tafsir
tafsir

Tafsir Al-Baqarah Ayat 14-16: Siapa Orang Munafik? (2)

Teringat lirik lagu “Bila engkau berbicara, lain di bibir lain di hati. Dan bila engkau berjanji, selalu engkau ingkari. Di kala kau dipercaya, lalu kau mengkhianatinya”. Lirik lagu munafik yang dipopulerkan Ida Laila dan Ikke Nurjanah itu suatu ekspresi menggambarkan ciri orang munafik.

Pada kajian tafsir kali ini, menguraikan betapa kaum munafik menampakkan kepada kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin. Tetapi di belakang, mereka mengejek kaum mukmin. Allah pun membalas ejekan kaum munafik.

Allah Swt. berfirman:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. [Q.S. al-Baqarah: 14]

Para Imam Qirā’at membaca lafaz “khalaw ilā” dengan huruf wawu dibaca sukun dan huruf hamzah dibaca seperti biasa. Sedangkan Imam Warsy dengan menukar harakat hamzah ke huruf wawu dan menghapus wawu. Tampaknya yang benar seharusnya “menghapus hamzah”, sehingga bacaannya menjadi khalawilā.

As-Saddi meriwayatkan dari Abu Malik, lafaz “khalaw” artinya pergi menuju setan-setan mereka. Lafaz “Syayāṭīn” artinya pemimpin dan pembesar mereka yang terdiri dari kalangan pendeta Yahudi, kaum musyrik, dan kaum munafik. Hal senada juga dari Qatadah, bahwa yang dimaksud adalah pemimpin dan para panglima mereka dalam kemusyrikan dan kejahatan.  

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Allah berfirman “Apabila orang-orang munafik bersua dengan orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami beriman’.” Mereka menampakkan kepada kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin.

Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabui kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat bagian ganimah dan kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.

Pada ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” [Q.S. al-Baqarah: 15]

Ayat di atas sebagai kelanjutan ayat sebelumnya. Aḍ-Ḍahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, mereka (kaum munafik) mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya mengolok-olok dan mengejek teman-teman Muhammad.” Sebagai bantahan dari Allah Swt. terhadap perbuatan orang-orang munafik itu, maka Allah Swt. berfirman ayat 15 tersebut.

Lafaz “Allāhu yastahziu”semacam menyebut balasan atas memperolok dengan olok-olok pula, dan kaidah demikian adalah majāz atau musyākalah, yaitu dua kalimat memakai lafal yang sama tetapi maknanya berbeda, atau ia adalah membandingkan kalimat dengan kalimat yang serupa tetapi memiliki makna yang tak sama. Contohnya, firman Allah:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [asy-Syūrā: 40]

Ibnu Jarir menafsirkan lafaz “wa yamudduhum fī tugyānihim ya’mahūn” yakni Allah membiarkan orang munafik terombang-ambing dalam kebingungan dan kesesatan, mereka tidak akan dapat menemukan jalan keluar, karena Allah Swt. telah mengunci mati hati mereka dari jalan hidayah.

Manusia Paling Durjana

Kemudian kalamullāh selanjutnya:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ  

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” [Q.S. al-Baqarah: 16]

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Muhammad, sampai Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini adalah mereka (orang munafik) yang membeli kekufuran dengan keimanan.

Menurut Mujahid mengenai ayat ini ialah mereka (orang munafik) pada mulanya beriman, kemudian kafir. Sedangkan Qatadah mengatakan maksud ayat ini adalah mereka lebih suka kesesatan daripada hidayah (petunjuk). Pendapat ini mirip dengan makna yang terkandung dalam surah Fuṣṣilat:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ

“Dan adapun kaum Ṡamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk,” [Q.S. Fuṣṣilat: 17]

Syaikh Bisri Musthofa dalam tafsir Al-Ibrīz, berpendapat bahwa orang munafik pada dasarnya suka sesat (sebab menukar hidayah), seperti orang berdagang yang hendak untung, tetapi malah rugi.

Kesimpulan pendapat dari para ahli tafsir di atas bahwa orang-orang munafik itu menyimpang dari jalan petunjuk dan menempuh jalan kesesatan, mereka menukar hidayah dengan kesesatan.

Oleh karena itu, sambil melantunkan lirik “Apabila ketiga sifat ini ada pada dirimu, engkaulah manusia paling durjana di atas dunia !”. Maka renungkanlah lagu yang dipopulerkan vokalis Nasidaria atau Ikke Nurjanah itu !

Wallāhu a’lām…

Bagikan Artikel ini:

About Mubarok ibn al-Bashari

Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA

Check Also

palestina israel

Tafsir Surah al-Isra’ Ayat 4-5: Kezaliman Bani Israel dan Janji Allah Bagi Palestina

Peristiwa yang sangat tidak manusiawi terjadi kepada saudara-saudara kita di Palestina. Di saat melaksanakan kekhusyukan …

al-quran

Jika Salah Tafsir Surah al-Fath Ayat 29: Keraslah Terhadap Sifat Kafir

Surah al-Fath turun saat peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian Hudaibiyah merupakan peristiwa yang begitu fenomenal. Dimana …