Tiga Amalan Ringan tapi Susah Dipraktekkan

0
316
tiga amalan ringan

Inilah tiga amalan yang ringan tapi sulit untuk dilakukan. Butuh konsistensi dan kesungguhan dalam melaksanakannya.


Dunia ini sebagai ladang untuk meraih keuntungan akhirat. Sayangnya, banyak orang yang tak mengetahui hal itu sehingga ia terlena dengan gemerlapan sesaat yang  merugikan dirinya sendiri.

Bila manusia sadar akan tanggung jawab yang telah dibebankan kepadanya berupa perintah untuk beribadah dan bermuamalah (bergaul dengan orang lain) dengan akhlak yang baik maka ia akan berusaha memacu diri untuk menyeimbangkan kebutuhan dunia dan akhirat. Urusan dunia penting, tetapi urusan akhirat tak kalah penting.

Lika-liku kehidupan sangat unik dan menarik, kadang menempati posisi di atas, beberapa waktu kemudian di bawah. Semua silih berganti. Yang paling sulit adalah menstabilkan kondisi diri dalam berbuat dan melangkah.

Imam al-Qusyairi dalam Risalahnya mengutip perkataan Bisyr al-Harits yang menjelaskan bahwa ada tiga amalan ringan tapi berat dilakukan oleh manusia, yaitu:

Pertama, bersikap dermawan di waktu paceklik, kekurangan harta. Pada saat seperti ini sangat berat untuk berbagi, untuk dirinya sendiri maupun keluarga saja kekurangan apalagi harus dibagi untuk orang lain.

Kedua, Menjaga diri untuk tidak berbuat hal yang terlarang di saat sendirian. Sungguh hal itu sangat berat sekali dilakukan, karena pada dasarnya manusia menjaga harga dirinya disaat berkumpul, bergaul dengan orang lain, dikala sendiri, ia merasa tak ada manusia yang mengawasi, jadi dengan mudahnya ia melakukan hal-hal yang terlarang.

Ketiga, menyampaikan kebenaran kepada orang yang ia takuti. Sungguh sangat berat sekali, dikarenakan nyawa, harga dirinya bisa terancam, bahkan nyawanya bisa hilang, terutama mengkritik kepada kebijakan seorang raja yang kejam, ataupun kepada pemimpin sebuah negara yang sangat otoriter. Ia harus siap dalam menghadapi resiko apapun yang akan menimpanya.

Untuk mewujudkan tiga hal di atas dibutuhkan kearifan dan kebijaksanaan dalam berbuat dan bertindak sehingga tak menimbulkan ketimpangan di masa depan, terutama tak berlebihan dalam menjalankannya. Kadangkala kebaikan yang kita lakukan dianggap salah bahkan tak berarti oleh orang lain. Maka dari itu, konsisten dalam beramal atau istiqamah dan tak berlebih-lebihan dalam beramal sebagai faktor utama dalam meraih keberhasilan.

Kita bisa belajar dari kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan gelar Khalilullah berkat amal dan Budi baiknya. Hal ini sesuai yang dijelaskan oleh Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin,

بأي شيء اتخذك الله خليلا؟ قال: بثلاثة أشياء. أولها: ما خيرت بين أمرين إلا اخترت الذي لله على غيره. والثاني: ما اهتممت فيما تكفل الله لي في أمر رزقي. والثالث: ما تغذيت ولا تعشيت إلا مع الضيف

Dengan amal apa engkau mendapatkan gelar Khalilullah (kekasih Allah)? Lantas beliau menjawab:”dengan melakukan tiga hal. Pertama, ketika aku disuruh memilih  dua hal  maka aku lebih memilih yang berkaitan dengan Allah dibandingkan yang lain. Kedua, aku tak pernah memikirkan urusan rizki yang telah diberikan kepadaku. Ketiga, aku tak akan sarapan maupun makan malam kecuali dengan tamu.

Maka dari itu, agar mendapatkan kedudukan mulia harus seimbang (tawazun) antara yang berkaitan dengan Allah dan hak orang lain, dikala sendirian maupun banyak orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.