Cinta Abdurrahman bin Abu Bakar
cinta

Belajar dari Kisah Cinta Abdurrahman bin Abu Bakar Pada Laila bintu Al Judi

Perasaan suka atau cinta kepada lawan jenis itu lumrah, normal dan wajar bagi tiap-tiap manusia. Setiap orang pasti pernah merasakan cinta kepada seseorang dengan berbagai alasan yang melekat dalam diri seseorang yang dicintainya. Alasan yang umum, bisa karena kecantikan/ketampanan parasnya, kepinterannya, kekayaannya, kebaikan akhlaknya dan perilaku keagamannya. Alasan yang pertama  di atas itulah paling banyak dijadikan alasan utama.

Memang jamak terjadi di tengah-tengah masyarakat bahkan dari zaman dulu, bahwa paras yang cantik atau tampan menjadi alasan dan daya tarik utama munculnya rasa cinta. Padahal hal yang demikian ini merupakan cara pandang yang salah. Karena paras dan tubuh yang ideal itu tak abadi dan bersifat fana’. Jika masih bersikeras menggunakan paras/wajah/tubuh yang cantik/tampan/ideal  sebagai standar cinta, maka simaklah kisah sahabat nabi SAW yang juga anak dari Abu Bakar AS di bawah ini.

Dahulu ada sebuah kisah cinta antara Abdurrahman bin Abu Bakar dengan seorang perempuan karena parasnya yang menawan. Pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar melakukan perjalanan dagang ke Syam. Di tengah perjalanan, ia menyaksikan seorang perempuan berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Sejak pandangan pertamanya itu, Abdurrahman jatuh cinta padanya dan terus membayangkan paras cantik Laila sepanjang waktu.

Sebagaimana kebiasaan orang Arab waktu itu yang menggambarkan kondisi hatinya dengan cara membuat syair, Abdurrahman pun demikian. Salah satu bait syair yang ia rangkai sendiri ialah sebagai berikut:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negri Samawah duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku? Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku. Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya, semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.”

Pada suatu hari, kabar perasaan cinta Abdurrahman kepada Laila yang teramat sangat itu sampai ke telinga Khalifah waktu itu, Umar bin Al Khattab. Sang khalifah merasa kasihan kepada Abdurrahman. Hingga akhirnya pada suatu ketika, beliau mengirim pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam. Khalifah Umar memberi amanat kepada panglima perangnya bahwa bilamana Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu, maka berikanlah kepada Abdurrahman. Dan Subhanallah, Allah mentakdirkan pasukan Islam menguasai Syam sekaligus pulang membawa Laila, perempuan yang dimaksud itu.

Baca Juga:  Ketika Nabi Tidak Mempersoalkan Agamanya, tetapi Kemanusiaannya

Mengetahui kabar adanya Laila didekatnya, Abdurrahman senang bukan main. Impian dan angan-angannya menikahi Laila akan segera tercapai. Kecintaan Abdurrahman saat itu sungguh tak terbendung oleh siapapun, bahkan oleh istri-istrinya sekalipun. Setelah menikahi Laila, Abdurrahman sangat mengistimewakannya dan seakan-akan melupakan istri-istri sebelumnya. Kondisi ini lantas memaksa para istri Abdurrahman curhat dan mengadu kepada Aisyah bintu Abu Bakar yang tak lain saudari kandungnya Abdurrahman.

Mendengar curhatan istri-istri Abdurrahman, Aisyah lantas menegur saudara kandungnya tersebut. Namun, jawaban Abdurrahman pun terkesan malah menyanjung-nyanjung kelebihan Laila dari pada istri-istrinya Abdurrahman berkata:“Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Lalu tak berselang lama, Allah sendirilah yang menegur Abdurrahman. Dengan cara “merusak” apa yang ia sangat cintai. Laila, istrinya terkena penyakit yang mengakibatkan bibirnya jatuh, sehingga giginya selalu nampak. Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna tak berbekas. Jika dahulu ia sampai menyingkirkan istri-istrinya yang lain, maka sekarang ia pun melakukannya terhadap Laila. Abdurrahman benar-benar berpaling dari Laila karena kondisi parasnya yang berubah seratus delapan puluh derajat. tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya.

Bila dulu yang curhat pada Aisyah adalah istri-istri Abdurrahman sebelumnya, sekarang gantian, giliran Laila yang curhat kepada istri nabi SAW tersebut. Sebab ia sudah tak tahan dengan perilaku suaminya itu. Segera ‘Aisyah pun menasehati saudaranya dengan mengatakan:

يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.

Artinya : “Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena desakan oleh saudarinya dan kondisi saat itu yang demikian, maka akhirnya Abdurrahman pun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Baca Juga:  Abu Hurairah dan Segelas Susu yang Memberkahi

Kisah di atas hanya sebagai pelajaran kepada kita semua untuk tidak terjebak dalam perasaan cinta pada seseorang karena parasnya. Jika sampai itu terjadi, maka kita harus siap-siap akan merasa menyesal dikemudian hari. Perlu diingat juga bahwa kita setelah membaca kisah di atas, lantas mencela atau berkomentar buruk kepada Abdurrahman putra Abu Bakar, sahabat nabi SAW yang paling dicintai beliau. Kesalahan dan kehilafan yang terjadi sebagaimana di atas, itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa seperti kita. Bisa salah dan bisa khilaf.

Bagaimanapun kesalahan yang dilakukan para sahabat nabi SAW itu tak seberapa jika dibandingkan dengan amal baiknya. Para sahabat bersama Nabi SAW berjuang dengan sangat heroik mensyiarkan agama Islam yang dulunya asing, sekarang menjadi agama yang dipeluk oleh ratusan juta orang di seluruh dunia.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

mengajak masuk islam

Inilah Pahala Seorang Muslim Mengajak Orang Lain Masuk Islam

Islam merupakan agama atau ajaran yang inklusif. Tak tertutup atau terbatas pada orang dan strata …

surah al ikhlas

Ikhlas dan Macam-macamnya

Kata ikhlas, mesti sering kita dengar dari orang tua, guru atau seorang kiai. Memang kata …