُ اللَّهَ مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ مَا شَاءَ فَإِنَّهُ يُقَدَّرُ

Artinya: “…kemudian ia memohon kepada Allah tentang urusan dunia dan akhirat sesukanya, sesunggguhnya ia akan ditetapkan“. (Sunan Ibnu Majah, No. 1447).

Dalam beberapa kitab induk keempat mazhab tersebut teks hadis di atas dijadikan sebagai landasan tentang kesunahan shalat hajat. (Muhammad Amin bin Umar Abidin, Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar (Mekah: Dar Alam al-Kutub, tt.), II/473., Syamsudin Syekh Muhammad al-Dasuqi, Hasyiyah al-Dasuqi (Beirut: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt.), I/314., Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, tt.), III/547., Abi Muhammad Abdillah bin Ahmad bin Muhammad Ibn Qudamah, Al-Mughni wa al-Syarh al-Kabir (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiy, 1983), I/769).

Baca Juga:  Masjid Ditutup, Mal dan Pasar Dibuka? Begini Jawabannya dalam Tinjauan Fikih

Jumlah Rakaat Shalat Hajat

Mayoritas ulama mazhab, selain Hanafiyah, sepakat bahwa jumlah shalat hajatsebanyak dua rakaat. Sementara menurut Hanafiyah shalat hajat berjumlah empat rakaat, bahkan dari golongan mereka ada yang mengatakan berjumlah 12 rakaat dengan formasi satu salam. Jumlah 12 rakaat ini juga sejalan dengan pendapat Imam Ghazali. Ibnu Abidin, ulama kalangan Hanafiyah, menukil dari kitab al-Tanjis bahwa empat rakaat shalat hajat dilakukan dengan tata cara seperti berikt. Pada rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca ayat kursi sebanyak tiga kali. Kemudian tiga rakaat berikutnya setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas dan mu’awwizatain (surat al-Falaq dan An-Nas) sebanyak satu kali. Para guru Ibnu Abidin menceritakan bahwa mereka mempraktikkan cara shalat hajat seperti ini, dan atas izin Allah hajat mereka terkabul.

Pelaksanaan shalat hajat tidak menunjuk waktu tertentu, tetapi ulama Hanafiyah menentukan waktunya setelah shalat Isya’. Selanjutnya, doa yang dibaca setelah shalat hajat cukup beragam, karena terdapat beberapa riwayat. Di antaranya, doa yang terdapat dalam hadis riwayat Abi Aufa di atas.  (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XXVIII/217., Muhammad Amin bin Umar Abidin, Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar (Mekah: Dar Alam al-Kutub, tt.), II/473).

Niat Shalat Hajat

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِقَضَاءِالْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى.

(Ushalli sunnatan liqadlail hajati rak’ataini ada’an lillahi ta’ala)

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

harus berdoa

Mengapa Harus Berdoa, Jika Takdir Telah Ditetapkan?

Pada tahun 1998 jagat pertelevisian Indonesia dihebohkan dengan lirik sebuah lagu yang dilantunkan oleh aktris …

kaidah ungkapan

Kaidah Fikih: Keterbatasan Sebuah Pengakuan

Kodrat alam menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dunia adalah pertarungan dua kutub yang berlawanan, min-plus. Kehidupan …