surat yasin
surat yasin

Tafsir Surat Yasin Ayat 5 (3): Bantahan terhadap Keraguan Kenabian Rasulullah

Ayat ini sebagai kelanjutan respon dan bantahan Allah kepada kaum kafir yang tidak percaya kepada Nabi Muhammad sebagai rasul. Mereka ragu bagaimana bisa Nabi Muhammad yang hanya anak yatim, bukan dari rumpun bangsawan, bukan turunan raja, tidak pula kaya harta, dan tidak pula cendekia bisa dipilih oleh Allah sebagai pengemban wahyu.

Allah berfirman, “(Sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”. (Surat Yasin: 5).

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan makna Shirath al Mustaqim yang berarti jalan lurus yang menghantar kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, yakni agama Islam. Agama yang menjadi misi terutusnya Nabi Muhammad yang disampaikan oleh Malaikat Jibril berupa Wahyu yang kemudian terangkum dalam satu kitab yang disebut al Qur’an.

Seperti ditulis Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat ini menegaskan bahwa agama Islam yang diturunkan kepada Nabi benar-benar agama dari Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang untuk hamba-hamab-Nya yang beriman. Hal ini sebagaimana ditegaskan pula pada Surat al Syura: 52-53.

Dalam tafsir al Sa’di dijelaskan, agama Islam diturunkan oleh Allah dilengkapi dengan kitabnya, al Qur’an, yang berfungsi sebagai peta arah dan petunjuk untuk sampai pada shirath al mustaqim atau agama Islam. Kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah dan dijamin orisinalitasnya. Allah mengikrarkan diri akan menjaga al Qur’an sehingga kitab Allah yang terakhir ini dijamin tidak akan mengalami perubahan sedikitpun.

Dalam tafsir al Tahrir wa al Tanwir Ibnu ‘Asyur menulis, ayat ini sebagai penjelasan yang menguatkan ayat kedua. Yakni penegasan mengenai bahwa al Qur’an benar-benar diturunkan oleh Allah. Oleh karena itu, terjemah ayat di atas adalah “Sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang”.

Baca Juga:  Mengenal Mufasir dari Masa ke Masa (II)

Dalam Tafsir Surat Yasin karya Hamami Zadah, disini dijelaskan, apabila “Tanzil” dibaca nasab artinya adalah wahyu (al Qur’an) yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Sedangkan bila dibaca rafa’ artinya wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada orang-orang kafir yang ingkar supaya mereka sadar bahwa Nabi Muhammad adalah salah satu dari rasul-rasul.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

Toa masjid

Apakah Perintah Mengeraskan Suara Adzan Harus Memakai TOA?

Sejak pertama kali ditemukannya teknologi mutakhir dengan Branding TOA, hingga saat ini ia menjadi branding …

bertemu rasulullah

Nabi Muhammad : Sosok yang Bersahaja, Namun Luar Biasa, Refleksi Bulan Maulid

Peringatan Maulid Nabi selalu menjadi momentum mengingatkan umat Islam akan hari kelahiran sosok Sayyidul Wujud, …