metode tafsir

Tafsir al-Baqarah 2:12 : Mengira Pejuang Kebenaran Ternyata Pembuat Kerusakan

Betapa dunia Islam disuguhi tontonan sekelompok manusia yang mendeklarasikan diri sebagai pembela Islam, tapi anehnya mereka cenderung destruktif dan menyulut api amarah. Bahkan baru-baru ini ada deklarasi tentara Allah. Entah siapa musuhnya dan apa maksudnya? Yang jelas ini fenomena menggelikan.

Mereka merasa pejuang kebenaran tapi sebenarnya pembuat kerusakan. Mereka menebar resah, ketakutan, was-was, kengerian dan ancaman. Bahkan umat Islam sendiri merasakannya.

Potret orang-orang seperti ini sebenarnya telah direkam dalam al Qur’an sebagai peringatan terhadap umat Islam dan manusia secara umum. Bahwa orang-orang dengan perilaku seperti ini akan selalu ada silih berganti. Karena itu, tugas umat Islam terutama para pembesar agama, ustad, kiai dan tokoh untuk menyadarkan mereka dan memberi tahu kepada umat bahwa perangai seperti ini jauh melenceng dari ajaran Islam.

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. (QS. Al Baqarah: 11-12).

Dalam tafsir Al Wasith Lithanthawi dijelaskan, yang disebut kerusakan itu adalah tindakan menyimpang dari kondisi di mana keadilan telah tercipta dan menyimpang dari kemapanan yang manfaatnya telah dirasakan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis perkataan Abu Ja’far dari Rabi’ bin Anas dari Abi ‘Aliyah, maksud ayat di atas adalah larangan berbuat maksiat di muka bumi sebab akan menghancurkan mereka sendiri. Sebab orang yang melakukan kemaksiatan atau menyuruh mengerjakannya berarti telah membuat kerusakan di bumi. Sementara kemapanan dan kebaikan di bumi hanya tercipta dengan ketaatan kepada Allah.

Dua tafsir ini sudah cukup menjelaskan fenomena yang akhir-akhir ini terjadi, khususnya di Indonesia dan secara keseluruhan di dunia. Sekelompok orang yang menyebut diri sebagai pembela Islam, tentara Allah dan julukan semisal, tapi cara yang dipakai bukan cara Islami. Keras, mengancam, mencaci, meneror, dan akhirnya membunuh. Inilah salah satu bentuk kemaksiatan.

Baca Juga:  Tafsir Al-Maidah 2 : Maksud Ayat Menolong Kemaksiatan

Untuk itu, anjuran kepada penganutnya yang “buta” dan meyakini kamuflase kebenaran dari pengaruh doktrin selama ini untuk segera menyadari dan sadar diri akan kekeliruannya. Sadarlah bahwa Islam itu rahmat bagi semesta. Merangkul bukan memukul, ramah bukan marah-marah, mengasihi tidak menyakiti. Begitulah yang Nabi ajarkan. Hanya penyampai, selebihnya soal hidayah ilahi.

Nabi bersabda, “Akan keluar pada akhir zaman, suatu kaum yang umurnya masih muda (sedikit ilmunya), rusak akalnya. Mereka mengatakan sebaik-baik ucapan manusia (suka membahas masalah agama). Mereka membaca Al Qur’an namun tidak melewati kerongkongannya (salah dalam memahami Al Qur’an). Mereka telah terlepas dari agama, bagaikan lepasnya anak panah dari busurnya. Apabila kalian menemui mereka, bunuhlah mereka, karena terdapat ganjaran bagi yang membunuh mereka disisi Allah pada hari kiamat nanti”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Konteks hadis ini mempertegas bahaya kelompok-kelompok seperti disebut sebelumnya, yang merasa pendakwah dan pelaku nahi mungkar, tapi sejatinya adalah tukang rusak. Sampai-sampai Nabi menjatuhkan perintah bunuh.

Dalam konteks sekarang, seperti di Indonesia, membunuh mereka bisa dilakukan dengan cara membubarkan dan melarang organisasi dan aktivitas mereka. Juga dengan cara menyampaikan kepada umat Islam bahwa penyampaian mereka tentang ajaran agama Islam adalah keliru. Sebab, seperti kata Nabi, mereka ilmunya sedikit dan akalnya rusak.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri