Ustad Adi Hidayat
Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini melakukan kebohongan ilmiah dengan mengatasnamakan Kiai Hasyim Asy’ari.

Ulahnya yang tak berakhlak ini ditemukan oleh warganet atas nama Akhmad Musta’in. Menurutnya, Adi Hidayat telah melakukan kedustaan ketika membaca salah satu kitab karya Kiai Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlussunah wal Jama’ah. Akhmad Musta’in menyertakan video Adi Hidayat tersebut dalam akun FB, https://www.facebook.com/1351344566/videos/pcb.10220068591009003/561769045133871.

Menurut Akhmad Musta’in, ada beberapa paragraf yang sengaja dilewatkan oleh Adi Hidayat saat membaca kitab Kiai Hasyim Asy’ari tersebut. Ungkapnya, “Bagian ulasan tentang kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan yang mengikuti kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahmad bin Taimiyah dan muridnya, Ibnu al Qayyim diskip oleh Adi Hidayat, langsung loncat ke pembahasan Syi’ah Rafidhah”.

Dua kesalahan Adi Hidayat ini, di samping hal ngawur sisi lain semakin membuat curiga arah dakwah Adi Hidayat. Sebab, seandainya dia benar-benar seorang ustadz tentunya telah membekali diri dengan ilmu agama yang cukup dan fair dalam mengungkap pendapat para ulama.

Kita lihat pada kasus doa iftitah yang dibilang tidak ada hadistnya, sampai berkata hatta hadis palsupun tidak ada yang berbicara doa iftitah. Entah dia belum menemukan karena kurangnya referensi atau hanya pura-pura saja wallahu a’lam. Atau, jangan-jangan ia memikul misi tertentu di balik dakwahnya?

Andai dia benar-benar ikhlas dalam berdakwah, ketika melakukan blunder fatal mestinya secara arif dan lebih bijaksana mengakuinya. Minimal, argumentasi tentang hukum yang ia sampaikan diletakkan dalam dalam konteks khilafiyah. Bahwa ada pendapat lain yang tidak sama dan tidak harus dipertentangkan. Semua orang bebas memilih pendapat yang berbeda.

Baca Juga:  UAH Serahkan Dana Kemanusiaan Rp14,3 Miliar dari Rakyat Indonesia untuk Palestina

Jika Tidak Tahu Dasar Hadist, Jangan Anggap Tidak Ada Hadistnya

Kasus serupa Adi Hidayat pernah dialami oleh Imam al Zuhri. Dalam kitab al Tahmid li ma fi al Muwattha’ min al Ma’ani wa al Asanid karya Ibnu Abdi al Bar. Di sini dikisahkan, Imam al Zuhri menegur Imam Isma’il bin Muhammad karena menceritakan sebuah hadis bahwa Nabi melakukan salam (dalam shalat) ke kanan dan ke kiri. Dan, menurut al Zuhri hal ini tidak ada hadisnya.

Imam Isma’il bin Muhammad kemudian bertanya kepada Imam al Zuhri, “Apakah kamu telah mendengar semu hadis Nabi”? Ia menjawab, “tidak”. “Barangkali setengahnya”?, lanjut Imam Isma’il. Al Zuhri kembali menjawab “tidak”. Imam Isma’il kemudian berkata kepada al Zuhri, “anggaplah hadis ini berada di setengah hadis yang tidak pernah kamu dengar”. Kemudian al Zuhri tersenyum dan puas dengan jawaban Imam Isma’il.

Sepenggal kisah ini, mestinya menggugah kita, terutama tokoh dan pembesar agama, bahwa suatu amal yang kita anggap tidak ada dalilnya belum tentu demikian. Boleh jadi kita sendiri belum mengetahui karena keterbatasan dan kesederhanaan ilmu agama. Dengan demikian, senantiasa harus belajar lebih dulu sebelum mengambil kesimpulan.

Dalam fikih empat madhab terkadang memang tidak menyertakan hadis secara utuh dalam beberapa hukum, seperti doa iftitah. Namun, bukan berarti tidak ada dalilnya. Ulama salaf maupun khalaf telah melakukan penelitian mendalam terhadap al Qur’an maupun hadis sebelum melakukan istinbat (penggalian hukum) dan istidlal (mengutip dalil).

Dan satu hal yang diajarkan oleh ulama salaf maupun khalaf adalah kejujuran ilmiah. Tidak seperti yang dilakukan oleh Adi Hidayat yang langsung memvonis. Begitu diberitahu bahwa kesimpulannya salah, malah ngotot dan bertahan dengan kesalahannya. Bukah malah tersenyum seperti Imam al Zuhri dan merasa berterima kasih karena telah disadarkan.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

black rider

Siapakah The Black Rider Itu ? Wanita Pembela Islam di Medan Perang

Jagoan  berkuda hitam itu adalah seorang muslimah dialah Khaulah binti Azur. Seorang muslimah yang memiliki …

tahun baru islam

Refleksi Tahun Baru Islam 1443 H: Hijrah Menuju Negeri Aman

Fenomana Hijrah dari Timur Tengah Hijrah ke Eropa Peristiwa hijrah sejatinya dalam konteks kekinian juga …