lakum dinukum wa liyadin
ayat

Tafsir Seputar Ayat Isra’

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.  Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (al Isra’: 1).

Surat al Isra’ adalah surat ketujuh belas dalam urutan surat-surat dalam mushaf al Qur’an. Sedangkan dalam urutan wahyu menempati urutan empat puluh sembilan setelah surat al Qashash. Semua ulama sepakat akan hal ini. Seperti dijelaskan oleh Imam Suyuthi yang termaktub dalam tafsir al Wasith li Thanthawi.

Sebab penuzulan ayat ini adalah sebagai respon terhadap orang-orang musyrikin yang mendustakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah. Mereka tidak percaya kepada Nabi Muhammad saat beliau memberitakan perjalanan luar biasa tersebut.

Kalimat “Maha Suci Allah” dalam ayat tersebut bermakna bahwa Allah bersih dari segala sifat yang jelek. Tidak ada yang membandingi Allah dalam segala hal (al Syura’: 11).

Semua ulama sepakat, yang dimaksud “Hamba” dalam ayat tersebut adalah Nabi Muhammad. Penyebutan kata hamba disini membuktikan Allah sangat memuliakan Rasulullah. Sebab, kata hamba bila disandingkan dengan asma Allah bermakna paling sempurna. Disamping itu, sifat kehambaan adalah sifat paling mulia dan tidak ada yang menandinginya. Dalam al Qur’an banyak ayat yang menyandingkan kata hamba dengan Allah untuk memuliakan Nabi Muhammad; (al Kahfi: 1, al Furqan: 1, dan al Najm: 1).

Dalam tafsir al Tahrir wa al Tanwir karya Ibnu Asyur, kalimat tasbih “Maha Suci Allah” apa bila ada diawal (tidak didahului kalimat lain) bermakna bahwa Allah Maha Suci dan Maha Kuasa. Artinya, informasi tentang Isra’ Mi’raj sebagai peristiwa luar biasa menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah dan membuktikan bahwa orang yang dibicarakan (Nabi Muhammad) adalah sosok yang mulia.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 25: Inilah Kabar Gembira Untuk Mukmin nan Saleh

Dengan kata lain, seperti dalam Tafsir Ibnu Katsir, Allah memuji dirinya dan mengagungkan dirinya sendiri untuk membuktikan bahwa Dia kuasa untuk berbuat apa saja yang tidak bisa dilakukan oleh selain-Nya.

Ayat menjadi penjelas bahwa Isra’Mi’raj Nabi Muhammad fakta, bukan fiksi. Secara akal memang mustahil, karena akal manusia terbatas. Akal manusia bertekuk lutut ketika tak mampu mengungkap kebesaran Allah.

Itulah sebabnya kenapa orang musyrik Quraisy ketika itu tidak percaya terhadap peristiwa Isra’dan Mi’raj Nabi karena menurut akal mereka tidak mungkin. Tetapi, Abu Bakar al Shiddiq langsung percaya karena beliau sadar bahwa akal tidak akan pernah menjangkau kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

 

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …