tafsir al-quran
tafsir surat fusshilat 30

Tafsir Surat Fusshilat ayat 30: Kriteria Ulama Sehat dan Sesat

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,  maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa bersedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fusshilat: 30).

Sebab turunnya ayat ini, sebagaimana riwayat Atha’ dari Ibnu Abbas yang termaktub dalam tafsir al-Qurthubi, dilatarbelakangi oleh bantahan Abu Bakar terhadap pernyataan orang-orang musyrik yang menyatakan, Tuhan kami Allah dan para malaikat adalah anak-anak-Nya yang akan menolong kami nanti dihadapan-Nya. Kepada mereka Abu Bakar berkata, “Tuhan kita adalah Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Hendaklah kalian konsisten akan hal ini”.

Ayat ini, hadir untuk memberi kabar gembira kepada para kekasih Allah saat ajal akan menjemput. Kabar bahagia sebagai orang yang beruntung. Mereka adalah orang yang Istiqomah (konsisten) terhadap keimanannya yang menyatakan  “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Keimanan ini dibawa sampai mati. Teguh memegang keyakinan tersebut tanpa bergeser sedikitpun.

Sebagaimana dikatakan dalam tafsir al Sa’di, mereka adalah orang-orang yang mengetahui, mengucapkan dan penuh kerelaan menyatakan diri bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Di samping itu juga berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Kemudian konsisten dengan keyakinan tersebut baik secara keilmuan maupun pengamalan.

Apa yang dimaksud istiqamah pada ayat di atas?

Dalam tafsir al Baghawi, Abu Bakar pernah ditanya apa itu istiqamah? Jawabnya, tidak menyekutukan Allah dengan apapun. Sedangkan menurut Umar bin Khattab, adalah teguh pendirian menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Menurut Utsam bin Affan ikhlas ketika melakukan ibadah dan amal baik lainnya. Menurut Ali bin Abi Thalib istiqamah adalah mengerjakan segala kewajiban. Dan, menurut Ibnu Abbas konsisten dalam mengerjakan kewajiban.

Baca Juga:  Tafsir Al-Maidah 2 : Maksud Ayat Menolong Kemaksiatan

Dengan demikian, ayat ini juga hendak memberi kabar kepada kita semua tentang bagaimana memilih seorang ulama yang istiqamah dan menilai ulama yang lengah. Karena saat ini, terlalu banyak kita temui mereka yang memposisikan diri sebagai tokoh agama, entah itu kiai, ustad, dan predikat kebesaran agama Islam yang lain tidak konsisten dengan pengakuannya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Tanda tidak istiqamah itu bisa dilihat dari banyaknya ungkapan-ungkapan yang tidak pantas dilakukan oleh umat Islam, apalagi oleh mereka yang dijadikan panutan. Seperti ujaran kebencian, pembunuhan atas nama agama seperti doktrin jihad palsu terorisme, tuduhan kafir, murtad,  bid’ah dan sebagainya. Semua tindakan ini menciderai konsistensi pengakuan terhadap Allah sebagai satu-satunya Tuhan sebab Dia sendiri tidak mengajarkan hal itu semua.

Pada akhirnya, kita harus pula mampu membedakan antara ulama yang sehat dan ulama yang sesat. Ulama yang sehat adalah mampu memberikan kesehatan rohani kepada umat Islam melalui ceramah dan pidato yang mencerahkan dan mencerdaskan. Sedangkan ulama sesat adalah ulama yang dengan ceramahnya justru mendoktrin orang lain tersesat dalam beragama. Sikap istiqamah adalah penting dimiliki ulama agar ia tidak mudah jatuh dalam menyesatkan umatnya.

Sebagai penutup, Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya al Tahrir wa al Tanwir menyebut orang-orang yang tidak istiqamah ini kelak akan digiring ke neraka sebagai balasan Allah terhadap perbuatan mereka. Sejatinya, apabila ingin selamat di akhirat nanti, untuk selalu konsisten atau istiqamah dengan cara meneguhkan pernyataan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dengan segala ajaran-ajaran-Nya.

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Alumni Pondok Pesantren Sidogiri