Surah An Naml Ayat 16
Surah An Naml Ayat 16

Allah swt berfirman :

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ ۖ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍإِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”. (An-Naml : 16 )

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalambarisan). (An-Naml : 17 )

Kisah dalam Al-Quran merupakan kisah nyata atau fakta yang bisa dibuktikan kebenarannya, dan yang mana kisah nyata lebih berpengaruh bagi seseorang dibanding kisah fiksi yang berupa mitos. Sebab kisah nyata sangat selaras dengan hati dan tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Dalam kisah para Nabi yang terdapat dalam Al-Quran jika direnungi dengan serius, maka kita akan menemukan hikmah dan mutiara berharga yang dapat dijadikan teladan yang amat sangat baik.

Nabi Daud adalah Raja yang wilayah kekuasaannya sangatlah luas. Pada masanya penduduk hidup tentram dan sejahtera. Nabi Daud selalu bersyukur kepada Allah atas anugerah yang diberikan kepadanya. Ia memiliki selir yang sangat banyak, dan Nabi Sulaiman lahir dari salah satu selir tersebut.

Nabi Sulaiman tidak hanya diwariskan kerajaan saja dari ayahnya, akan tetapi ada amanat yang lebih berat yakni melanjutkan tugas kenabian dan kitab suci. Nabi Sulaiman belajar segala hal dari ayahnya, hingga ketika sudah beranjak dewasa ia akan menjadi pemuda yang shaleh dan suka dalam menyerukan kebenaran ditengah-tengah masyarakat. Tidak hanya itu ia juga berdakwah agar penduduknya menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan-Nya. Dengan aktivitasnya dalam menyuarakan kebaikan membuat Nabi Sulaiman terkenal sebagai sosok yang Agung dan Bijaksana.

Suatu ketika penduduk tertimpa bencana kekeringan yang mematikan yang disusul dengan wabah penyakit yang mematikan. Nabi Daud segera memerintahkan rakyat mengikutinya untuk berdoa di Baitul Maqdis. Nabi Daud Kemudian berdoa dengan khusyuk dan syahdu di atas batu besar. Ia memohon agar Allah mengakhiri bencana kekeringan dan wabah penyakit yang ganas yang sedang menimpa penduduk. Allah swt Kemudian mengabulkan doa Nabi Daud. Sebagai rasa syukur kepada Allah ia memerintahkan penduduknya untuk membangun masjid ditempat itu. Dengan penuh sukacita, Nabi Daud disertai rakyatnya membangun masjid tempat dimana Nabi Daud berdoa. Sebelum pembangunan masjid rampung, Nabi Daud meninggal. Untungnya, sebelum menghembuskan napas yang terakhir, Nabi Daud berpesan kepada putranya agar merampungkan bangunan tersebut. Nabi Sulaiman menjalankan amanat ini dengan meneruskan pembangunan masjid hingga selesai, bahkan pada saat pembangunan masjid ia pun mengerahkan bala tentara jin untuk membantunya. Ia hiasi masjid itu dengan emas dan batu pualam sehingga terlihat megah dan mempesona. Mahakarya Nabi Sulaiman ini diabadikan Allah dalam Al-Quran.

Allah berfirman dalam Surah Saba ayat 12-13 :

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (QS. Saba : 12)

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (QS. Saba : 13)

Di balik wafatnya Nabi Daud terdapat kisah yang menarik untuk di simak. Beberapa saat sebelum wafatnya Nabi Daud, seperti biasa ia memerintahkan budaknya untuk mengunci semua pintu istana. Selesai mengerjakan perintah dari Nabi Daud ia bergegas menemui Nabi Daud, dan pada saat itulah kemudian muncul sesosok lelaki yang sangat berwibawa. Lalu budak tersebut bertanya kepada pria tersebut, “bagaimana anda bisa masuk padahal saya sudah mengunci semua pintu istana ?” , Kemudian pria itu menjawab pertanyaan dari budak tersebut dengan berkata, “ aku tidak harus meminta izin untuk menemui Raja’”. Percakapan tersebut didengar oleh Nabi Daud, ia langsung bergegas menemui keduanya dan bertanya kepada pria tersebut, “apakah anda Malaikat maut ?” lalu pria tersebut menjawab, “benar”, Kemudian Nabi Daud bertanya kembali, “mengapa engkau tidak memberitahuku terlebih dahulu, agar aku bisa lebih mempersiapkan diri”, Kemudian pria tersebut berkata, “aku sudah sering memberitahumu”, Kemudian Nabi Daud pun bertanya, “apa pemberitahuannya ?”, Kemudian pria itu pun balik bertanya kepada Nabi Daud mana orangtua, saudara, tetengga, dan kenalanmu ?”, lalu Nabi menjawab, “mereka semua telah meninggal”, Kemudian pria itu berkata, “itulah pemberitahuanku, maka engkau pun akan wafat seperti mereka”. Setelah percakapan tersebut Malaikat maut yang menyerupai pria tersebut mencabut nyawa Nabi Daud. Ia wafat pada usia seratus tahun dan ia menjabat sebagai Raja selama empat puluh tahun. Ia meninggalkan Sembilan belas anak, dan ia memilih Nabi Sulaiman sebagai penerus tahtanya sebagai Raja selanjutnya.

Dalam kisah ini terdapat beberapa point penting yang dapat dipetik sebagai hikmah dan pelajaran, dalam perjalanan Nabi Daud saat berkuasa ia tidak menggunakan kekuasaanya dengan semena-mena, akan tetapi ia menggunakan kekuasaannya dengan bijaksana dan adil, yang mengakibatkan penduduk kerajaannya menjadi makmur dan sejahtera. Semoga kita bisa mencontoh sikap dari Nabi Daud apa bila kita memiliki kekuasaan dan menggunakan kekuasaan kita dengan baik.